-
Gen Z Impact Fest 2026 bagikan tips keamanan digital Gen Z.
-
Pakar siber ingatkan ancaman phishing, doxxing, hingga penyalahgunaan teknologi AI.
-
Peserta diajak rutin audit data pribadi dan aktifkan perlindungan ganda.
Suara.com - Pada era ekonomi digital, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi momen, melainkan aset penting bagi generasi muda, young professionals, hingga para content creator.
Namun, semakin tinggi aktivitas digital, semakin besar pula ancaman siber yang mengintai, mulai dari modus phishing jebakan lowongan kerja, peretasan akun, hingga penipuan berbasis Artificial Intelligence (AI).
Menjawab tantangan tersebut, rangkaian festival generasi muda Gen Z Impact Fest 2026 menggelar sesi talkshow edukatif bertajuk “Digital Security Awareness to Keep You Safe” pada Sabtu (12/9/2026) di Hotel UC UGM Yogyakarta.
Acara yang diinisiasi oleh Suara.com, SKM Bulaksumur, dan Kagama Persma ini mengusung semangat “Empowering the Next Generation” untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan praksis di dunia digital.
Dipandu oleh Head of Community Suara.com, Rendy Adrikni Sadikin, sesi ini menghadirkan Trainer Digital Security, Reren Indranila, yang mengupas tuntas tiga ancaman utama di ranah digital serta langkah-langkah mitigasinya.

Tiga Ancaman Siber Utama yang Mengintai Gen Z dan Kreator
Dalam pemaparannya, Reren Indranila mengungkapkan bahwa kreator konten dan influencer kini menjadi sasaran empuk kejahatan siber karena kurangnya kewaspadaan terhadap modus-modus baru.
1. Account Takeover dan Phishing
Modus ini kerap menyamar sebagai tawaran kerja sama, sponsorship, atau lowongan pekerjaan dengan syarat yang sangat mudah. Pelaku biasanya menyisipkan berkas dokumen berbahaya, aplikasi (APK), atau mengoperasikan modus love scammer.
"Semakin mudah syarat suatu lowongan atau tawaran, justru harus semakin kita curigai," tegas Reren.
"Semakin mudah syarat suatu lowongan atau tawaran, justru harus semakin kita curigai," tegas Reren.
2. Doxxing dan Intimidasi Daring
Ancaman ini sering menimpa mereka yang bersikap kritis di ruang publik digital. Pelaku atau buzzer biasanya menyebarkan foto pribadi, identitas keluarga, hingga data sensitif untuk melakukan pembunuhan karakter.
3. Impersonation dan Manipulasi AI
Pemanfaatan teknologi AI untuk deepfake atau kloning suara kini makin marak digunakan untuk penipuan telepon palsu, seperti kabar bohong anggota keluarga yang mengalami kecelakaan.
Di sisi lain, Reren mengingatkan agar Gen Z tidak secara tidak sadar menjadi pelaku doxxing.
"Misalnya ada tren 'spill the tea' lalu kita membongkar tangkapan layar percakapan pribadi atau obrolan chat teman tanpa izin, itu sudah termasuk kategori doxxing," tambahnya.
Audit Mandiri dan Perlakuan Dokumen Identitas Digital