- Sindikat peretas global kini mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia melalui taktik rekayasa sosial untuk membobol keamanan.
- Akar Inti Enterprise menggelar kampanye kesadaran berjudul "Now You See: Now You Aware" untuk meningkatkan literasi digital.
- Dr. Wani Sabu menyatakan bahwa 99 persen kasus pembobolan perbankan bermula dari kelengahan individu akibat rekayasa sosial.
Suara.com - Lanskap kejahatan siber internasional tengah mengalami pergeseran. Sindikat peretas global tak lagi sekadar berupaya membobol sistem pertahanan komputer.
Tren ancaman digital lintas negara kini justru menjadikan kelemahan psikologis manusia sebagai celah utama melalui taktik manipulatif yang dikenal sebagai rekayasa sosial atau social engineering.
Menghadapi disrupsi keamanan siber berskala global ini, industri teknologi di berbagai negara mulai menyadari bahwa pertahanan terkuat bukan hanya perangkat lunak, melainkan juga kesadaran pengguna.
Fenomena kerentanan manusia di tengah pesatnya digitalisasi tersebut direspons serius oleh Akar Inti Enterprise, perusahaan penyedia solusi teknologi informasi berbasis di Indonesia.
Sebagai integrator sistem kelas bisnis, perusahaan ini menggelar kampanye kesadaran bertajuk "Now You See: Now You Aware" bagi para pemangku kepentingan industri.
Krisis Kesadaran di Tengah Gempuran Digital
![Ilustrasi serangan siber dengan kecerdasan buatan. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/12/69475-ilustrasi-serangan-siber-dengan-kecerdasan-buatan.jpg)
CEO Akar Inti Enterprise, Astari Kartika Hadinata, menggarisbawahi bahwa lonjakan kejahatan virtual dalam beberapa tahun terakhir belum diimbangi dengan literasi digital masyarakat.
"Kejahatan siber meningkat pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, tetapi kesadaran atas ancaman tersebut belum tinggi," ujar Astari Kartika Hadinata.
Berbagai kajian keamanan siber global menunjukkan bahwa serangan modern semakin terpersonalisasi untuk menyerang emosi korban, baik melalui rasa cemas maupun euforia sesaat.
Hal ini diamini Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA, Dr. Wani Sabu, yang membeberkan fakta mengenai modus operandi penipuan di sektor keuangan.
Di sektor perbankan modern, nyaris 99 persen kasus pembobolan ternyata bermula dari rekayasa sosial yang menargetkan kelengahan individu.
Ancaman Sindikat Penipuan Perbankan
Sindikat kejahatan lintas batas kerap menyamar sebagai layanan pelanggan bank atau instansi resmi untuk menebar jebakan berupa tautan palsu hingga pengumuman undian fiktif.
"Kejahatan siber yang menyasar melalui social engineering memang masih menjadi masalah krusial di Indonesia, terutama untuk beberapa kalangan," kata Wani.
Wani menegaskan bahwa rasa takut tertinggal tren atau FOMO sering kali membuat calon korban bertindak gegabah tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
"Banyak personal yang jarang periksa ulang apabila ada orang asing mengontak menawarkan hadiah, tautan tidak jelas," tegasnya.
"Biasakan jangan FOMO, jangan mengunduh aplikasi yang tidak perlu, pada intinya harus periksa ulang," tambah Wani memberikan peringatan kewaspadaan.
Membangun Budaya Sadar Keamanan
Menyadari kompleksitas ancaman siber internasional yang kini membidik sisi manusia, Akar Inti Enterprise memosisikan diri lebih dari sekadar penjual teknologi kelembagaan.
"Ancaman siber hari ini tidak lagi hanya menyerang sistem, tetapi manusianya," ungkap Astari Kartika mengamati tren kejahatan global.
Ia menyadari bahwa secanggih apa pun tembok api pertahanan yang dibangun sebuah korporasi, tingkat kewaspadaan tiap individu tetap menjadi lapis pelindung penentu.
"Secanggih apa pun teknologi yang kita bangun, kesadaran setiap individu tetap menjadi kunci utama," tegasnya.
"Lewat 'Now You See: Now You Aware', kami ingin mengajak semua orang untuk lebih peka, karena langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi pelindung di kemudian hari," pungkas Astari.
Mengadopsi Pola Pikir Peretas
Acara edukasi strategis tersebut turut menghadirkan Founder Orang Siber Indonesia, Dendi Zuckergates, yang mengupas cara berpikir seorang peretas untuk membangun mentalitas bertahan.
Di tengah kampanye kesadaran keamanan tersebut, penyelenggara juga memperkenalkan produk inovatif bernama Mokio yang dirancang untuk mempermudah proses pengujian sistem pemrograman (API) tanpa perlu menulis kode rumit.
Maraknya serangan social engineering di kancah global menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus selalu diiringi edukasi keamanan.
Sindikat peretas internasional kini beroperasi layaknya korporasi raksasa dengan mengeksploitasi kelengahan manusia sebagai jalan pintas untuk mencuri data dan meraup keuntungan di seluruh dunia.