Mengapa Erupsi Gunung Sinabung Sulit Diprediksi? Ahli Ungkap Penjelasannya

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 09 September 2026 | 16:35 WIB
Mengapa Erupsi Gunung Sinabung Sulit Diprediksi? Ahli Ungkap Penjelasannya
Sebuah letusan hebat Gunung Sinabung di Sumatra Utara, Indonesia, menampilkan asap vulkanik dan awan abu. (dok.Pexels/Suhairy Tri Yadhi)

Suara.com - Belakangan ini, sejumlah gunung api di Indonesia mengalami peningkatan aktivitas. Salah satunya adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang membuat masyarakat di sekitar kawasan tersebut harus meningkatkan kewaspadaan.

Sejak 31 Agustus 2026, Gunung Sinabung mengeluarkan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncaknya atau jika dilihat dari atas permukaan laut bisa mencapai 5.960 meter.

Aktivitas tersebut kemudian mendorong status Gunung Sinabung naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Namun, peningkatan aktivitas Sinabung bukan satu-satunya hal terpenting. Karakter erupsinya turut membuat gunung api ini sulit diprediksi, karena letusan dapat terjadi tanpa aba-aba terlebih dahulu.

Gunung Sinabung erupsi pada Senin 31 Agustus 2026 pagi. [Istimewa]
Gunung Sinabung erupsi pada Senin 31 Agustus 2026 pagi. [Istimewa]

Dosen Departemen Geografi Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Dr. Indranova Suhendro, ST., M.Sc. mengatakan erupsi gunung api dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Salah satunya adalah erupsi magmatik, yakni magma yang bergerak menuju permukaan dan meretakkan bebatuan.

Biasanya pergerakan magma menghasilkan gempa vulkanik. Ditambah semakin dekatnya waktu erupsi, hiposentrum atau titik pusat gempa bumi akan semakin dangkal. Dari peningkatan dan pendangkalan aktivitas gempa itulah yang jadi salah satu tanda sebelum gunung akan bererupsi.

Berbeda dengan jenis erupsi freatik yang diduga dimiliki oleh Gunung Sinabung. Erupsi inilah yang tidak mengharuskan magma bergerak naik menuju permukaan. Panas dari magma cukup dipindahkan ke air tanah, sehingga air tersebut mendidih dan menghasilkan tekanan.

"Kemungkinan besar erupsi Gunung Sinabung termasuk dalam kategori erupsi freatik. Di sini tidak ada magma yang naik. Air tanahnya hanya dipanaskan, kemudian mendidih. Nanti tiba-tiba bisa meledak dan akhirnya menjadi erupsi yang kita sebut sebagai freatik," jelas Indranova, dikutip dalam laman resmi UGM, Rabu (9/9).

Kondisi inilah yang menjadikan erupsi freatik sulit diprediksi. Pasalnya, proses yang terjadi di bawah permukaan tidak selalu menghasilkan tanda yang cukup kuat untuk terdeteksi oleh sistem pemantauan.

baca juga

Ia meyakini air tanah yang mendidih ini sebetulnya tetap menghasilkan getaran. Akan tetapi, energi yang dilepaskan cenderung kecil sehingga getaran tersebut berada di bawah batas kemampuan alat deteksi seismometer.

"Untuk sementara, kita tidak punya tanda peringatannya. Jika airnya sudah mendidih, maka ia akan meledak dan menghasilkan erupsi freatik," imbuhnya.

Artinya, tidak semua erupsi gunung api memiliki pola peringatan yang sama. Saat erupsi melibatkan pergerakan magma menuju permukaan, peningkatan aktivitas gempa dapat menjadi salah satu indikator.

Sementara pada erupsi freatik, ledakan dapat terjadi akibat tekanan dari air tanah yang telah mengalami pemanasan. Karakter itu turut ditonjolkan terhadap material yang dikeluarkan oleh Gunung Sinabung.

