- Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak Badan Gizi Nasional bertanggung jawab penuh atas keracunan ratusan santri Sidoarjo.
- Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis pada Selasa.
- Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memastikan seluruh korban dirawat di tiga rumah sakit dan membantah adanya isu korban meninggal dunia.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, menanggapi serius insiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026).
Yahya mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan evaluasi total dan bertanggung jawab penuh atas kejadian ini.
Yahya menyampaikan keprihatinan mendalam atas tren kasus keracunan yang belakangan ini meningkat di berbagai wilayah. Ia menegaskan agar seluruh biaya perawatan santri yang menjadi korban segera ditanggung pemerintah.
"Pertama, saya menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas terjadinya kasus keracunan di berbagai tempat yang meningkat akhir-akhir ini. Kedua, saya minta korban keracunan di tangani dengan baik dan biayanya ditanggung oleh BGN," ujar Yahya kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Menurut Yahya, insiden berulang ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem manajemen dapur dalam program MBG belum merata dan masih memiliki celah besar.
"Ketiga, masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan tata kelola MBG masih perlu diperbaiki. Walaupun Kepala BGN yang baru sudah melakukan perbaikan dan tindakan tegas tapi belum menyentuh seluruh dapur yang ada. Keempat, saya minta BGN melakukan investigasi secara tuntas dan terbuka untuk mengetahui penyebab kasus keracunan dan membenahi tata kelola dengan detail dan terinci," tuturnya.
Meski mengapresiasi langkah BGN yang telah menutup dapur terkait, Yahya menilai tindakan reaktif saja tidak cukup. Ia menyoroti lemahnya sumber daya manusia (SDM) dan kelalaian di tingkat operasional dapur.
"Kelima, saya menghargai tindakan tegas BGN yang menutup sementara dapur yang menyebabkan keracunan dan mencopot kepala dapurnya. Tindakan tegas tersebut perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, pengawasan dan sdm pengelola dapur. Keenam, sebagian besar kasus keracunan terjadi akibat kelalaian pengelolaan makanan yang menjadi tanggung jawab kepala dapur. Terkait dengan masalah tersebut saya minta BGN melakukan peningkatan kapasitas kepala dapur, supaya lebih profesional, berintegritas dan penuh kedisiplinan," tegas Yahya.
Sebagai langkah preventif ke depan, legislator tersebut meminta BGN untuk memperketat pengawasan melalui pembentukan Satgas MBG yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPOM hingga peran orang tua murid.
"Ketujuh, saya minta BGN meningkatkan pengawasan secara berkala dan presisi terhadap setiap dapur dengan membentuk satgas MBG dengan melibatkan BPOM, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah dan orang tua murid. Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN," pungkasnya.
Sebelumnya, ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo dirawat akibat dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis pada Selasa (1/9/2026).
Bupati Sidoarjo H Subandi memastikan seluruh korban ditangani di tiga rumah sakit dan membantah adanya isu korban meninggal dunia.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berencana memeriksa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kali Tengah untuk menelusuri penyebab gangguan kesehatan tersebut.