- Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Vladivostok, Rusia, pada 2026 untuk menghadiri Eastern Economic Forum.
- Kedua negara sepakat memperluas kerja sama energi nuklir, maritim, serta menargetkan perdagangan sepuluh miliar dolar AS.
- Lemigas Indonesia menandatangani perjanjian pembelian seratus lima puluh juta barel minyak mentah dari Rusia.
Suara.com - Hubungan bilateral antara Jakarta dan Moskow kini memasuki babak baru yang semakin erat dan strategis.
Langkah nyata ini terlihat jelas saat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan penting ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok.
Sebagai informasi, EEF atau Forum Ekonomi Timur adalah forum internasional tahunan yang diadakan oleh Rusia untuk membahas kerja sama ekonomi dan mendorong investasi, khususnya di wilayah timur Rusia.
Kunjungan ini merupakan lawatan kedua Prabowo ke Rusia sepanjang tahun 2026, sekaligus menandai komunikasi tingkat tinggi keenam kalinya antara kedua pemimpin negara tersebut.
Kerja Sama Bidang Pertanian hingga Nuklir
![Presiden Prabowo Subianto (kelima kiri) bersama sejumlah Menteri kabinet Merah Putih melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (ketiga kanan) di sela-sela Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). [ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis Jr/gp/agr]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/59766-eastern-economic-forum-eff-pertemuan-prabowo-dan-putin-prabowo-subianto-dan-vladimir-putin.jpg)
Indonesia Kantongi Kerja Sama Pengembangan Teknologi Energi
Dalam forum bergengsi itu, Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan. Di sela-sela acara, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Presiden Prabowo.
Putin secara terbuka menegaskan posisi krusial Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
"Indonesia adalah salah satu mitra utama Rusia di Asia Tenggara. Kita telah dipersatukan oleh ikatan persahabatan selama bertahun-tahun," ungkap Putin, dikutip dari Sputnik Globe.
Tidak sekadar bernostalgia tentang persahabatan lama, pertemuan bilateral ini juga melahirkan berbagai rencana kerja sama konkret yang berfokus pada masa depan.
Salah satu sektor yang paling mencuri perhatian adalah bidang energi, khususnya energi nuklir. Putin memaparkan bahwa kolaborasi kedua negara saat ini sudah sangat luas dan mencakup berbagai industri penting.
"Kerja sama kita mencakup bidang pertanian, galangan kapal, teknologi informasi, dan energi, termasuk energi nuklir," tegas Putin.
Energi nuklir di sini merujuk pada teknologi pemanfaatan energi dari reaksi atom yang dapat diolah secara efisien menjadi sumber listrik.
Bagi Indonesia, penjajakan teknologi canggih ini menjadi peluang besar untuk memperkuat pasokan energi bersih nasional di masa depan.
Menyambut hal tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat konektivitas (keterhubungan wilayah) dan kerja sama di sektor maritim atau kelautan, mengingat kedua negara sama-sama berada di kawasan Pasifik yang sangat bergantung pada jalur laut.

Pertemuan Indonesia dengan Rusia Sebelumnya
Ambisi kerja sama ini tidak berhenti pada diskusi teknologi masa depan saja. Di sektor perdagangan riil, Indonesia dan Rusia juga menargetkan lompatan besar.
Juni lalu, Didit Ratam, Ketua Komite Kerja Sama dengan Rusia dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengungkapkan bahwa Indonesia berharap bisa melipatgandakan nilai perdagangan bilateral dengan Rusia hingga mencapai 10 miliar dolar AS per tahun.
Saat ini, nilai perdagangan kedua negara berada di kisaran 5,1 miliar dolar AS per tahun. Padahal, grafik perdagangan bilateral sebenarnya sudah menunjukkan tren positif dengan kenaikan lebih dari 12 persen pada tahun 2025.
Untuk mencapai target fantastis 10 miliar dolar AS tersebut, kedua pihak mengandalkan rencana penandatanganan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Eurasia.
Perjanjian perdagangan bebas ini nantinya akan memangkas tarif atau bea masuk (pajak tambahan untuk barang impor) hingga hampir 90 persen jenis barang yang diperdagangkan, sehingga produk dari kedua negara bisa mengalir lebih lancar dengan harga yang lebih murah.

Impor Minyak Mentah dari Rusia
Sebagai bagian dari upaya menggandakan nilai perdagangan tersebut, kerja sama di sektor energi fosil, khususnya minyak mentah, kini langsung digeber. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa Indonesia sangat siap untuk meningkatkan volume impor minyak mentah dari Rusia.
Kesepakatan pasokan minyak ini bahkan telah resmi ditandatangani oleh Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi), yang merupakan pusat penelitian dan pengujian milik pemerintah di bawah Kementerian ESDM.
Perjanjian bisnis ini merupakan tindak lanjut konkret dari kesepahaman tingkat tinggi yang sebelumnya telah disepakati langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin.
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membeli 150 juta barel minyak mentah Rusia. Pembelian dalam skala besar ini akan direalisasikan dalam beberapa tahap pengiriman di sepanjang tahun 2026.
Pihak Kementerian ESDM juga memastikan bahwa pasokan minyak dari Rusia ini akan terus berjalan sesuai rencana, meskipun ketegangan konflik di Timur Tengah sempat mereda dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz telah dibuka kembali.
Langkah taktis ini diambil demi mengamankan ketersediaan energi di dalam negeri sekaligus memanfaatkan harga minyak yang kompetitif melalui kemitraan strategis dengan Rusia.