China Sulap Pegunungan Jadi Ladang Panel Surya, Solusi Energi Bersih atau Ancaman Ekologi?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 07 September 2026 | 15:55 WIB
China Sulap Pegunungan Jadi Ladang Panel Surya, Solusi Energi Bersih atau Ancaman Ekologi?
Deretan panel surya membentang luas dan menutupi area pegunungan. Sumber: CFOTO/Future Publishing via Getty Images

Suara.com - Sebuah video drone yang viral di media sosial memperlihatkan pemandangan tak biasa di Provinsi Guizhou, China. Ribuan panel surya terlihat menutupi lereng pegunungan hingga sejauh mata memandang.

Pemandangan tersebut menggambarkan salah satu cara China memperluas energi terbarukan: memanfaatkan wilayah pegunungan yang sulit digunakan untuk pertanian sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Mengubah Lereng Terjal Jadi Ladang Energi

Instalasi panel surya membentang sejauh 80 km di area ini, dibangun dengan total investasi sebesar 8,8 miliar yuan. Sumber:CFOTO/Future Publishing via Getty Images
Instalasi panel surya membentang sejauh 80 km di area ini, dibangun dengan total investasi sebesar 8,8 miliar yuan. Sumber:CFOTO/Future Publishing via Getty Images

Proyek PLTS di Guizhou menempati lahan lebih dari 866.000 meter persegi dan menghasilkan sekitar 53 juta kWh listrik per tahun. Pembangunan instalasi di kawasan ini dimulai pada 2015 dan terus berkembang.

Guizhou dipilih karena wilayahnya didominasi pegunungan dan lereng terjal yang sulit dimanfaatkan untuk pertanian. Sebelum PLTS dibangun, warga setempat hanya dapat menanam komoditas seperti kentang dan gandum hitam dengan hasil terbatas.

Kini, lahan tersebut dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Di sejumlah lokasi, tanaman sayuran dan herbal juga dibudidayakan di bawah panel surya. Model yang menggabungkan produksi energi dan pertanian ini disebut agrivoltaik, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

Bukan Satu-satunya: Gelombang PLTS di Pegunungan China

Pemandangan pangkalan fotovoltaik di Zhangjiakou, Hebei. Sumber: CFOTO/Future Publishing via Getty Images
Pemandangan pangkalan fotovoltaik di Zhangjiakou, Hebei. Sumber: CFOTO/Future Publishing via Getty Images

Guizhou hanyalah salah satu dari sejumlah proyek serupa yang bermunculan di berbagai pegunungan China. Di Lishui, Provinsi Zhejiang, misalnya, terdapat instalasi dengan hampir 96.000 modul panel surya berbasis teknologi perovskit, material yang lebih ringan dan fleksibel dibanding silikon konvensional, dengan efisiensi konversi energi mencapai sekitar 20 persen. Panel-panel ini dipasang dengan kemiringan sekitar 22 derajat dan digantung sekitar dua meter di atas tanah, cukup tinggi untuk memungkinkan penanaman sayuran seperti selada di bawahnya.

Proyek lain juga berkembang di Pegunungan Taihang (Provinsi Hebei) dan Shanxi, sementara di wilayah dataran tinggi seperti Tibet, Qinghai, Sichuan, dan Yunnan, panel surya bahkan dipasang di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Untuk bertahan di kondisi ekstrem seperti suhu di bawah nol derajat, angin kencang, dan salju tebal, panel-panel ini dirancang dengan struktur yang diperkuat serta lapisan permukaan khusus agar tidak mudah tertutup es.

Bagaimana Dampaknya Terhadap Lingkungan Sekitar?

China negara yang maju teknologinya. Sumber: Magnific.com
China negara yang maju teknologinya. Sumber: Magnific.com

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pemasangan panel surya dalam skala besar selalu berdampak baik bagi lingkungan?