Indranova membeberkan bahwa erupsi yang terjadi biasanya didominasi oleh abu vulkanik berukuran halus. Berbeda halnya dengan erupsi magmatik yang acap kali menghasilkan material lebih kasar, seperti kerikil di sekitar sumber erupsi.

"Kolom abu Sinabung yang dihasilkan mencapai sekitar tiga kilometer, dan materialnya yang tampak sangat halus. Dengan material halus tersebut membuat abu lebih mudah terbawa oleh angin dan menyebar ke wilayah yang lebih luas," paparnya.

Keadaan seperti itu membuat dampak erupsi tidak hanya mengandalkan kekuatan letusan, melainkan juga pada karakter material yang dikeluarkan dan kondisi angin.

Saat erupsi Sinabung terjadi di musim kemarau, abu cenderung terbawa ke arah timur sehinga wilayah seperti Berastagi cenderung rentan terkena dampaknya.

"Karena kita sedang di musim kemaran, maka anginnya akan cenderung ke arah timur. Jadi, daerah-daerah yang berada di timur seperti Berastagi akan cenderung lebih rentan terkena abu vulkanik daripada daerah lainnya," jelasnya.

Meskipun erupsi freatik rumit untuk diprediksi, pemantauan aktivitas gunung api tetap menjadi bagian yang tidak bisa luput dari perhatian. Indranova mengaku bahwa pemantauan Gunung Sinabung telah dilakukan secara berkala dan intensif sejak aktivitas erupsi pada 2011.

Menurutnya, pemantauan perlu diperkuat dengan penelitian secara mendalam agar karakteristik dari masing-masing gunung api mampu dipahami dengan lebih baik dan optimal. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam menentukan langkah mitigasi yang sesuai.

"Riset itu perlu selalu digalakkan dan diintensifkan supaya kita bisa lebih berkenalan dengan gunung api tersebut. Setelah kita kenal, kita tahu karakteristiknya dan kita tahu bagaimana cara menangani sebaik mungkin," tekannya.

Di samping hal itu, masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung api diharapkan untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari lembaga berwenang ataupun situs resmi.

Indranova menganjurkan masyarakat untuk memantau informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), termasuk soal status aktivitas dan peta kawasan rawan bencana.

"Selalu patuhi aturan dari PVMBG. Mereka yang berwenang untuk memberi kebijakan terkait zona bahaya dan semacamnya. Jadi, pantau terus berita dari PVMBG," imbaunya.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Erupsi Anak Krakatau Belum Ganggu Harga Pangan, Tapi Risiko Pasokan Mengintai

Erupsi Anak Krakatau Belum Ganggu Harga Pangan, Tapi Risiko Pasokan Mengintai

Bisnis | Rabu, 09 September 2026 | 14:36 WIB

6 Gunung Api di Indonesia Erupsi di Waktu Berdekatan, Ada Apa?

6 Gunung Api di Indonesia Erupsi di Waktu Berdekatan, Ada Apa?

Video | Rabu, 09 September 2026 | 10:30 WIB

Bandara Resmi Perpanjang Penutupan Hingga Besok Imbas Akibat Erupsi Gunung Lewotolok

Bandara Resmi Perpanjang Penutupan Hingga Besok Imbas Akibat Erupsi Gunung Lewotolok

News | Rabu, 09 September 2026 | 12:14 WIB

Terkini

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Hybrid Fitness Race Khusus Perempuan Hadir di Indonesia

Sport | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45 WIB

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:31 WIB

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Nugroho Herucahyono Dorong Talenta Indonesia Berani Bangun Teknologi untuk Dunia

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:17 WIB

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

35 Tahun Yugoslavia Bubar, Siapa Paling Untung di Sepak Bola? Kroasia dan Serbia Menonjol

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Gibran Kalahkan Prabowo di Puncak Elektabilitas, Begini Respon Santai Jokowi

Surakarta | Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:06 WIB

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:36 WIB

×