-
Status darurat kabut asap di Distrik Serian, Sarawak, resmi dicabut usai polusi udara membaik.
-
Indeks Pencemaran Udara di Serian turun ke angka 222 setelah sempat menembus level 519.
-
Pemerintah Malaysia mengimbau warga tetap membatasi aktivitas luar ruangan karena udara belum sepenuhnya pulih.
Suara.com - Pemerintah Malaysia resmi menghentikan status darurat kabut asap di Distrik Serian, Sarawak, setelah level pencemaran kebakaran hutan udara turun dari tingkat sangat berbahaya. Keputusan ini diambil setelah indeks polutan membaik, meskipun ancaman kesehatan bagi warga sekitar belum sepenuhnya hilang.
Langkah pencabutan ini menjadi titik balik penting bagi aktivitas warga setempat setelah sebelumnya terisolasi oleh polusi udara pekat. Sultan Ibrahim Sultan Iskandar menyetujui langkah tersebut usai menerima masukan teknis dari Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Premier Sarawak Abang Johari Openg.
Penurunan dramatis angka pencemaran di lapangan menjadi alasan utama di balik penghentian kebijakan darurat ini. Data Departemen Lingkungan Hidup menunjukkan Indeks Pencemaran Udara (IPU) di Serian merosot ke angka 222 pada Senin, setelah sempat menyentuh level kritis 519 pada Jumat lalu.

Otoritas Malaysia menetapkan bahwa ambang batas IPU di atas 300 tergolong sangat berbahaya, sedangkan angka 500 menjadi syarat mutlak penetapan status darurat. Meskipun angka tersebut telah turun signifikan, pemerintah mengingatkan bahwa pemulihan kualitas udara di wilayah terdampak belum berjalan sepenuhnya.
Warga di beberapa wilayah kunci diimbau untuk tetap waspada mengingat paparan partikel asap masih berisiko mengganggu pernapasan. Kantor Perdana Menteri menegaskan bahwa tingkat pencemaran di Distrik Serian dan Samarahan masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.
"Pemerintah Federal dan pemerintah negeri Sarawak akan terus memantau situasi secara ketat, dan warga di daerah terdampak diimbau untuk membatasi kegiatan di luar ruangan serta selalu mematuhi petunjuk dari pihak berwenang," tulis Kantor Perdana Menteri Malaysia dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNA, Senin (7/9/2026).
Krisis lingkungan ini berawal dari maraknya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan, Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Sarawak. Kepulan asap tebal dari kebakaran tersebut terbawa angin hingga melintasi batas negara dan mengepul pekat di langit Malaysia sejak akhir pekan lalu.
Lonjakan polusi yang ekstrem membuat pemerintah Malaysia mengambil tindakan cepat dengan menetapkan keadaan darurat pada Jumat demi keselamatan publik. Tingginya kadar racun di udara sempat memaksa otoritas pendidikan menghentikan kegiatan belajar mengajar dan menutup sekolah di beberapa kawasan Sarawak.