-
Penderita ISPA di Indonesia melonjak menjadi 113.336 jiwa akibat kebakaran hutan parah.
-
Paparan kabut asap beracun mengancam kesehatan lebih dari 12,5 juta warga di tujuh provinsi.
-
Jepang dan Malaysia menawarkan bantuan pemadaman udara untuk mengatasi kebakaran hutan Indonesia.
Suara.com - Media asing menyoroti kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat pencemaran kebakaran hutan di Indonesia melonjak lebih dari dua kali lipat hanya dalam selang waktu 8 hari. Fenomena iklim ekstrem membuat bencana kabut asap tahun ini menjadi yang terburuk dalam kurun 11 tahun terakhir.
Lonjakan drastis penderita penyakit pernapasan ini didominasi oleh warga yang bermukim di wilayah Sumatra dan Borneo. Wilayah tersebut menjadi titik terparah akibat pembakaran lahan gambut dan kawasan hutan secara masif.
Dikutip dari CNA, cuaca ekstrem super-El Nino memicu kekeringan panjang dan peningkatan suhu udara yang sangat signifikan di berbagai daerah. Kondisi ini membuat emisi karbon dari kebakaran hutan di Indonesia menyumbang sepertiga dari total emisi global.
![Warga mengendarai sepeda motor saat melintas di samping api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/10/95269-karhutla-di-palangka-raya-ilustrasi-karhutla-kebakaran-hutan-dan-lahan.jpg)
Data Kementerian Kesehatan mencatat jumlah penderita gangguan pernapasan melonjak menjadi 113.336 jiwa per 9 September, dari sebelumnya 50.891 jiwa pada 1 September. Lonjakan kasus ini terjadi seiring kian meluasnya paparan asap pekat di pemukiman warga.
Media itu mengutip pernyataan Juru bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati. Paparan kabut asap beracun ini telah mengancam kesehatan lebih dari 12,5 juta penduduk di tujuh provinsi.
Pemerintah pusat telah mendistribusikan hampir satu juta masker serta ratusan unit konstrator oksigen untuk membantu masyarakat terdampak. Ribuan tenaga medis juga sudah disebar ke berbagai titik krisis untuk memberikan bantuan darurat.
"Proses pengerahan tambahan personel medis dan berbagai perlengkapan sedang berlangsung. Kami akan terus memantau wilayah mana yang membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan dan menyiagakan mereka di sana," ujar Widyawati.
Dampak buruk pencemaran udara ini bahkan telah melintasi batas negara hingga memperburuk kualitas udara di Singapura dan Malaysia. Kedua negara tetangga tersebut melaporkan penurunan kualitas udara pada level tidak sehat secara konsisten.
Pemerintah Jepang turut mengulurkan bantuan dengan mengirimkan tiga unit helikopter CH-47 Chinook yang mulai melakukan uji coba penerbangan pada Kamis.
Spesifikasi helikopter berat tersebut disiapkan untuk menunjang operasi pemadaman udara atau water bombing bersama jajaran TNI di Kalimantan Barat.
Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pengeboman air dari udara dijadwalkan beroperasi penuh mulai Jumat atau Sabtu.
Pemerintah Malaysia yang berbatasan langsung di Borneo juga menyampaikan tawaran resmi untuk menerjunkan armada pemadam udara mereka. Tawaran bantuan tersebut disampaikan langsung melalui surat resmi Menteri Lingkungan Hidup Malaysia kepada pemerintah Indonesia.
Berton Panjaitan menegaskan bahwa pihak Jakarta saat ini sedang melakukan koordinasi antarlembaga untuk merespons tawaran bantuan dari Kuala Lumpur tersebut.
Sepanjang Januari hingga Juli tahun ini, data resmi pemerintah menunjukkan luasan lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 202.000 hektar. Lembaga lingkungan YKAN mengestimasi kerusakan lahan bertambah drastis hingga 600.000 hektar hanya sepanjang bulan Agustus saja.