- Militer Amerika Serikat dan Iran saling menyerang kapal di Selat Hormuz pada pekan lalu hingga 7 September 2026.
- Konflik tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan sehingga harga minyak Brent dan WTI naik pada 7 September 2026.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok menjadi sekitar sepuluh kapal per hari akibat meningkatnya risiko keamanan.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Senin 7 September 2026.
Kenaikan harga dipicu aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz, yang memperkuat kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak mentah global secara berkepanjangan.
Mengutip dari Investing.com, hingga pukul 08.25 WIB (01.25 GMT), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak November naik 0,5 persen ke level 96,77 dolar AS per barel.
Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,5 persen menjadi 91,94 dolar AS per barel.
Sepanjang pekan lalu, Brent tercatat melonjak 7,8 persen, sementara WTI melompat hingga hampir 10 persen seiring merosotnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Militer AS menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu lalu. Langkah ini diambil sebagai balasan setelah pasukan Iran menembakkan rudal balistik ke arah kapal Angkatan Laut AS.
Pihak Iran kemudian mengklaim telah menyerang drone angkatan laut AS dan memperingatkan bahwa serangan balasan yang lebih keras akan diluncurkan jika AS kembali menyerang.
Menurut laporan Press TV, pejabat senior keamanan Iran menegaskan Tehran akan menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang, dengan ancaman sanksi bagi kapal yang melintas.
Eskalasi militer ini mengancam kelancaran jalur distribusi energi global. Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia yang menjadi jalur melintas sekitar seperlima dari total konsumsi minyak harian global.
Data dari perusahaan analisis Kpler per Senin (7/9/2026) menunjukkan bahwa lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz telah anjlok ke level terendah sejak Mei lalu, yakni hanya sekitar 10 kapal per hari, seiring meningkatnya risiko keamanan yang harus dihadapi oleh para operator kapal.