- ASPEBINDO menggelar ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026 di Jakarta pada Rabu, 26 Agustus 2026.
- Forum tersebut membahas implementasi biodiesel B50, pengembangan bioetanol, serta pemetaan potensi biomassa di 416 kabupaten.
- Kegiatan ini bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dan menciptakan peluang bisnis baru di sektor bioenergi.
Sumber biomassa tersebut berasal dari berbagai sektor, seperti perkebunan, pertanian, kayu, peternakan hingga pengelolaan sampah. Pemetaan diperlukan untuk mengetahui volume, kontinuitas pasokan, lokasi sumber bahan baku, kebutuhan infrastruktur serta biaya logistik.
Bursah menilai petani, koperasi dan pelaku usaha lokal perlu dilibatkan dalam rantai pasok. Dengan demikian, daerah tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan dan distribusi.
Meski demikian, pengembangan biomassa menghadapi tantangan logistik yang cukup besar. Sebaran bahan baku, perbedaan kualitas, musim produksi serta jarak menuju fasilitas pengolahan dapat menentukan layak atau tidaknya sebuah proyek.
ASPEBINDO juga memasukkan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari agenda transformasi sektor bioenergi. Melalui program Bioenergy Talent 2026, sebanyak 300 proposal mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berhasil dijaring.
Proposal tersebut mencakup inovasi B50, bioetanol E5 dan E10, Waste-to-Energy, biomassa, serta biogas dan Bio-CNG. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan inovasi, kelayakan bisnis, dampak, skalabilitas dan kemampuan presentasi.
Sebanyak 20 tim kemudian terpilih untuk mengikuti poster exhibition. Tiga tim terbaik dijadwalkan mempresentasikan gagasannya dalam Grand Final dan Awarding Bioenergy Talent 2026.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan riset dan talenta yang sesuai kebutuhan industri.