-
Harga minyak dunia menembus level tertinggi akibat serangan militer antara AS dan Iran.
-
Baku tembak di perairan strategis merusak kapal tanker dan mendongkrak harga gas.
-
Analis memperkirakan gangguan rantai pasok energi global akan berlangsung hingga tahun 2027.
Suara.com - Lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut hingga menembus level tertinggi dalam 6 minggu terakhir. Perang antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kegelisahan pasar global saat ini.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen hingga menyentuh angka 97,00 dolar AS per barel. Di sisi lain, jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober melonjak 2,1 persen menjadi 93,43 dolar AS per barel.
Ketegangan baru ini meletus setelah militer Amerika Serikat menggempur tiga kapal tanker minyak milik Iran pada Sabtu lalu. Langkah ekstrem tersebut diambil setelah pihak Iran melepaskan rudal balistik ke arah dua kapal perang milik Angkatan Laut AS.

Pemerintah Iran langsung merespons keras tindakan penyerangan terhadap armada niaga mereka di perairan internasional. Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya pada Sabtu mengecam serangan ke kapal komersial tersebut sebagai kejahatan perang dan aksi perang ekonomi.
Eskalasi militer yang mendadak ini mengejutkan para pengamat pasar komoditas energi di tingkat global.
“Ini tampaknya menjadi eskalasi besar dan ketegangan sekali lagi meningkat,” ujar David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation, seraya menyoroti pernyataan Menteri Energi AS Chris Wright yang menyebutkan mungkin terbukti mustahil untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mencegahnya memperoleh senjata nuklir.
Dampak buruk dari konfrontasi militer ini tidak hanya memukul sektor minyak bumi semata. Aksi saling balas pada akhir pekan tersebut turut mendorong lonjakan harga gas alam hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Ancaman balasan terus mengalir deras dari pejabat tinggi kedua negara melalui media sosial.
"Serang aset kami dan Anda akan diserang," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada hari Senin dalam sebuah unggahan di platform X.
Pernyataan bersiap perang tersebut dilontarkan guna membalas gertakan terbuka dari pihak Pentagon sebelumnya. Hal itu merupakan respons terhadap unggahan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menulis bahwa AS "akan menghancurkan (dan menenggelamkan)" tanker minyak Iran jika Iran menembaki kapal-kapal AS.
Lembaga keuangan internasional Goldman Sachs bergerak cepat merespons situasi darurat ini dengan menaikkan proyeksi harga. Pada hari Senin, bank investasi ini menaikkan perkiraan harga Brent dan WTI masing-masing sebesar 5 dolar AS menjadi 85 dolar AS dan 80 dolar AS per barel untuk Desember 2026, serta menjadi 80 dolar AS dan 75 dolar AS per barel untuk tahun 2027.
Analisis Goldman Sachs mengindikasikan bahwa hambatan distribusi pasokan di Timur Tengah berpotensi membentang hingga kurun waktu 2027.
“Pasar semakin memperhitungkan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan,” kata Goldman, sembari menambahkan bahwa tarif tanker minyak mentah Teluk Persia ke China pada kuartal kedua tahun 2027 kini memperhitungkan gangguan pengiriman yang berlangsung hingga periode tersebut.
Pihak Gedung Putih juga memberikan sinyal mengenai optimisme penyelesaian konflik jangka panjang dalam pandangan politik mereka.
Aksi saling serang yang terjadi pada akhir pekan lalu menjadi puncak baru dari ketegangan politik dan militer yang telah berlangsung lama antara Washington dan Tehran. Perairan vital di Timur Tengah, khususnya jalur perkapalan Teluk Persia, kembali menjadi titik panas pertikaian yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
Ketidakpastian diplomasi nuklir serta meningkatnya intensitas kehadiran militer kedua belah pihak membuat pasar global bersiap menghadapi dampak ekonomi berkepanjangan. Kondisi geopolitik yang belum mereda ini terus membayangi pergerakan harga komoditas dan memperlambat pemulihan ekonomi internasional.