- Banjir bandang akibat gletser runtuh di perbatasan Nepal-Tibet tewaskan ratusan orang dan ribuan hilang.
- Pasangan peziarah asal California berhasil selamat usai melompat dari bus dan menaiki gunung.
- Rombongan penyintas bertahan hidup di kandang kambing sebelum dievakuasi menggunakan helikopter penyelamat.
Suara.com - Pasangan peziarah asal San Francisco Bay Area berhasil lolos dari maut saat gelombang air bah banjir bandang setinggi puluhan meter menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Bencana dahsyat akibat runtuhnya gletser Himalaya pada Rabu lalu itu telah menewaskan hampir 600 orang serta menyebabkan sekitar 2.500 jiwa lainnya dilaporkan hilang.
Runtuhnya material gletser yang bercampur lumpur tebal pertama kali menghantam Desa Timure di Distrik Rasuwa, Nepal. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa sekitar 90 warga negaranya diperkirakan berada di antara ribuan korban yang belum ditemukan.
Anjana Raja dan pasangannya, Pattabiraman Venkatesan, berada di dalam bus pariwisata saat bencana alam tersebut mendadak datang dari arah pegunungan tinggi. Keduanya langsung menyadari ancaman bahaya ketika melihat gulungan air hitam meluncur deras layaknya tsunami.

"Saya tahu saya akan mati," ujar Anjana Raja kepada CBS News.
"Saya tahu saya akan mati."
"Tingginya sekitar 60, 70 kaki, kelihatan seperti tsunami, tapi warnanya hitam pekat," kata Venkatesan.
"... Saya bisa melihat benda monster ini datang mendekat. Saat itu saya tidak tahu apakah itu air. Jujur, saya pikir itu api, kebakaran hutan."
Raja merenggut kerah baju Venkatesan untuk menyuruhnya berlari kencang saat mereka melompat keluar dari dalam bus. Langkah cepat tersebut menyelamatkan nyawa mereka di tengah ribuan warga yang panik berebut menyelamatkan diri ke tempat tinggi.
Pasangan ini terus menaiki anak tangga terjal menuju area yang lebih tinggi demi mengindari arus deras. Selama proses penyelamatan diri tersebut, rumah-rumah warga di sekitarnya tampak hancur tersapu banjir.
"Di sepanjang jalan, Anda tahu, rumah-rumah bermunculan lalu roboh, air membawanya jatuh," kata Venkatesan.
Jeritan histeris dari warga yang terseret arus bawah menambah suasana mencekam di area pemukiman lereng gunung. Raja menyaksikan langsung bagaimana dahsyatnya kehancuran yang terjadi tepat di depan matanya.
"Saya melihat kematian tepat di depan mata saya," kata Raja.
Seorang pemandu wisata berhasil mengarahkan mereka menuju dataran rata di puncak gunung terdekat. Medan pendakian darurat tersebut sangat berbahaya dan menguras seluruh tenaga mereka.
"Sangat tinggi di atas sana, saya bahkan tidak tahu bagaimana kami bisa memanjatnya," kata Raja.
"Itu sungguh sangat berat."