-
Gen Z Impact Fest 2026 bagikan tips kelola keuangan Gen Z.
-
Pakar ingatkan bahaya doom spending dan jebakan paylater bagi anak muda.
-
Mahasiswa UGM bagikan kisah sukses menabung dan investasi sejak dini.
Suara.com - Generasi Z saat ini menghadapi realitas ekonomi yang tidak mudah. Di balik riuhnya media sosial, banyak anak muda yang terjebak dalam krisis biaya hidup, doom spending, hingga bayang-bayang stres finansial.
Sulitnya menggapai aset jangka panjang seperti rumah membuat banyak dari mereka mengalihkan anggaran untuk konsumsi berbasis experience dan self-reward melalui fenomena lipstick effect, seperti rutin nongkrong, berburu kopi premium, hingga membeli skincare.
Melihat dinamika ini, festival generasi muda Gen Z Impact Fest 2026 yang diinisiasi oleh Suara.com, SKM Bulaksumur, dan Kagama Persma menghadirkan sesi panel bertajuk “In This Economy: Cerdas Mengelola Uang dan Memulai Investasi Sejak Muda” pada Sabtu (12/9/2026) di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel UGM.
Mengusung tema besar “Empowering the Next Generation”, sesi interaktif ini mengupas tuntas realitas finansial Gen Z dari tiga sudut pandang: analisis tren gaya hidup, panduan praktis financial planning, hingga kisah nyata perjuangan finansial mahasiswa.

Realitas Gen Z: Generasi Prihatin di Era Digital
Managing Partner Inventure, Yuswohady, membedah secara mendalam potret psikologis dan perilaku ekonomi Gen Z.
Mengutip buku Anxious Generation, ia menyebut Gen Z dibayangi empat ancaman serius, yakni kesepian (loneliness), depresi, self-harming, hingga risiko bunuh diri.
"Kita ini punya banyak teman di media sosial, tapi sesungguhnya enggak punya teman curhat yang dalam. Ujung-ujungnya kesepian, lalu hak-haknya sempat dirampas pandemi di tahun 2020, dan sekarang dihantui rasa khawatir pekerjaan dirampas AI. Maka saya bilang Gen Z ini bukannya apa-apa, tapi nasibnya sedang kurang bagus," jelas Yuswohady.
Kondisi tersebut membentuk Gen Z menjadi generasi yang justru paling prihatin dan dipaksa adaptif.
Menurut Yuswohady, perilaku seperti thrifting bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan bentuk frugal living dan kepedulian pada circular economy.
Selain itu, meski Gen Z memiliki banyak sumber penghasilan dari pekerjaan baru seperti content creator, influencer, atau social media manager, rentannya ekonomi mereka disebabkan oleh minimnya jaminan sosial karena mayoritas berstatus freelance.
Yuswohady juga menyoroti pola saving dan investing anak muda yang kini bergeser seperti berikut ini:
- Soft Saving & Short-term Goals: Berbeda dengan Gen X yang menabung untuk 30 tahun ke depan, Gen Z menabung untuk jangka pendek (1–2 tahun) demi nonton konser atau travelling, sambil tetap nongkrong hemat.
- FOMO Investing: Keputusan investasi sering kali dikendalikan algoritma dan dorongan circle pertemanan, seperti ikut-ikutan membeli crypto.
- Jebakan Paylater: Banyak gaya hidup Gen Z yang dibiayai paylater. Mengutip riset IDN, rata-rata pinjaman paylater mencapai Rp1 juta lebih, sehingga gaji harian/bulanan anak muda sering kali hanya tumpang lewat untuk membayar tagihan.
Tingkat Kesehatan Keuangan dan 4 Kebiasaan Utama
Sementara itu, Certified Financial Planner (CFP) dari Bank Jago, Andhinia Ratri, mengajak peserta untuk tidak hanya berfokus pada literasi, melainkan pada kesehatan keuangan (financial health).
Andhinia Ratri membagi tingkat kesehatan keuangan menjadi lima tingkatan: