-
Survei pemerintah Jepang mencatat 35 persen pemuda enggan menikah karena masalah ekonomi.
-
Mayoritas generasi muda Jepang lebih memprioritaskan waktu luang dan hobi ketimbang menikah.
-
Perempuan Jepang menyoroti ketimpangan beban urusan rumah tangga sebagai kendala utama pernikahan.
Suara.com - Sebanyak 35,1 persen generasi muda atau gen z yang belum berpasangan di Jepang secara tegas memutuskan untuk tidak akan pernah berumah tangga. Sikap skeptis terhadap lembaga perkawinan ini utamanya dipicu oleh kecemasan finansial serta pergeseran prioritas hidup yang makin mengagungkan kebebasan personal.
Data mengejutkan tersebut menguatkan indikasi perubahan mendasar pada tatanan demografi Negeri Sakura. Banyak pemuda kini menilai bahwa stabilitas ekonomi serta fleksibilitas gaya hidup jauh lebih berharga ketimbang membina keluarga baru.
Keputusan mengesampingkan pernikahan ini berakar langsung pada prioritas pribadi masyarakat modern yang kian bergeser. Lebih dari separuh responden, atau tepatnya 50,8 persen, mengaku lebih memilih memfokuskan energi mereka untuk menikmati kebebasan waktu luang serta menyalurkan hobi.
![Para pejalan kaki memakai masker, di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Sabtu (15/1/2022). [REUTERS/Issei Kato/hp/cfo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/02/17/66178-warga-jepang-memakai-masker.jpg)
Mengapa anak muda di Jepang makin enggan melangkah ke jenjang pernikahan?
Dirangkum dari Kyodo, faktor ekonomi menduduki posisi puncak sebagai penghambat utama niat membangun rumah tangga. Sebanyak 40 persen responden menyoroti ketidakpastian pendapatan yang dinilai belum memadai untuk menjamin kehidupan keluarga yang layak dan stabil.
Selain masalah penghasilan, kekhawatiran akan sirnanya ruang gerak pribadi juga membayangi pikiran para pemuda. Sebanyak 34,4 persen di antara mereka khawatir masa lajang yang diisi dengan hobi serta waktu santai akan terenggut setelah menikah.
Di samping itu, kendala pencarian pasangan ideal dan ketersediaan hunian turut memperkeruh situasi. Sebanyak 32,6 persen responden mengaku belum menemukan sosok yang pas, sementara 30,3 persen lainnya terkendala tingginya biaya tempat tinggal.
Bagaimana kecenderungan hambatan ini jika dilihat dari faktor usia dan gender?
Perjalanan usia ternyata makin memperkecil peluang seseorang untuk menemukan pasangan hidup yang sesuai kriteria. Hasil analisis memperlihatkan bahwa hambatan berupa ketiadaan calon pasangan yang cocok cenderung makin dominan seiring bertambahnya umur seseorang.
Di sisi lain, perspektif gender memperlihatkan adanya beban ketimpangan peran domestik yang dirasakan oleh kaum perempuan. Kelompok perempuan jauh lebih banyak mengeluhkan ancaman ketidakadilan dalam pembagian tugas rumah tangga serta pengasuhan anak kelak.
Meskipun demikian, harapan untuk membina keluarga sebenarnya belum sepenuhnya padam di kalangan pemuda setempat. Terdapat 37,5 persen responden yang masih menyimpan asa untuk menikah pada masa mendatang, sementara 10,3 persen menargetkan pernikahan dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Fenomena melandainya angka pernikahan dan makin maraknya penundaan usia nikah mendorong pemerintah bertindak tegas. Riset masif yang diinisiasi oleh Badan Anak dan Keluarga Jepang sejak 20 Mei ini bertujuan memetakan dinamika psikologis warga berusia 15 hingga 39 tahun.
Pengumpulan data melalui platform digital yang menyaring sekitar 68.000 sampel sahih ini dijadwalkan merampungkan seluruh tahapan rekapitulasi pada tahun fiskal berjalan hingga Maret 2027. Pemerintah Jepang bakal memanfaatkan temuan komprehensif ini sebagai pijakan utama dalam merumuskan strategi serta kebijakan negara di masa depan.