-
Iran bakal menerbitkan rute baru Selat Hormuz dan memblokir zona terbatas di perairan Teluk.
-
Saling gempur kapal tanker memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus US$97 per barel.
-
Iran berjanji membalas keras setiap serangan AS sembari membenahi krisis ekonomi dan laju inflasi internal.
Guna memastikan kepatuhan total atas aturan blokade, Komando Pusat AS mengalihkan rute 92 kapal komersial serta melumpuhkan tiga armada kapal lainnya. Presiden Donald Trump bahkan mengunggah video buatan AI yang menggambarkan kehancuran total fasilitas di Pulau Kharg.
Menteri Minyak Iran, Mohsen Paknejad, mengonfirmasi bahwa Pulau Kharg sebenarnya sudah dihantam sekitar 550 kali ledakan selama beberapa bulan terakhir. Kendati terus dikorbankan bombardir peluru rudal, fasilitas vital tersebut diklaim masih sanggup beroperasi.
Menteri Energi AS, Chris Wright, justru membantah klaim kelumpuhan total dan mengudara bahwa pasokan energi masih sanggup keluar melintasi perairan Teluk.
"Transit kami melalui Selat ini rata-rata melebihi 9 juta barel per hari sekarang, dan dengan pipa akses yang memutari selat, kita mungkin mencapai dua pertiga atau lebih dari aliran sebelum konflik. Jadi orang-orang Iran masih menimbulkan masalah, tetapi Angkatan Laut Amerika Serikat memenangkan pertempuran itu," tutur Wright kepada CNN.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat meluap menjadi perang terbuka sejak serangan gabungan AS-Israel melanda wilayah Iran enam bulan lalu. Hambatan lalu lintas di Selat Hormuz langsung memicu lonjakan harga bahan bakar dan berpotensi menekan kepopuleran politik dalam negeri AS menjelang pemilu November.
Selat Hormuz merupakan jalur paling strategis di dunia yang memegang peranan krusial bagi distribusi seperlima pasokan minyak mentah global. Blokade ketat dari Amerika Serikat serta aksi balasan kawasan terbatas dari Iran berisiko tinggi memperpanjang kebuntuan diplomasi damai kedua negara.