-
Kabut asap kebakaran lahan Indonesia memicu krisis kesehatan dan melumpuhkan sekolah di Malaysia.
-
Kasus ISPA di Malaysia melonjak 124 persen akibat paparan polusi asap beracun harian.
-
Ancaman Super El Nino diprediksi memperparah krisis kabut asap lintas batas di ASEAN.
Penderita asma mengalami peningkatan paling drastis hingga 259 persen, bergerak melonjak dari 61 kasus menjadi 219 penderita dalam periode yang sama.
Klinik kesehatan di wilayah selatan seperti Johor Bahru melaporkan kenaikan kunjungan pasien gangguan pernapasan hingga 30 persen dalam satu minggu terakhir.
Dokter Kepala Klinik ATS, A R Leenah Devi, mengonfirmasi mayoritas pasien datang dengan gejala batuk dan pilek akibat paparan partikel asap pekat.
“Kabut asap juga memperparah kondisi mereka yang sudah sakit akibat virus—kabut asap tersebut memperburuk gejala-gejalanya,” ungkap Dr. Leenah.
Tingginya paparan polutan di udara membuat permintaan masker jenis N95 dan pemurni udara di berbagai apotek meningkat tajam melebihi hari biasa.
Mengapa Fenomena El Nino Memperburuk Krisis Udara Tahun Ini?
Pemerintah Malaysia bahkan mempertimbangkan penyesuaian agenda peringatan Hari Kebangsaan pada 31 Agustus demi melindungi kesehatan 1.500 pelajar yang terlibat.
Departemen Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) turut menggelar doa khusus di tiga masjid besar untuk memohon perlindungan dari bencana polusi udara.
Pakar politik lingkungan Helena Varkkey memperingatkan potensi ancaman Super El Nino yang menciptakan kondisi jauh lebih panas dan kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Namun, tahun ini kemungkinan akan terjadi 'Super El Niño'—yang berarti kondisi menjadi jauh lebih panas dan kering—sehingga kabut asap tahun ini diperkirakan akan lebih parah, seperti yang terjadi pada tahun 2015 dan 1997,” papar Helena Varkkey.
Meteorolog Universiti Malaya, Azizan Abu Samah, menegaskan angin monsun barat daya akan terus membawa asap pembakaran lahan di Indonesia ke kawasan tetangga.
“Menangani masalah ini demi kepentingan Indonesia sendiri; ini bukan sekadar masalah eksternal. Warga Indonesia justru lebih terdampak karena konsentrasi polutan akan jauh lebih tinggi di wilayah mereka,” tegas Azizan Abu Samah.
Bagaimana Solusi Regional Dalam Menanggulangi Kebakaran Lahan Musiman?
Azizan menambahkan penanganan krisis asap beracun ini membutuhkan komitmen politis kolektif yang kuat di antara seluruh negara anggota ASEAN.
“Masalah ini bersifat lintas batas, dan penyelesaiannya masih memerlukan kerja sama yang erat di antara negara-negara ASEAN,” lanjut Azizan.
Ia juga menjelaskan kebiasaan membakar lahan masih menjadi metode paling murah dan cepat bagi industri sawit serta kertas di kawasan regional.
“Masalah ini terus berulang; satu-satunya perbedaan saat terjadi El Nino adalah intensitasnya yang jauh lebih parah. Pada periode netral saat tidak ada El Nino, lahan tidak sekering itu, sehingga kebakaran tidak sampai tak terkendali,” pungkas Azizan.
Laporan PBB (UNDRR) mengungkap 98 persen kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh faktor aktivitas manusia dan dorongan kebutuhan ekonomi lokal.
“Api adalah metode yang lebih murah dan mudah untuk membersihkan lahan untuk tanaman, khususnya kelapa sawit,” tulis laporan analitis UNDER tersebut.
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) telah mengeluarkan peringatan bahaya level 3 setelah satelit mendeteksi ratusan titik panas aktif di Kalimantan dan Sumatra.