- Kelompok Houthi merebut kota Mocha di Yaman pada Kamis untuk memperkuat cengkeraman strategis mereka di Laut Merah.
- Penguasaan wilayah tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem serta menekan popularitas Presiden AS Donald Trump.
- Departemen Keuangan AS meluncurkan sanksi baru guna memutus aliran dana perang Iran akibat eskalasi konflik maritim ini.
Suara.com - Kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran dilaporkan telah merebut kendali atas kota pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis. Berdasarkan keterangan sumber militer, pasukan tersebut kini terus berekspansi menyusuri pesisir Laut Merah menuju kepulauan strategis.
Pergerakan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ekspektasinya bahwa perang dengan Iran akan berakhir usai pemilu sela (midterm elections) AS.
Sumber militer pemerintah Yaman menyebutkan bahwa manuver ini memperkuat cengkeraman Houthi atas Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan pintu keluar selatan Laut Merah dan salah satu rute pelayaran terpenting di dunia, serta menjangkau Kepulauan Hanish.
Jika Houthi berhasil mendominasi jalur air yang berada di sisi berlawanan dari Selat Hormuz tersebut, Iran akan meraup keuntungan strategis yang masif dalam perangnya melawan Amerika Serikat.
Penguasaan rute ini berpotensi melumpuhkan koridor transit utama kedua dan memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem.
Kondisi ini juga dinilai akan menyulitkan langkah Trump untuk mencari jalan keluar dari perang, yang mana telah menggerus prospek elektoral Partai Republik menjelang pemilu sela November mendatang. Tingginya harga bahan bakar akibat konflik ini telah menekan popularitas Trump ke titik terendah.
Meski demikian, dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menegaskan ia tidak menyesali keputusannya terkait perang Iran.
"Jika saya harus mengulangnya, saya akan melakukan hal yang persis sama," ujarnya, dilansir via Reuters.
Di sisi lain, pusat koordinasi operasi kemanusiaan Houthi merilis pernyataan bahwa navigasi di Laut Merah aman bagi seluruh perusahaan pelayaran, terkecuali kapal-kapal milik Arab Saudi.
Hal ini menjadi pukulan telak bagi Riyadh. Sebagai pengekspor minyak terbesar dunia, Arab Saudi sangat bergantung pada rute Laut Merah sejak eskalasi konflik Iran efektif menutup akses Selat Hormuz.
Merespons ancaman tersebut, pasukan pemerintah Yaman dan sekutunya kini tengah direlokasi ke selatan menuju Dhubab, di seberang Pulau Perim. Penguasaan atas Dhubab dan pulau tersebut dinilai sebagai kunci utama untuk mempertahankan selat.
Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Kamis, Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan komunitas internasional agar segera bertindak mengatasi "fase baru yang lebih berbahaya" dalam perang Yaman.
Keberhasilan Houthi menguasai Mocha memberi mereka kehadiran langsung di salah satu selat paling vital di dunia, yang secara serius mengancam kebebasan navigasi kelautan.
Perwakilan AS dalam pertemuan tersebut, Jenifer Neidhart de Ortiz, secara tajam menuding Houthi bertindak sebagai "agen dan alat Iran". Ia menegaskan bahwa eskalasi ini tidak dapat diterima dan pihak-pihak yang memfasilitasinya harus bertanggung jawab.
Menanggapi tekanan, Kementerian Luar Negeri Iran menyerukan dialog dan menyebut konflik Yaman tidak dapat diselesaikan melalui blokade atau aksi militer, meski mereka tidak menyinggung perannya sendiri.