Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun di Indonesia ternyata punya pola yang lebih rumit dari sekadar musim kemarau panjang.
Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia menyebut deforestasi dan karhutla kini saling mengunci dalam sebuah lingkaran setan: deforestasi membuat kebakaran makin intens, dan kebakaran yang terjadi kembali mempercepat hilangnya tutupan hutan.
Semakin sempit hutan yang tersisa, semakin rentan pula kawasan itu terbakar di musim berikutnya.
Peringatan itu muncul di tengah luasnya kawasan yang sudah terdampak tahun ini. Berdasarkan data Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 10.17 WIB, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla sudah mencapai 76.922,3 hektare.
![Petugas pemadam tengah berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Riau. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/07/25831-karhutla-di-riau.jpg)
Bagi IRI, angka ini menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api dan asap musiman, melainkan kerusakan ekologis yang menggerus tutupan hutan, habitat satwa, kualitas udara, hingga sumber air dalam jangka panjang, dampak yang sering kali baru terlihat setelah berbulan-bulan.
Pola yang digambarkan IRI ini konsisten dengan temuan ilmiah dari lapangan. Studi yang dipublikasikan di jurnal Remote Sensing pada 2020 oleh peneliti University of Leeds bersama IPB University menelusuri sejarah tutupan lahan di Provinsi Riau, Sumatra, sejak 1990. Hasilnya, kebakaran paling sering muncul justru di kawasan yang sedang berubah fungsi, terutama saat hutan sekunder beralih menjadi semak belukar sebelum akhirnya dibuka jadi perkebunan.
Riset lanjutan dari tim peneliti yang sama bahkan mencatat, kawasan yang kehilangan tutupan hutan di Riau memiliki frekuensi kebakaran enam kali lipat dibanding kawasan yang tutupan hutannya tetap utuh. Dengan kata lain, deforestasi bukan cuma dampak dari karhutla, tapi juga salah satu pemicu awalnya.
Dampak lingkaran setan ini juga mulai terasa pada satwa liar di dalam negeri. Awal September 2026, Guru Besar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menyoroti dampak sistemik karhutla di Kalimantan dan Sumatra terhadap orangutan, satwa yang populasinya sudah berstatus kritis.
Ia mencatat kerusakan habitat akibat deforestasi dan kebakaran turut menekan populasi orangutan Tapanuli yang kini tersisa sekitar 716–800 ekor, sementara populasi orangutan Kalimantan tinggal sekitar 104.700 ekor. Orangutan, kata Prof. Ronny, kehilangan sumber pangan sekaligus terpapar polusi asap di tengah hutan yang terus menyusut.
Melihat kaitan yang berlapis ini, IRI mengapresiasi langkah pemerintah dalam pengawasan, penindakan, dan penyelidikan dugaan unsur kesengajaan pembakaran. Namun karena karhutla adalah persoalan yang berulang setiap tahun, IRI menilai keberhasilan penanganan tidak bisa lagi diukur hanya dari seberapa cepat api dipadamkan.
Mereka menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah perbaikan tata kelola penggunaan lahan, perlindungan tegas atas kawasan hutan yang tersisa, serta restorasi ekosistem yang paling rentan terbakar—agar lingkaran setan deforestasi dan karhutla ini benar-benar bisa diputus, bukan sekadar dipadamkan sesaat.
Penulis: Inesia Dian