Suara.com - Belakangan ini, sejumlah gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas. Salah satunya adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang membuat masyarakat di sekitar kawasan tersebut harus meningkatkan kewaspadaan.
Sejak 31 Agustus 2026, Gunung Sinabung mengeluarkan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncaknya atau jika dilihat dari atas permukaan laut bisa mencapai 5.960 meter.
Aktivitas tersebut kemudian mendorong status Gunung Sinabung naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Namun, peningkatan aktivitas Sinabung bukan satu-satunya hal terpenting. Karakter erupsinya turut membuat gunung api ini sulit diprediksi, karena letusan dapat terjadi tanpa aba-aba terlebih dahulu.
![Gunung Sinabung erupsi pada Senin 31 Agustus 2026 pagi. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/31/39015-gunung-sinabung.jpg)
Dosen Departemen Geografi Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Dr. Indranova Suhendro, ST., M.Sc. mengatakan erupsi gunung api dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Salah satunya adalah erupsi magmatik, yakni magma yang bergerak menuju permukaan dan meretakkan bebatuan.
Biasanya pergerakan magma menghasilkan gempa vulkanik. Ditambah semakin dekatnya waktu erupsi, hiposentrum atau titik pusat gempa bumi akan semakin dangkal. Dari peningkatan dan pendangkalan aktivitas gempa itulah yang jadi salah satu tanda sebelum gunung akan bererupsi.
Berbeda dengan jenis erupsi freatik yang diduga dimiliki oleh Gunung Sinabung. Erupsi inilah yang tidak mengharuskan magma bergerak naik menuju permukaan. Panas dari magma cukup dipindahkan ke air tanah, sehingga air tersebut mendidih dan menghasilkan tekanan.
"Kemungkinan besar erupsi Gunung Sinabung termasuk dalam kategori erupsi freatik. Di sini tidak ada magma yang naik. Air tanahnya hanya dipanaskan, kemudian mendidih. Nanti tiba-tiba bisa meledak dan akhirnya menjadi erupsi yang kita sebut sebagai freatik," jelas Indranova, dikutip dalam laman resmi UGM, Rabu (9/9).
Kondisi inilah yang menjadikan erupsi freatik sulit diprediksi. Pasalnya, proses yang terjadi di bawah permukaan tidak selalu menghasilkan tanda yang cukup kuat untuk terdeteksi oleh sistem pemantauan.
Ia meyakini air tanah yang mendidih ini sebetulnya tetap menghasilkan getaran. Akan tetapi, energi yang dilepaskan cenderung kecil sehingga getaran tersebut berada di bawah batas kemampuan alat deteksi seismometer.
"Untuk sementara, kita tidak punya tanda peringatannya. Jika airnya sudah mendidih, maka ia akan meledak dan menghasilkan erupsi freatik," imbuhnya.
Artinya, tidak semua erupsi gunung api memiliki pola peringatan yang sama. Saat erupsi melibatkan pergerakan magma menuju permukaan, peningkatan aktivitas gempa dapat menjadi salah satu indikator.
Sementara pada erupsi freatik, ledakan dapat terjadi akibat tekanan dari air tanah yang telah mengalami pemanasan. Karakter itu turut ditonjolkan terhadap material yang dikeluarkan oleh Gunung Sinabung.
Indranova membeberkan bahwa erupsi yang terjadi biasanya didominasi oleh abu vulkanik berukuran halus. Berbeda halnya dengan erupsi magmatik yang acap kali menghasilkan material lebih kasar, seperti kerikil di sekitar sumber erupsi.
"Kolom abu Sinabung yang dihasilkan mencapai sekitar tiga kilometer, dan materialnya yang tampak sangat halus. Dengan material halus tersebut membuat abu lebih mudah terbawa oleh angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas," paparnya.
Keadaan seperti itu membuat dampak erupsi tidak hanya mengandalkan kekuatan letusan, melainkan juga pada karakter material yang dikeluarkan dan kondisi angin.
Saat erupsi Sinabung terjadi di musim kemarau, abu cenderung terbawa ke arah timur sehinga wilayah seperti Berastagi cenderung rentan terkena dampaknya.
"Karena kita sedang di musim kemaran, maka anginnya akan cenderung ke arah timur. Jadi, daerah-daerah yang berada di timur seperti Berastagi akan cenderung lebih rentan terkena abu vulkanik daripada daerah lainnya," jelasnya.
Meskipun erupsi freatik rumit untuk diprediksi, pemantauan aktivitas gunung api tetap menjadi bagian yang tidak bisa luput dari perhatian. Indranova mengaku bahwa pemantauan Gunung Sinabung telah dilakukan secara berkala dan intensif sejak aktivitas erupsi pada 2011.
Menurutnya, pemantauan perlu diperkuat dengan penelitian secara mendalam agar karakteristik dari masing-masing gunung api mampu dipahami dengan lebih baik dan optimal. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam menentukan langkah mitigasi yang sesuai.
"Riset itu perlu selalu digalakkan dan diintensifkan supaya kita bisa lebih berkenalan dengan gunung api tersebut. Setelah kita kenal, kita tahu karakteristiknya dan kita tahu bagaimana cara menangani sebaik mungkin," tekannya.
Di samping hal itu, masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung api diharapkan untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari lembaga berwenang ataupun situs resmi.
Indranova menganjurkan masyarakat untuk memantau informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), termasuk soal status aktivitas dan peta kawasan rawan bencana.
"Selalu patuhi aturan dari PVMBG. Mereka yang berwenang untuk memberi kebijakan terkait zona bahaya dan semacamnya. Jadi, pantau terus berita dari PVMBG," imbaunya.
Penulis: Chairunisa