- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami peningkatan aktivitas erupsi dan berstatus siaga sejak Jumat, 4 Juni 2026.
- BMKG mencatat sebaran abu vulkanik mencapai dua klaster ketinggian dan berdampak hingga Jakarta, Banten, serta Bengkulu.
- Klaster pertama bergerak ke arah Timur Laut-Selatan, sedangkan klaster kedua menjangkau wilayah barat hingga ketinggian 50.000 kaki.
Suara.com - Meningkatnya aktifitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah berlangsung sejak Jumat, (4/6/2026) lalu mengakibatkan sejumlah daerah terdampak sebaran abu vulkanik.
Bahkan sebaran debu abu vulkanik itu meluas hingga beberapa titik di Jakarta dan Jawa Barat hingga Bengkulu.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per Minggu, (6/9/2024), abu vulkanik Anak Krakatau menyebar hingga ke dua arah.
Data yang diperoleh dari hasil penelitian PVMBG dan VAAC Darwin itu menjabarkan ada dua klaster penyebaran abu vulkanik dari erupsi gunung yang berada di Selat Sunda itu.
Klaster penyebaran pertama hingga mencapai ketinggian 20.000 kaki yang bergerak ke arah Timur Laut-Selatan.
Klaster ini menyebabkan sejumlah wilayah di Banten, Jakarta hingga Jawa Barat terkena imbasnya.
"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 ft teramati ke Timur Laut-Selatan mencakup sebagaian DK Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan sekitarnya," kata BMKG melalui keterangan rilis di situsnya.
Sedangkan itu, untuk klaster penyebaran abu vulkankik yang kedua memiliki ketinggian hingga mencapai 50ribu kaki dan bergerak ke arah Barat Daya-Barat Laut.
Sejumlah titik di Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Selatan Selat Sunda, bagian barat Samudera Hindia dan Banten menjadi arah penyebaran debu vulkanik pada klaster ini.
Diketahui sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktifitas vulkanik sejak Jumat, (4/6/2026) lalu. Hingga saat ini, gunung yang berada di Selat Sunda itu masih berstatus siaga atau level III. (Reporter: Alif Bintang)