Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Upaya Dunia Perbaiki Kualitas Udara: Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 09 September 2026 | 11:45 WIB
Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Upaya Dunia Perbaiki Kualitas Udara: Mengapa?
Pemandangan atmosferik dari garis langit kota Almaty yang dibungkus kabut dan asap.(dok.Pexels/ Anton Ivanov)

Suara.com - Intensnya polusi yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta gelombang panas berpotensi menghambat upaya dunia dalam meningkatkan kualitas udara dan kesehatan manusia.

Upaya memperbaiki kualitas udara di berbagai negara kini menghadapi tantangan baru. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa menekan emisi dari kendaraan dan aktivitas industri tidak lagi cukup memberantas permasalahan yang ada.

Perubahan iklim yang memicu suhu ekstrem, gelombang panas, dan kebakaran hutan turut andil dalam menciptakan sumber polusi yang kian sulit dikendalikan.

Melalui laporan terbarunya, WMO membeberkan bahwa perubahan iklim dan kualitas udara memiliki keterkaitan yang saling memengaruhi. Ketika suhu global meningkat, kondisi cuaca yang lebih panas dan kering bisa memperparah risiko kebakaran.

Kebakaran itulah yang kemudian melahirkan asap dan berbagai polutan kembali memengaruhi kualitas udara. Artinya, perbaikan kualitas udara yang sebelumnya sebelumnya berhasil dicapai bisa kembali terancam oleh perubahan iklim.

WMO melalui Air Quality and Climate Bulletin edisi keenam menonjolkan keterikatan tersebut. Laporan yang dirilis pada 7 September 2026 menekankan perubahan iklim dan kualitas udara tidak bisa lagi hanya dinilai dari dua persoalan yang berbeda.

Peneliti WMO, Lorenzo Labrador menjelaskan terkait kedua persoalan tersebut memiliki hubungan yang sangat erat sehingga penanganannya juga harus ditangani secara bersamaan.

"Kualitas udara dan iklim tidak bisa dipisahkan, jadi penanganannya harus berbarengan," jelas Labrador.

Salah satu persoalan yang kerap jadi perhatian adalah meningkatnya dampak asap kebakaran terhadap kualitas udara. Kebakaran hutan turut menyumbang berbagai polutan, termasuk partikel halus berukuran 2,5 mikometer atau lebih dikenal dengan sebutan PM2.5.

baca juga

Partikel tersebut menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil. Besar kemungkinan dapat masuk menelisik lebih jauh ke dalam sistem pernapasan makhluk hidup.

Dalam kondisi tertentu, PM2.5 ini bahkan bisa masuk ke aliran darah dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Sebenarnya asal mula PM2.5 ini tidak bersumber tunggal, yakni dari kebakaran hutan. Jenis polutan ini dapat juga dijumpai dari aktivitas industri, transportasi, pertanian, pemanasan rumah tangga, hingga badai debu.

Akan tetapi, asap kebakaran sangat memprihatinkan karena kebakaran ekstrem itu semakin sering terjadi dan tidak jarang berskala besar.

Di samping itu, WMO menilai dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan selama ini terlalu dianggap remeh.

Salah satu studi yang dikutip dalam laporan tersebut memperlihatkan bahwa model konvensional dalam memprediksi risiko kesehatan akibat kebakaran dapat menganggap enteng terhadap jumlah kematian terkait paparan asap hingga 93 persen.

Padahal lebih dari pada itu, paparan asap akibat fenomena ini mampu menambah risiko serangan asma dan gangguan pernapasan, termasuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Hal itu semakin serius bagi masyarakat yang tinggal dan hidup di dekat kawasan rawan kebakaran.

Melansir The Guardian, ada studi yang menunjukkan bahwa fenomena ekstrem akibat asap kebakaran telah meningkat pesat secara golbal sejak 1900-an. Peningkatan ini diprediksi menyumbang hampir 100.000 kematian setiap tahunnya selama periode 2010—2018.

Gelombang Panas Turut Memengaruhi Kualitas Udara

Setelah ditelusuri lebih lanjut, gelombang panas teryta berperan aktif dalam memperburuk kondisi udara melalui peningkatan kadar ozon di permukaan tanah.

Saat suhu tinggi sedang berlangsung dalam waktu lama, kondisi itulah yang mendesak terbentuknya ozon permukaan. Beda halnya dengan lapisan ozon di atmosfer yang bertujuan utnuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet, ozon di permukaan tanah justru polutan berbahaya jika terhirup.

Labrador menerangkan bahwa ozon merupakan oksidan kuat yang bisa dengan mudah merusak jaringan paru-paru hingga memicu peradangan.

"Ozon adalah oksidan paling kuat," katanya.

Pasalnya, zat tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru sekaligus memicu masalah pada sistem peredaran darah yang pada akhirnya meningkatkan risiko gangguan jantung.

Temuan ini yang menunjukkan perubahan iklim membuat masalah kualitas udara jadi semakin sulit diatasi. Meningkatnya suhu bukan sekadar membuat cuaca terasa lebih panas, tetapi juga mampu menghadirkan kondisi yang menciptakan polutan tertentu.

Keterkaitan ini yang tanpa disadari membentuk semacam siklus. Suhu kian panas dan membuat lingkungan jadi lebih kering, justru meningkatkan risiko kebakaran.

Kemudian kebakaran ini akan menghasilkan asap dan partikel polutan yang mencemari udara. Di saat yang sama, sejumlah partikel hasil pembakaran juga memengaruhi sistem iklim.

Misalnya, karbon hitam dapat membawa polutan tersebut ke wilayah bersalju lalu menempel pada permukaan salju atau es.

Ketika permukaan tersebut jadi lebih gelap, kemampuan memantulkan sinar matahari jadi berkurang, panas jadi lebih banyak terserap. Hal ini yang dapat memantik pencairan salju dan es lebih cepat.

Demikian, WMO menilai permasalahan kualitas udara dan perubahan iklim harus ditangani melalui kebijakan yang terintegrasi.

Pengendalian emisi harus lebih difokuskan ke berbagai arah hingga menjangkau hal-hal yang sering luput dari perhatian, seperti dampak dari perubahan iklim terhadap sumber polusi lainnya.

Melalui pengurangan emisi gas rumah kaca diproyeksikan mampu memberikan manfaat berkali-kali lipat. Adapun upaya memperlambat pemanasan global dilakukan dengan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

"Sebenarnya itu bukan hal yang sulit. Jika Anda mengurangi emisi gas rumah kaca, pada saat yang sama Anda juga mengurangi emisi zat-zat yang merusak kualitas udara," ujarnya.

Dengan pengurangan emisi gas rumah kaca dan penggunaan bahan bakar fosil berskala global dapat menjadi langkah penting untuk memutus rantai tersebut.

Tanpa pendekatan yang selaras, usaha membasmi polusi udara akan berisiko kembali lagi akibat gelombang panas, kebakaran hutan, dan berbagai dampak perubahan iklim lainnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

180 Personel Jepang Disiapkan Bantu Indonesia Tangani Karhutla di Kalimantan

180 Personel Jepang Disiapkan Bantu Indonesia Tangani Karhutla di Kalimantan

News | Selasa, 08 September 2026 | 21:21 WIB

Karhutla Terus Berulang di Kalimantan, Bagaimana Memperkuat Pencegahan dan Pemulihan?

Karhutla Terus Berulang di Kalimantan, Bagaimana Memperkuat Pencegahan dan Pemulihan?

News | Selasa, 08 September 2026 | 16:12 WIB

Jaga Hutan dari Kearifan Lokal, Mengapa Masyarakat Adat Perlu Dilibatkan dalam Pencegahan Karhutla?

Jaga Hutan dari Kearifan Lokal, Mengapa Masyarakat Adat Perlu Dilibatkan dalam Pencegahan Karhutla?

News | Selasa, 08 September 2026 | 15:49 WIB

Terkini

PR INDONESIA Dalami Praktik Internal Communication di Pertamina

PR INDONESIA Dalami Praktik Internal Communication di Pertamina

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 12:00 WIB

Korban Keracunan MBG di Pati Kian Bertambah, Jumlah Tembus 259 Orang

Korban Keracunan MBG di Pati Kian Bertambah, Jumlah Tembus 259 Orang

Jawa Tengah | Kamis, 10 September 2026 | 12:00 WIB

Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra untuk Kerja Lebih Cerdas: Multitasking Tanpa Banyak Berpindah Aplikasi

Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra untuk Kerja Lebih Cerdas: Multitasking Tanpa Banyak Berpindah Aplikasi

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 12:00 WIB

Gubernur Bobby Dorong IMT-GT Lahirkan Proyek Konkret dan Investasi Berdampak bagi Masyarakat

Gubernur Bobby Dorong IMT-GT Lahirkan Proyek Konkret dan Investasi Berdampak bagi Masyarakat

News | Kamis, 10 September 2026 | 11:58 WIB

Banjir Nagoya Mengkhawatirkan, CdM Pastikan Atlet Indonesia di Asian Games 2026 Aman

Banjir Nagoya Mengkhawatirkan, CdM Pastikan Atlet Indonesia di Asian Games 2026 Aman

News | Kamis, 10 September 2026 | 11:57 WIB

Investasi Berkelanjutan Makin Kokoh, DPLK BRI Kantongi Kehati ESG Award 2026

Investasi Berkelanjutan Makin Kokoh, DPLK BRI Kantongi Kehati ESG Award 2026

Surakarta | Kamis, 10 September 2026 | 11:55 WIB

Pakai Jersey Baru Demi Lawan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pakai Jersey Baru Demi Lawan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 10 September 2026 | 11:52 WIB

DPLK BRI Tegaskan Komitmen ESG Lewat Raihan Kehati ESG Award 2026

DPLK BRI Tegaskan Komitmen ESG Lewat Raihan Kehati ESG Award 2026

Sumbar | Kamis, 10 September 2026 | 11:52 WIB

Nada Kasih Gelar Konser Amal Harapan dalam Harmoni, Bantu Anak Butuh Layanan Kesehatan

Nada Kasih Gelar Konser Amal Harapan dalam Harmoni, Bantu Anak Butuh Layanan Kesehatan

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 11:52 WIB

Komitmen Investasi Berkelanjutan Berbuah Penghargaan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Komitmen Investasi Berkelanjutan Berbuah Penghargaan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Sumut | Kamis, 10 September 2026 | 11:50 WIB

×