- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi sejak Jumat, 4 September 2026.
- Abu vulkanik erupsi tersebut menyelimuti wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya mulai Minggu, 6 September 2026.
- Paparan abu vulkanik mengotori kendaraan warga serta memicu keluhan gangguan kesehatan berupa batuk.
Suara.com - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai terasa di Jakarta. Sejumlah warga mengeluhkan debu halus yang membuat mobil dan rumah cepat kotor, bahkan mulai memicu batuk saat beraktivitas di luar ruangan.
Sebaran abu vulkanik mulai menyelimuti ruang udara DKI Jakarta sejak Minggu (6/9/2026), sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Di Jakarta Selatan, keluhan warga mulai muncul seiring paparan abu vulkanik.
Raswid, seorang pengemudi taksi online, mengaku harus berulang kali membersihkan bagian luar mobilnya yang tertutup material abu.
"Saya udah berapa kali ini bersihin kaca mobil," keluhnya saat berbincang dengan Suara.com di sela aktivitasnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
Keluhan serupa disampaikan Nina, warga Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia mengaku harus berkali-kali menyapu teras rumah karena kembali dipenuhi debu.
"Jadi harus sapuin teras rumah terus ini. Ada kali barang sepuluh kali bolak-balik sapuin biar nggak berdebu," tuturnya.
Tak hanya soal kebersihan, paparan abu juga mulai dirasakan pada kesehatan warga.
Fia, warga Pondok Labu lainnya, mengaku mulai menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah setelah merasakan gangguan pada saluran pernapasan.
"Mulai berasa soalnya di pernapasan, bikin batuk," ucapnya.
Imbauan untuk Warga
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan sejumlah imbauan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Warga diminta menggunakan masker ketika keluar rumah. Abu yang mengendap juga disarankan dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan agar partikelnya tidak kembali beterbangan ke udara.
Pemprov DKI juga mengimbau kelompok rentan, seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia, mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara terdampak abu vulkanik.
"Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan yang proporsional. Ikuti informasi resmi, lindungi diri dan keluarga, tetap tenang, tetap waspada," tegas Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat.