Kartu Truf Korporasi Asing Tak Bisa Selamatkan Wajah Indonesia dari Tudingan Tak Becus Kelola Hutan

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 07 September 2026 | 13:58 WIB
Kartu Truf Korporasi Asing Tak Bisa Selamatkan Wajah Indonesia dari Tudingan Tak Becus Kelola Hutan
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Masjid Baro, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (1/9/2029). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom]
baca 10 detik
  • Ade Marup Wirasenjaya dari UMY menyatakan protes negara tetangga atas kabut asap karhutla di Indonesia pada Senin (7/9/2026) dinilai valid.
  • Pemerintah Indonesia dinilai gagal merespons krisis ekologi secara terstruktur dan hanya berdalih bencana alam, sehingga mengancam reputasi diplomatik regional.
  • Pembiaran karhutla berulang berdampak merusak legitimasi politik dalam negeri serta menguras kepercayaan warga Sumatra dan Kalimantan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo.

Suara.com - Protes negara serumpun terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dinilai valid dan tidak bisa lagi dijawab pemerintah hanya dengan alasan bencana alam.

Pemerintah Indonesia perlu menjelaskan persoalan secara struktural, termasuk mengevaluasi kebijakan pembangunan dan tata kelola hutan.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional UMY, Ade Marup Wirasenjaya, menuturkan jika hal itu tak dilakukan maka dapat mengancam reputasi diplomatik negara.

Indonesia berada dalam bahaya besar untuk dicap sebagai negara yang tidak becus dan tidak kompeten oleh negara-negara tetangga akibat kegagalan berulang dalam menangani krisis ekologi tersebut.

"Setidak-tidaknya Indonesia akan dianggap tidak becus gitu loh. Tidak punya pemihakan terhadap hutan, hanya pro terhadap... seolah-olah permisif terhadap para pembalak," kata Ade kepada Suara.com, Senin (7/9/2026).

Menurut Ade, pemerintah sejauh ini belum memberikan respons yang terstruktur terhadap persoalan tersebut. Penjelasan yang muncul justru cenderung berupa pembenaran bahwa asap dipengaruhi angin atau faktor bencana, tanpa membongkar akar persoalan kebakaran hutan.

"Sejauh ini belum ada respon yang sifatnya terstruktur menurut saya. Hanya membangun apologi, membangun semacam permakluman bahwa itu adalah bencana, bahwa itu karena angin, dan seterusnya," tandasnya.

Padahal, di tingkat regional telah ada komitmen ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) untuk menangani krisis kabut asap secara kolektif.

Namun, tidak adanya tindakan tegas dan penataan ulang izin konsesi di dalam negeri membuat instrumen diplomasi tersebut kehilangan taji dan meruntuhkan kredibilitas Indonesia di kawasan.

baca juga
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Masjid Baro, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (1/9/2029). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom]
Foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Masjid Baro, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (1/9/2029). [ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom]

Meskipun demikian, kata Ade, pemerintah dinilai masih memiliki semacam 'kartu truf' diplomasi yang merujuk pada fakta bahwa korporasi yang diduga terlibat dalam karhutla tidak sepenuhnya berasal dari dalam negeri, melainkan ada yang bermarkas di negara tetangga.

"Tetapi kan itu cerita yang lain. Pangkal persoalannya menurut saya ada dalam komitmen dan politik pembangunan ekologi, politik pembangunan hutan yang harusnya sudah harus direvisi sejak kejadian seperti ini berulang terus," tegasnya.

Selain merusak kredibilitas di tingkat ASEAN, pembiaran bencana asap berulang turut mengancam legitimasi politik di dalam negeri. Warga di Sumatra dan Kalimantan yang menghirup asap paling pekat berpotensi kehilangan kepercayaan secara masif terhadap pemerintahan Presiden Prabowo.

"Lebih mengkhawatirkan (warga dalam negeri) karena pertama dari sisi jarak dekat dan dari sisi intensitas asapnya juga paling terdampak. Jadi ini kan bisa mengurangi kepercayaan atau menguras legitimasi terhadap rezim Prabowo," ujarnya.

Jika pemerintah tidak segera membenahi sistem tata kelola hutan secara menyeluruh, krisis ini dipastikan bakal terus memicu keraguan publik terhadap kapasitas pemerintah.

"Dan lagi-lagi nanti pasti akan panjang dampaknya, nanti akan naik lagi suara-suara tentang kapabilitas kementeriannya misalnya, kapabilitas penataan hutannya, kapabilitas macam-macam. Jadi ini akan panjang kalau tidak segera diatasi secara sistematis," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bencana Beruntun Hantam RI, Menkeu Ungkap Dampaknya ke Ekonomi

Bencana Beruntun Hantam RI, Menkeu Ungkap Dampaknya ke Ekonomi

Bisnis | Senin, 07 September 2026 | 13:54 WIB

Inalum Amankan Operasional Smelter Alumina dari Ancaman Karhutla Mempawah

Inalum Amankan Operasional Smelter Alumina dari Ancaman Karhutla Mempawah

Bisnis | Senin, 07 September 2026 | 13:45 WIB

Malaysia Terdampak Karhutla Indonesia Sampai Harus Bikin Hujan Buatan

Malaysia Terdampak Karhutla Indonesia Sampai Harus Bikin Hujan Buatan

News | Senin, 07 September 2026 | 13:42 WIB

Karhutla Gunung Semeru Padam, Lebih dari 3.000 Hektare Area Terdampak

Karhutla Gunung Semeru Padam, Lebih dari 3.000 Hektare Area Terdampak

News | Minggu, 06 September 2026 | 20:56 WIB

Darurat Karhutla: Komnas HAM Ingatkan Kewajiban Negara Lindungi Korban Asap

Darurat Karhutla: Komnas HAM Ingatkan Kewajiban Negara Lindungi Korban Asap

Video | Minggu, 06 September 2026 | 21:05 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, PM Malaysia Titip Pesan ke Jokowi Ucap Solidaritas

Gunung Anak Krakatau Erupsi, PM Malaysia Titip Pesan ke Jokowi Ucap Solidaritas

News | Minggu, 06 September 2026 | 16:06 WIB

Karhutla Kalimantan Disorot Internasional, NASA: Terus Terbakar hingga Musim Hujan

Karhutla Kalimantan Disorot Internasional, NASA: Terus Terbakar hingga Musim Hujan

Tekno | Minggu, 06 September 2026 | 13:03 WIB

Prabowo Terima Dubes AS untuk ASEAN di Hambalang

Prabowo Terima Dubes AS untuk ASEAN di Hambalang

News | Minggu, 06 September 2026 | 09:01 WIB

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

Regulasi Kehutanan Dinilai Mandul, Hutan Indonesia Terancam Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 23:05 WIB

Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla

Perintah Padamkan Api Mudah, Eksekusinya Sulit: Peneliti UI Ungkap Derita di Lokasi Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 20:47 WIB

Terkini

Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa

Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 20:15 WIB

PMI Manufaktur Melonjak, Menperin Berharap Berdampak ke Lapangan Pekerjaan

PMI Manufaktur Melonjak, Menperin Berharap Berdampak ke Lapangan Pekerjaan

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 20:14 WIB

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Indeks CFX10 Menguat 0,31%, TRON Jadi Kripto dengan Kenaikan Tertinggi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 20:12 WIB

Awas, Patah Tulang Pertama Bisa Jadi Awal Dari Bencana Berikutnya! Ini Kata Ahli

Awas, Patah Tulang Pertama Bisa Jadi Awal Dari Bencana Berikutnya! Ini Kata Ahli

Health | Senin, 02 November 2026 | 20:10 WIB

4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak

4 Koridor Feeder LRT dan Teman Bus Palembang Setop Operasional, Ini Rute yang Terdampak

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 20:06 WIB

7 Tips GEO agar Konten Dikutip Platform AI: Perhatikan Struktur hingga Kredibilitas

7 Tips GEO agar Konten Dikutip Platform AI: Perhatikan Struktur hingga Kredibilitas

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 19:56 WIB

Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?

Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 19:55 WIB

Truk Molen Tabrak Kerumunan Warga di Bekasi, Tak Uji KIR Selama 6 Tahun

Truk Molen Tabrak Kerumunan Warga di Bekasi, Tak Uji KIR Selama 6 Tahun

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 19:53 WIB

Tantang Selangor FC di Final Singa Cup 2026, Wakil Indonesia Bawa Misi Balas Dendam

Tantang Selangor FC di Final Singa Cup 2026, Wakil Indonesia Bawa Misi Balas Dendam

Bola | Senin, 02 November 2026 | 19:51 WIB

PSI Tuding AHY Nafsu Gantikan Gibran, Andi Arief: Kami Pilih Jalur Kompetisi

PSI Tuding AHY Nafsu Gantikan Gibran, Andi Arief: Kami Pilih Jalur Kompetisi

News | Senin, 02 November 2026 | 19:51 WIB

×