Suara.com - Sebuah video drone yang viral di media sosial memperlihatkan pemandangan tak biasa di Provinsi Guizhou, China. Ribuan panel surya terlihat menutupi lereng pegunungan hingga sejauh mata memandang.
Pemandangan tersebut menggambarkan salah satu cara China memperluas energi terbarukan: memanfaatkan wilayah pegunungan yang sulit digunakan untuk pertanian sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Mengubah Lereng Terjal Jadi Ladang Energi

Proyek PLTS di Guizhou menempati lahan lebih dari 866.000 meter persegi dan menghasilkan sekitar 53 juta kWh listrik per tahun. Pembangunan instalasi di kawasan ini dimulai pada 2015 dan terus berkembang.
Guizhou dipilih karena wilayahnya didominasi pegunungan dan lereng terjal yang sulit dimanfaatkan untuk pertanian. Sebelum PLTS dibangun, warga setempat hanya dapat menanam komoditas seperti kentang dan gandum hitam dengan hasil terbatas.
Kini, lahan tersebut dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Di sejumlah lokasi, tanaman sayuran dan herbal juga dibudidayakan di bawah panel surya. Model yang menggabungkan produksi energi dan pertanian ini disebut agrivoltaik, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Bukan Satu-satunya: Gelombang PLTS di Pegunungan China

Guizhou hanyalah salah satu dari sejumlah proyek serupa yang bermunculan di berbagai pegunungan China. Di Lishui, Provinsi Zhejiang, misalnya, terdapat instalasi dengan hampir 96.000 modul panel surya berbasis teknologi perovskit, material yang lebih ringan dan fleksibel dibanding silikon konvensional, dengan efisiensi konversi energi mencapai sekitar 20 persen. Panel-panel ini dipasang dengan kemiringan sekitar 22 derajat dan digantung sekitar dua meter di atas tanah, cukup tinggi untuk memungkinkan penanaman sayuran seperti selada di bawahnya.
Proyek lain juga berkembang di Pegunungan Taihang (Provinsi Hebei) dan Shanxi, sementara di wilayah dataran tinggi seperti Tibet, Qinghai, Sichuan, dan Yunnan, panel surya bahkan dipasang di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Untuk bertahan di kondisi ekstrem seperti suhu di bawah nol derajat, angin kencang, dan salju tebal, panel-panel ini dirancang dengan struktur yang diperkuat serta lapisan permukaan khusus agar tidak mudah tertutup es.
Bagaimana Dampaknya Terhadap Lingkungan Sekitar?

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pemasangan panel surya dalam skala besar selalu berdampak baik bagi lingkungan?
Jawabannya tidak sederhana. Sebagian besar penelitian yang tersedia memang dilakukan di gurun, bukan pegunungan. Studi Universitas Teknologi Xi’an di Gurun Talatan, Qinghai, misalnya, menemukan kondisi ekologis di bawah dan sekitar panel lebih baik dibandingkan area gurun tanpa panel. Naungan panel membantu menjaga kelembapan tanah, menurunkan suhu permukaan, dan mendukung pertumbuhan vegetasi. Studi lain di Gonghe Basin juga menemukan peningkatan tutupan vegetasi di area yang dinaungi panel.
Namun, hasilnya berbeda di ekosistem lain. Sejumlah penelitian di hutan Prancis dan lahan pertanian Italia menemukan perubahan suhu tanah dan penurunan biomassa vegetasi di bawah panel. Ini menunjukkan dampak PLTS sangat bergantung pada ekosistem, iklim, topografi, dan pengelolaan lahannya.
Karena itu, pembangunan PLTS di pegunungan perlu disertai pemantauan jangka panjang, terutama terhadap keanekaragaman hayati, siklus air, dan iklim mikro. Temuan di gurun tidak serta-merta dapat diterapkan pada wilayah pegunungan.
Bagi China, proyek seperti PLTS Guizhou merupakan bagian dari upaya memperbesar penggunaan energi surya sekaligus memanfaatkan lahan yang sulit digunakan untuk pertanian. China juga menguasai sebagian besar rantai produksi panel surya global.
Namun, transisi energinya belum selesai. Batu bara masih menyumbang sekitar 57 persen pembangkitan listrik China, sementara negara itu menargetkan netralitas karbon pada 2060. Karena itu, PLTS di pegunungan bukan solusi tunggal, melainkan salah satu bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil—dengan catatan pembangunan energi bersih tetap memperhitungkan daya dukung lingkungan.
Penulis: Inesia Dian