- Pemprov DKI Jakarta dan BMKG menggelar operasi modifikasi cuaca sejak 21 Agustus 2026 untuk mengatasi polusi udara dan kekeringan.
- Tim gabungan menerbangkan pesawat Cessna Caravan sebanyak 24 sorti menggunakan teknik khusus untuk mempercepat turunnya hujan.
- Hasil evaluasi menunjukkan operasi tersebut berhasil menekan konsentrasi polutan PM2.5 di Jakarta hingga mencapai 57 persen.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan berhasil menekan kadar polusi udara di Ibu Kota hingga 57 persen.
Klaim tersebut didasarkan pada evaluasi sementara setelah operasi modifikasi cuaca digelar sejak 21 Agustus 2026. Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Jakarta pada 27 Agustus disebut langsung berdampak terhadap penurunan konsentrasi polutan PM2.5.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatakan operasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman musim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas udara Jakarta.
“Modifikasi cuaca ini dilakukan di lokasi yang telah kami pantau, termasuk titik-titik dengan angka polutan relatif tinggi,” ujar Maruli dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
Dalam operasi tersebut, tim gabungan telah menerbangkan pesawat Cessna Caravan sebanyak 24 sorti untuk menyemai awan di sejumlah titik.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan konsentrasi PM2.5 turun sekitar 50 persen. Di beberapa wilayah, penurunannya bahkan disebut mencapai 57 persen.
Namun, Maruli menegaskan hasil tersebut masih terus dievaluasi mengingat kondisi atmosfer yang dapat berubah secara dinamis.
“OMC berhasil mengoptimalkan potensi hujan di beberapa lokasi. Kami juga melihat adanya penurunan angka polutan, namun hasilnya tetap kami evaluasi karena kondisi atmosfer sangat dinamis,” katanya.
Bukan Solusi Tunggal Atasi Polusi
Pemprov DKI juga mengingatkan bahwa hujan buatan bukan solusi permanen untuk mengatasi persoalan polusi udara Jakarta. Operasi tersebut hanya menjadi salah satu langkah mitigasi di tengah kondisi kemarau dan tingginya konsentrasi polutan.
“Persoalan kualitas udara harus ditangani secara menyeluruh dan konsisten dari sumber pencemarnya,” tegas Maruli.
Dalam operasi kali ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan metode yang berbeda dari modifikasi cuaca saat musim penghujan.
Tim OMC menerapkan teknik water mist dengan campuran surfaktan untuk membantu mengikat partikel polutan di udara yang kering.
“Pada modifikasi cuaca kali ini, metode yang digunakan berbeda dengan saat musim penghujan,” ujar Sutrisno, tim supervisi OMC dari BMKG.
Selain itu, zat kalsium klorida atau CaCl2 juga digunakan untuk mempercepat proses kondensasi apabila pertumbuhan awan telah memenuhi kriteria teknis.
“Metode ini dilakukan secara bersama dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang ada,” jelas Sutrisno.
Operasi modifikasi cuaca ini akan terus dijalankan bersamaan dengan langkah pengendalian lainnya, termasuk pengawasan emisi kendaraan serta edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan air secara bijak.
Sebelumnya, lima wilayah kota administrasi Jakarta telah berstatus siaga kekeringan setelah tidak diguyur hujan selama lebih dari satu bulan.