- InJourney Airports menggandeng ELSA Business pada 2024 untuk melatih petugas sembilan bandara utama menggunakan kecerdasan buatan.
- Pelatihan berbasis kecerdasan buatan ini memberikan simulasi situasi nyata guna mengatasi kendala bahasa dengan wisatawan mancanegara.
- Langkah strategis tersebut bertujuan meningkatkan kualitas layanan kelas dunia dan reputasi internasional bandara di Indonesia.
Suara.com - Mobilitas masyarakat dunia pascapandemi memicu lonjakan arus penumpang internasional di berbagai bandar udara utama.
Pemulihan pariwisata global tersebut mendorong industri aviasi untuk meningkatkan standar layanan demi meminimalkan hambatan komunikasi dengan pelancong asing.
Untuk mengatasi kendala bahasa dan perbedaan budaya, sektor penerbangan mulai beralih dari metode pelatihan konvensional dengan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) sebagai pelatih virtual bagi staf garda terdepan.
Indonesia pun tengah beradaptasi dengan tren tersebut untuk mengakomodasi meningkatnya kedatangan wisatawan mancanegara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2024 mencapai 13,9 juta. Angka tersebut meningkat 19,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mendekati level prapandemi.
Tingkatkan Standar Layanan Kelas Dunia
![InJourney Airports memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi petugas demi mengantisipasi lonjakan wisatawan asing. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/31/70846-injourney-airports.jpg)
Mengantisipasi momentum tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports mengambil langkah strategis untuk meningkatkan daya saing layanan bandara Indonesia di kancah global.
Perusahaan secara resmi menggandeng ELSA Business, platform teknologi pendidikan internasional yang dikenal dengan teknologi pengenalan suaranya.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program pelatihan bahasa berbasis AI yang ditujukan bagi unit layanan pelanggan di sembilan bandara utama Indonesia.
"Transformasi layanan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga kualitas interaksi yang diberikan setiap karyawan kepada pelanggan," ujar Learning and Development Group Head InJourney Airports, Hary Budi Waluyo.
Hary menegaskan, penguatan kompetensi komunikasi tersebut mendukung misi perusahaan dalam mewujudkan kualitas layanan bandara berstandar kelas dunia.
Simulasi Situasi Nyata dengan AI
Melalui sistem pembelajaran tersebut, petugas layanan garda terdepan akan mengikuti simulasi interaksi berbasis AI yang dirancang menyerupai situasi nyata di lapangan.
Pelatih virtual itu akan membantu meningkatkan kemampuan staf dalam menghadapi berbagai situasi, mulai dari memberikan instruksi kepada penumpang internasional hingga menangani keluhan melalui proses pemulihan layanan.
Tidak hanya menyasar pekerja operasional, karyawan di fungsi bisnis korporat juga mempelajari modul komunikasi profesional untuk mendukung negosiasi di lingkungan kerja lintas negara.
Fleksibilitas teknologi berbasis perangkat pintar memungkinkan pekerja belajar secara mandiri di sela waktu kerja tanpa mengganggu kelancaran operasional bandara.
Vice President ELSA Business, Will Polese, mengatakan kelancaran komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk pengalaman pelanggan berkualitas tinggi.
"Di industri aviasi, setiap interaksi berkontribusi terhadap pengalaman pelanggan dan reputasi perusahaan," ujar Polese.
Menurut dia, kemampuan berbahasa Inggris kini bukan sekadar keterampilan individu, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas layanan InJourney Airports di mata dunia.
Investasi untuk Reputasi dan Kualitas Layanan
Platform tersebut juga menyediakan dasbor analitik yang memungkinkan manajemen memantau perkembangan dan tingkat keterlibatan staf secara lebih terukur.
Data tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan memastikan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas layanan.
Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan SDM sendiri menjadi salah satu tren yang semakin berkembang di industri penerbangan global.
Teknologi tersebut diminati karena menawarkan proses pembelajaran yang lebih terukur, fleksibel, efisien, dan dapat diterapkan dalam skala besar dibandingkan metode pelatihan bahasa konvensional.