- Ketua Majelis Kehormatan PDPI Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahaya kesehatan dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
- Partikel halus abu vulkanik berukuran PM2.5 dapat masuk ke paru-paru dan memicu berbagai gangguan pernapasan manusia.
- Masyarakat diimbau menggunakan masker, memakai kacamata pelindung, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.
Suara.com - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak sekadar mengotori lingkungan. Partikel berukuran sangat kecil dapat terhirup hingga masuk ke bagian terdalam paru-paru, bahkan mencapai alveolus yang menjadi tempat pertukaran gas.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik tersebut.
Tjandra menjelaskan abu vulkanik merupakan campuran mineral, bebatuan, dan partikel kaca hasil letusan gunung berapi. Sebagian partikelnya dapat berukuran sangat kecil atau Particulate Matter 2.5 (PM2.5), sehingga mampu mencapai bagian terdalam paru-paru.
"Ukuran abu atau debu ini dapat saja sangat kecil, yang dikenal sebagai Particulate Matter 2.5 (PM 2.5) yang dapat masuk ke bagian terkecil paru yaitu alveolus tempat terjadinya pertukaran gas untuk tubuh manusia," kata Tjandra dikutip, Senin (7/9/2026).
Lima Ancaman Kesehatan
Paparan abu vulkanik paling langsung berdampak pada sistem pernapasan.
Menurut Tjandra, abu dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, gangguan menyerupai bronkitis, hingga memperburuk penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
"Setidaknya ada lima dampak kesehatan dari abu vulkanik ini. Pertama tentu gangguan paru dan pernapasan," ungkapnya.
Selain paru-paru, abu vulkanik juga dapat mengiritasi kulit dan mata hingga menyebabkan peradangan serta konjungtivitis.
Abu yang mencemari air dan makanan berpotensi menimbulkan gangguan saluran cerna. Sementara gas seperti sulfur dioksida dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, hingga gangguan pernapasan.
Dalam kondisi ekstrem, paparan abu dalam jumlah sangat banyak, terutama bagi orang yang berada dekat dengan lokasi letusan, bahkan dapat menyebabkan asfiksia.
"Pada keadaan ekstrem di mana kadar abu yang terhisap sangat banyak sekali, utamanya pada mereka yang berada amat dekat dengan lokasi letusan, maka dapat saja terjadi keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik," tuturnya.
![Abu vulkanik yang terbawa hingga wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), membuat sejumlah kendaraan warga tertutup endapan abu cukup tebal. [Dok @txtdrjkt]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/06/37387-abu-vulkanik-anak-krakatau.jpg)
Cara Mencegah Paparan Abu
Tjandra meminta masyarakat terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan lembaga terkait mengenai perkembangan erupsi serta arah sebaran abu vulkanik.
Pemerintah juga dinilai perlu memberikan informasi terbaru secara berkala agar masyarakat dapat menentukan langkah perlindungan sesuai kondisi di wilayah masing-masing.