Jawabannya tidak sederhana. Sebagian besar penelitian yang tersedia memang dilakukan di gurun, bukan pegunungan. Studi Universitas Teknologi Xi’an di Gurun Talatan, Qinghai, misalnya, menemukan kondisi ekologis di bawah dan sekitar panel lebih baik dibandingkan area gurun tanpa panel. Naungan panel membantu menjaga kelembapan tanah, menurunkan suhu permukaan, dan mendukung pertumbuhan vegetasi. Studi lain di Gonghe Basin juga menemukan peningkatan tutupan vegetasi di area yang dinaungi panel.

baca juga

Namun, hasilnya berbeda di ekosistem lain. Sejumlah penelitian di hutan Prancis dan lahan pertanian Italia menemukan perubahan suhu tanah dan penurunan biomassa vegetasi di bawah panel. Ini menunjukkan dampak PLTS sangat bergantung pada ekosistem, iklim, topografi, dan pengelolaan lahannya.

Karena itu, pembangunan PLTS di pegunungan perlu disertai pemantauan jangka panjang, terutama terhadap keanekaragaman hayati, siklus air, dan iklim mikro. Temuan di gurun tidak serta-merta dapat diterapkan pada wilayah pegunungan.

Bagi China, proyek seperti PLTS Guizhou merupakan bagian dari upaya memperbesar penggunaan energi surya sekaligus memanfaatkan lahan yang sulit digunakan untuk pertanian. China juga menguasai sebagian besar rantai produksi panel surya global.

Namun, transisi energinya belum selesai. Batu bara masih menyumbang sekitar 57 persen pembangkitan listrik China, sementara negara itu menargetkan netralitas karbon pada 2060. Karena itu, PLTS di pegunungan bukan solusi tunggal, melainkan salah satu bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil—dengan catatan pembangunan energi bersih tetap memperhitungkan daya dukung lingkungan. 

Penulis: Inesia Dian
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Saat Sampah Plastik Disulap Jadi BBM, Upaya Desa Cepaka Atasi Limbah Sulit Didaur Ulang

Saat Sampah Plastik Disulap Jadi BBM, Upaya Desa Cepaka Atasi Limbah Sulit Didaur Ulang

Lifestyle | Senin, 07 September 2026 | 13:49 WIB

Sinopsis Againts the Current, Drama Terbaru Tan Song Yun dan Liu Xue Yi

Sinopsis Againts the Current, Drama Terbaru Tan Song Yun dan Liu Xue Yi

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 18:05 WIB

Drama China How Dare You: Terjebak di Dunia Novel sebagai Tokoh Antagonis

Drama China How Dare You: Terjebak di Dunia Novel sebagai Tokoh Antagonis

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 14:30 WIB

Terkini

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

News | Senin, 14 September 2026 | 10:28 WIB

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:25 WIB

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

News | Senin, 14 September 2026 | 10:24 WIB

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:17 WIB

Babak Baru Skandal Biksu Mesum Thailand: Peran Besar Wanita di Video Viral Gelapkan Dana Rp114 M

Babak Baru Skandal Biksu Mesum Thailand: Peran Besar Wanita di Video Viral Gelapkan Dana Rp114 M

News | Senin, 14 September 2026 | 10:17 WIB

Apa Fungsi Utama Sampo untuk Rambut Beruban? Ini 7 Fungsinya

Apa Fungsi Utama Sampo untuk Rambut Beruban? Ini 7 Fungsinya

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:10 WIB

Dipecat PDIP Usai Kunjungi Jokowi, Achmad Hidayat Singgung Eri-Armuji

Dipecat PDIP Usai Kunjungi Jokowi, Achmad Hidayat Singgung Eri-Armuji

Jatim | Senin, 14 September 2026 | 10:05 WIB

Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya

Distraksi Patah Hati: Belajar Melepaskan dan Terluka Sewajarnya

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 10:05 WIB

Anwar Ibrahim Blak-blakan soal Kebakaran Hutan Indonesia, Minta Prabowo Datang ke Malaysia

Anwar Ibrahim Blak-blakan soal Kebakaran Hutan Indonesia, Minta Prabowo Datang ke Malaysia

News | Senin, 14 September 2026 | 10:00 WIB

Sungai Jeneberang Kering, Warga Bikin Wisata Dadakan

Sungai Jeneberang Kering, Warga Bikin Wisata Dadakan

Foto | Senin, 14 September 2026 | 10:00 WIB

×