- Polisi meminta sejumlah pelajar segera meninggalkan lokasi demo di Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026).
- Petugas memberikan pendekatan persuasif dan pengertian tentang keselamatan agar para siswa mau pulang ke rumah.
- Para pelajar menyetujui ajakan tersebut dan meninggalkan area Senayan untuk mencegah potensi kericuhan.
Suara.com - Sejumlah pelajar yang mendatangi area Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat diminta untuk segera meninggalkan lokasi unjuk rasa.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah hiruk-pikuk pengamanan aksi massa demo di DPR pada Kamis (27/8/2026).
Personel kepolisian yang berjaga melakukan pendekatan persuasif agar para remaja tersebut tidak ikut serta dalam kerumunan demonstrasi yang berisiko.
"Kalian itu anak sekolah, orang tua kalian juga pasti nggak setuju kalian ikut demo-demo gini," ujar salah seorang petugas kepolisian kepada tiga pelajar yang ia ajak berinteraksi.
Petugas tersebut juga memberikan pengertian bahwa keselamatan para siswa merupakan prioritas utama di tengah situasi yang mulai memanas di titik lokasi aksi.
"Saya pun juga orang tua, saya nggak mau lihat anak saya ada di tempat demo begini," lanjut polisi tersebut.
Para pelajar yang masih mengenakan tas sekolah itu tampak terdiam dan mendengarkan wejangan dari aparat.
Polisi kemudian mengajak para siswa tersebut untuk bersepakat mengakhiri kehadiran mereka di area Senayan.
"Pulang ya? Oke ya? Setuju ya? Salaman dulu," ucap petugas tersebut sembari menjulurkan tangannya.
Satu per satu anak sekolah tersebut menyambut tangan petugas sebagai tanda kesepakatan dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, sebelum berbalik arah meninggalkan lokasi.
Langkah ini sendiri diambil pihak kepolisian demi mencegah keterlibatan anak di bawah umur dalam potensi kericuhan yang mungkin terjadi.
Kehadiran massa pelajar di area unjuk rasa memang selalu menjadi perhatian khusus dalam beberapa aksi belakangan.
Mereka diyakini ikut bertanggung jawab atas kericuhan yang sempat pecah di beberapa aksi unjuk rasa besar tahun lalu.