Kematian Orangutan Sempurna Ungkap Ancaman Karhutla bagi Satwa Liar

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 09 September 2026 | 14:51 WIB
Kematian Orangutan Sempurna Ungkap Ancaman Karhutla bagi Satwa Liar
Ilustrasi Orangutan (unsplash/jeffrey eisen)

Suara.com - Kematian seekor orangutan Kalimantan bernama Sempurna di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menambah daftar dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap satwa liar.

Orangutan dengan nama ilmiah Pongo pygmaeus itu sebelumnya ditemukan dalam kondisi pingsan dan mengalami gangguan pernapasan akut. Ia kemudian mati dengan dugaan kuat terpapar asap karhutla.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan manusia. Satwa liar yang hidup di sekitar kawasan hutan yang terbakar juga menghadapi ancaman dari polusi udara serta kerusakan habitat.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengatakan karhutla yang berulang di Kalimantan dan Sumatera dapat memberikan dampak sistemik terhadap satwa liar, terutama orangutan yang populasinya sudah terancam.

"Saat ini orangutan dikategorikan dalam kelompok satwa liar Critically Endangered karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem sebagai dampak deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar," kata Ronny.

Ilustrasi orangutan. (Unsplash.com/ Felix Serre)
Ilustrasi orangutan. (Unsplash.com/ Felix Serre)

Ia menyebut populasi orangutan Tapanuli saat ini diperkirakan hanya sekitar 716–800 ekor. Sementara populasi orangutan Kalimantan diperkirakan mencapai sekitar 104.700 ekor.

Karhutla yang terjadi berulang dapat memperburuk tekanan tersebut. Ketika hutan terbakar, orangutan tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sumber makanan mereka juga berkurang sehingga satwa dapat bergerak ke wilayah lain untuk mencari makan.

Pergerakan tersebut berpotensi membawa orangutan lebih dekat ke permukiman warga dan meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

"Konflik ini ke depannya diprediksi akan menambah tekanan pada populasi orangutan yang sudah sangat sedikit," ujar Ronny.

baca juga

Asap karhutla ganggu pernapasan orangutan

Selain kehilangan habitat dan sumber pangan, asap dari karhutla menjadi ancaman lain bagi orangutan.

Asap kebakaran mengandung partikel berukuran sangat kecil, termasuk PM2.5, yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel tersebut bahkan dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan memicu iritasi serta peradangan.

Menurut Ronny, kondisi ini dapat mengganggu sistem pernapasan orangutan.

"Keberadaan asap dan cemaran akibat kebakaran hutan sangat berbahaya bagi paru-paru dan metabolisme mereka. Karena sistem pernapasan mereka itu sangat sensitif terhadap polusi udara," katanya.

Dalam jangka pendek, gangguan pernapasan dapat menyebabkan batuk, sesak napas, dan berkurangnya kemampuan tubuh mendapatkan oksigen.

Paparan polusi dalam jumlah besar dan berulang juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan pernapasan.

Polusi udara dapat memengaruhi kondisi fisik dan perilaku orangutan. Satwa bisa menjadi kurang aktif, mengalami penurunan nafsu makan, lemas, hingga kehilangan berat badan.

Tekanan lingkungan tersebut juga berpotensi memengaruhi kondisi fisiologis dan kesehatan reproduksi orangutan.

Dampak karhutla tidak berhenti setelah api padam

Karhutla karena itu tidak hanya perlu dilihat dari luas wilayah yang terbakar atau seberapa cepat api dapat dipadamkan.

Bagi satwa liar, dampaknya dapat berlangsung lebih lama melalui kerusakan habitat, hilangnya sumber makanan, dan penurunan kualitas udara.

Ronny mengatakan karhutla di Indonesia juga tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan lokal. Kebakaran hutan berkaitan dengan persoalan perubahan iklim, kesehatan, keanekaragaman hayati hingga perekonomian.

Ia menilai pencegahan kebakaran perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Transparansi data mengenai lokasi kebakaran dan dampaknya juga diperlukan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan.

Selain itu, kerja sama regional dibutuhkan karena asap karhutla dapat menyebar melampaui batas wilayah dan negara.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Upin Ipin Sindir Kebakaran Hutan, Netizen: Titik Terendah Kita Diroasting Upin Ipin

Upin Ipin Sindir Kebakaran Hutan, Netizen: Titik Terendah Kita Diroasting Upin Ipin

Entertainment | Rabu, 09 September 2026 | 13:02 WIB

Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Upaya Dunia Perbaiki Kualitas Udara: Mengapa?

Gelombang Panas dan Karhutla Ancam Upaya Dunia Perbaiki Kualitas Udara: Mengapa?

News | Rabu, 09 September 2026 | 11:45 WIB

Karhutla: Ketika Negara Sibuk Mencari Kambing Hitam, Api Terus Menjalar

Karhutla: Ketika Negara Sibuk Mencari Kambing Hitam, Api Terus Menjalar

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 13:50 WIB

Terkini

Sempat Melonjak Tajam, Serangan ISPA di Lampung Akibat Erupsi Anak Krakatau Akhirnya Melandai

Sempat Melonjak Tajam, Serangan ISPA di Lampung Akibat Erupsi Anak Krakatau Akhirnya Melandai

Lampung | Kamis, 10 September 2026 | 07:20 WIB

Jangan Diklik! Misteri Aplikasi Teror dan Kematian dalam Novel Rahasia Ayu

Jangan Diklik! Misteri Aplikasi Teror dan Kematian dalam Novel Rahasia Ayu

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 07:15 WIB

Produk Lokal Tak Kalah Bagus dari Barang Impor, Mendag Sebut Masalahnya Pintar Jualan

Produk Lokal Tak Kalah Bagus dari Barang Impor, Mendag Sebut Masalahnya Pintar Jualan

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 07:13 WIB

Sarjito Resmi Jadi Kepala Eksekutif Pengawas BMKS, OJK Targetkan Bursa Beroperasi 1 Januari 2027

Sarjito Resmi Jadi Kepala Eksekutif Pengawas BMKS, OJK Targetkan Bursa Beroperasi 1 Januari 2027

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 07:05 WIB

Feng Shui Meja Kerja Membelakangi Pintu, Benarkah Bikin Energi Kurang Baik?

Feng Shui Meja Kerja Membelakangi Pintu, Benarkah Bikin Energi Kurang Baik?

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 07:05 WIB

Masker Jadi Barang Buruan, Harga Melonjak: Ada Ancaman Pidana bagi Pedagang Nakal?

Masker Jadi Barang Buruan, Harga Melonjak: Ada Ancaman Pidana bagi Pedagang Nakal?

News | Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Perbedaan Sunscreen Skintific dan Amaterasun, dari Tekstur hingga Tingkat Proteksi

Perbedaan Sunscreen Skintific dan Amaterasun, dari Tekstur hingga Tingkat Proteksi

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Foto | Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Huawei FreeBuds 7 Resmi Meluncur, Bawa Fitur ANC AI Baterai Tahan 42 Jam

Huawei FreeBuds 7 Resmi Meluncur, Bawa Fitur ANC AI Baterai Tahan 42 Jam

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 06:40 WIB

Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 06:25 WIB

×