-
Israel menutup konsulat Inggris di Yerusalem usai London memberlakukan pemblokiran impor produk Tepi Barat.
-
Tel Aviv melarang perwakilan Inggris melatih pasukan Palestina serta memasukkan 12 politisi ke daftar hitam.
-
Mayoritas negara dunia tidak mengakui klaim kedaulatan tunggal Israel atas seluruh wilayah Yerusalem.
Suara.com - Israel resmi menghentikan seluruh operasional konsulat Inggris di Yerusalem sebagai tindakan pembalasan langsung atas kebijakan baru London. Pemerintah Inggris sebelumnya membekukan seluruh impor produk dari wilayah pendudukan Israel di tanah Palestina.
Tindakan tegas Inggris tersebut langsung memicu efek domino yang diikuti oleh belasan negara dunia. Hanya Amerika Serikat yang memilih tidak mengekor langkah penghentian hubungan dagang tersebut.
Otoritas Tel Aviv turut mengambil langkah ekstrem dengan mencabut izin tinggal utusan khusus Inggris. Perwakilan tersebut sebenarnya bertugas mengawasi rencana pembentukan gencatan senjata di Jalur Gaza bawah mediasi Washington.

Selain pengusiran diplomat, Tel Aviv membatalkan program pelatihan militer yang dikelola Inggris untuk personel Otoritas Palestina. Sebanyak 12 warga negara Inggris yang mayoritas merupakan anggota parlemen juga resmi dimasukkan ke dalam daftar hitam kunjungan.
Eskalasi perselisihan ini meletus setelah Inggris, Kanada, dan Prancis memelopori sanksi pembatasan ekonomi kawasan Tepi Barat. Kebijakan hukuman ini dijatuhkan akibat maraknya aksi kekerasan yang dilancarkan kelompok pemukim ilegal terhadap warga lokal Palestina.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyampaikan penolakan keras atas peryataan pihak London di hadapan publik.
"Tuduhan yang disampaikan menteri luar negeri Inggris hari ini di parlemen Inggris merupakan kebohongan yang keterlaluan," kata Saar dikutip dari AFP.
Pemerintah Israel mengklaim sanksi ekonomi tersebut sengaja dirancang untuk memengaruhi dinamika politik internal mereka. Isu perluasan wilayah permukiman di Tepi Barat memang menjadi komoditas politik vital bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ambisi ekspansi tersebut dijadikan pilar kampanye utama demi mempertahankan kursi kekuasaannya pada pemilu mendatang.
Keputusan penutupan fasilitas diplomatik menyasar markas perwakilan Inggris yang berada di kawasan Yerusalem Timur. Wilayah bersejarah milik Palestina ini dicaplok secara ilegal oleh militer Israel semenjak berakhirnya Perang Enam Hari tahun 1967.
- Korban Tewas di Gaza Tembus 73.651 Orang
Baca Juga
Tel Aviv secara sepihak mengklaim penguasaan penuh atas seluruh wilayah kota suci tersebut tanpa memedulikan kecaman internasional. Pemerintah Israel menegaskan bahwa seluruh perwakilan asing wajib tunduk pada aturan kedaulatan yang mereka tetapkan.
Mayoritas masyarakat internasional dan Inggris secara tegas menolak klaim kedaulatan tunggal Israel atas kawasan Yerusalem. Komunitas global menganggap status hukum wilayah Timur Yerusalem masih dalam kondisi pendudukan militer ilegal.
Satu-satunya pengecualian sikap geopolitik ini datang dari pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Washington saat itu mengambil langkah kontroversial dengan memindahkan fisik bangunan kedutaannya langsung ke Yerusalem.
Sebaliknya, Inggris bersama mayoritas negara mitra memilih mempertahankan kantor kedubes resmi mereka di kota Tel Aviv. Langkah ini diambil guna menjaga prinsip hukum internasional serta mendukung penyelesaian konflik kawasan melalui jalan diplomasi.
Sengketa diplomasi terbaru ini menandai titik terendah dalam hubungan bilateral antara London dan Tel Aviv selama beberapa tahun terakhir. Pengetatan embargo ekonomi terhadap produk permukiman ilegal berpotensi memperluas isolasi politik bagi Israel di panggung global.