- Gen Z Impact Fest 2026 mengangkat isu gaya hidup berkelanjutan.
- Tiga pembicara membahas lingkungan dari sisi hasil alam, kearifan lokal, dan sampah.
- Gen Z diajak memulai perubahan dari kebiasaan sederhana.
Suara.com - Gen Z Impact Fest 2026 yang digelar di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel UGM, Yogyakarta, pada Sabtu (12/9/2026), turut mengangkat isu lingkungan melalui sesi bertajuk "Small Actions, Big Impact: Membangun Sustainable Lifestyle untuk Net Zero Future".
Sesi tersebut membahas gaya hidup berkelanjutan serta berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan generasi muda untuk ikut menjaga lingkungan. Tiga pembicara hadir dalam sesi ini, yakni Co-Founder Agradaya Asri Saraswati Iskandar, Edi Padmo dari Resan Gunung Kidul, dan Program Manager Yayasan Get Plastic Indonesia Fransisca Supriyani Wulandari.
Dipandu Yulia Rosdiana, sesi ini dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari generasi Z dan pengusaha muda. Para pembicara membahas isu lingkungan dari berbagai sudut, mulai dari pengolahan hasil alam dan kearifan lokal hingga persoalan sampah plastik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Indonesia Kaya Sumber Daya, tapi Banyak Hasil Alam Masih Dijual Mentah
Pembicara pertama dalam sesi ini adalah Asri Saraswati Iskandar, Co-Founder Agradaya. Ia menyoroti persoalan pengolahan hasil alam Indonesia yang menurutnya masih banyak berhenti pada tahap bahan baku.
Asri bercerita, kesadaran tersebut muncul ketika dirinya pernah tinggal di desa dan melihat langsung bagaimana hasil panen masyarakat berpindah dari petani ke pengepul tanpa banyak mengalami proses pengolahan.
Sebelumnya, Asri sempat bekerja di industri kelapa sawit dan karet ketika berada di luar negeri. Setelah kembali ke Indonesia, ia justru menemukan persoalan yang berbeda.
"Saya kaget. Hah? Indonesia begini ya?" ujar Asri saat menceritakan pengalamannya.
Ia kemudian mencoba mencari tahu ke mana hasil panen masyarakat setelah keluar dari desa. Menurutnya, sebagian besar hasil tersebut hanya berpindah tangan tanpa mengalami proses pengolahan lebih lanjut.
Pengalaman tersebut kemudian membuat Asri menyadari bahwa Indonesia masih banyak berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara proses pengolahan dan nilai tambahnya justru terjadi di tempat lain.
"Saya menyadari bahwa kita cuma menjadi sumber bahan baku," ujar Asri.
Dari sana, ia bersama partnernya membangun Agradaya dengan fokus pada pengolahan hasil pertanian dan hasil hutan bukan kayu.
Menurut Asri, proses pengolahan di desa dapat menciptakan nilai tambah sekaligus membuka ruang bagi anak muda dengan keahlian di bidang teknologi pangan dan pertanian untuk bekerja langsung bersama masyarakat.
"Kenapa harus diolah? Karena kita mau nilai tambahnya tinggi," jelasnya.
Menurut Asri, keberadaan tenaga dengan keahlian tertentu juga dibutuhkan untuk membantu petani memenuhi standar pengolahan yang diperlukan pasar, termasuk pasar ekspor.