Jaga Hutan dari Kearifan Lokal, Mengapa Masyarakat Adat Perlu Dilibatkan dalam Pencegahan Karhutla?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 08 September 2026 | 15:49 WIB
Jaga Hutan dari Kearifan Lokal, Mengapa Masyarakat Adat Perlu Dilibatkan dalam Pencegahan Karhutla?
Masyarakat adat. (Dok. Istimewa)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering berulang kali terjadi di Pulau Kalimantan bukan hanya soal lingkungan. Di tengah upaya menelusuri akar persoalan ini, masyarakat adat yang telah lama mewariskan pengetahuan dalam mengelola lahan berdasarkan kearifan lokal justru berada di posisi yang serba salah.

Sejumlah riset yang dilakukan oleh Ahli dari Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Sofyan Ansori mengemukakan bahwa masih banyak didapati masyarakat adat di Pulau Kalimantan tidak terhubung dengan program pemberdayaan dan edukasi pencegahan karhutla.

Kondisi itulah yang kerap menjadi persoalan ketika masyarakat itu tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan rawan kebakaran malah belum sepenuhnya memperoleh akses terhadap pengetahuan dan program pencegahan.

Padahal, selama ini masyarakat adat di Kalimantan memiliki praktik pengelolaan lahan yang telah diwariskan dari generari ke generasi. Salah satunya adalah sistem gilir-balik atau disebut sebagai ladang berpindah.

Melalui praktik tersebut, mereka membuka sebidang hutan dengan menebang dan membakar pepohonan, kemudian menanaminya selama beberapa tahun sebelum berpindah ke lahan lain.

Ilustrasi masyarakat adat (pexels.com/Danya Gutan)
Ilustrasi masyarakat adat (pexels.com/Danya Gutan)

Praktik itu dilakukan dengan memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di masing-masing masyarakat.

Mirisnya adalah praktik pembakaran lahan itu membuat masyarakat adat sering kali dihubungkan dengan permasalahan karhutla. Padahal, menuru Sofyan, stigma itulah yang perlu dibenahi.

"Stigma yang terus melekat pada masyarakat adat, apalagi ketika terjadi karhutla. Stigma ini harus dipulihkan," katanya.

Lebih parahnya lagi saat ruang masyarakat ini mencoba untuk melanjutkan praktik pengelolaanlahan terhalang dengan aturan pemerintah dan wilayah konsesi.

baca juga

Salah satu kebijakan yang terdampak terhadap praktik berladang berpindah adalah Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Kebijakan tersebut cenderung menganulir aturan daerah yang sebelumnya memungkinkan masyarakat adat menjalankan praktik berladang mereka secara tradisional.

Sofyan memandang bahwa pemerintah hanya memberikan larangan, tetapi tidak ada solusi bagi masyarakat adat yang terdampak.

"Pemerintah melarang tetapi tidak memberikan alternatif. Ibarat ambil periuk tapi tak dikembalikan lagi," ujarnya.

Akibatnya, masyarakat adat jadi menghadapi posisi yang serba sulit. Di satu sisi, praktik pengelolaan lahan yang telah jadi bagian kehidupan mereka dibatasi. Sementara itu, saat kebakaran terjadi, mereka justru berpotensi sebagai kelompok yang pertama kali dicurigai.

Seharusnya, penanganan karhutla ini tak sekadar bertumpu pada larangan, melainkan juga memahami betul-betul cara masyarakat setempat dalam mengelola wilayah.

Apalagi lebih dari setengah wilayah karhutla dan mayoritas ekosistem gambut ini didominasi oleh wilayah konsesi korporasi.

Hal inilah yang menunjukkan bahwa akar permasalahan karhutla tidak bisa dengan mudah dilimpahkan kepada kelompok masyarakat yang menghabiskan hidupnya di hutan.

Maka dari itu, keterlibatan masyarakat adat untuk mencegah karhutla terjadi dinilai sangat pentng. Dengan berbekal pengetahuan lokal yang mereka miliki bisa jadi acuan dari strategi pengelolaan wilayah. Terlebih lagi jika dikombinasikan dengan edukasi dan pengetahuan terkait pencegahan kebakaran.

Negara harus menjamin ruang hidup masyarakat adat untuk mengelola wilayahnya, sekaligus memberikan akses pengetahuan mengenai mitigasi kebakaran.

Sebab, masyarakat adat tidak semestinya dilihat sebagai kambing hitam yang memicu kebakaran itu terjadi.

Sebaliknya, mereka harus dianggap sebagai bagian dari masyarakat yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam menjaga ruang hidup tersebut.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kapal Induk Bekas Italia Akan Dipakai untuk Padamkan Api Kebakaran Hutan di Indonesia

Kapal Induk Bekas Italia Akan Dipakai untuk Padamkan Api Kebakaran Hutan di Indonesia

News | Selasa, 08 September 2026 | 13:52 WIB

Lahan Bekas Karhutla Diduga Jadi Kebun Sawit, Puan Maharani Minta Diselidiki

Lahan Bekas Karhutla Diduga Jadi Kebun Sawit, Puan Maharani Minta Diselidiki

News | Selasa, 08 September 2026 | 13:06 WIB

Asap Kebakatan Hutan Kalimantan Memburuk, Anwar Ibrahim Desak Evaluasi Mekanisme ASEAN

Asap Kebakatan Hutan Kalimantan Memburuk, Anwar Ibrahim Desak Evaluasi Mekanisme ASEAN

News | Selasa, 08 September 2026 | 12:58 WIB

Terkini

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 02:22 WIB

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Minifootball Asia Bergulir di Jakarta, 10 Negara Bersaing jadi yang Terbaik

Bola | Senin, 14 September 2026 | 00:29 WIB

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 23:10 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

×