-
Mantan peneliti Google DeepMind memperingatkan potensi kecerdasan buatan yang dapat memusnahkan umat manusia.
-
Pemimpin industri teknologi sepakat memperlambat pengembangan AI guna mencegah bahaya bahaya yang ekstrem.
-
Donald Trump membantah kekhawatiran tersebut dan menyebut desakan regulasi AI sebagai hoaks semata.
Suara.com - Mantan peneliti Google DeepMind memperingatkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi nyata untuk memusnahkan seluruh umat manusia jika pengembangannya tidak segera dikendalikan. Waktu bagi para ahli untuk mencegah dampak fatal dari ledakan teknologi ini dinilai sudah semakin sempit.
Pernyataan keras ini menambah deretan kekhawatiran global yang sebelumnya disuarakan oleh para ilmuwan dari laboratorium kecerdasan buatan terkemuka lainnya. Kegelisahan publik pun meningkat seiring makin banyaknya pakar keselamatan teknologi yang memilih mengundurkan diri dari industri tersebut.
Pengunduran diri secara massal ini dipicu oleh keyakinan internal para ilmuwan bahwa pengembang kecerdasan buatan sendiri menyadari bahaya mematikan tersebut. Sejumlah peneliti bahkan memperkirakan ada peluang lebih dari sepuluh persen bagi teknologi ini untuk mengakhiri peradaban sebelum akhir dekade ini.

"Saya baru-baru ini mengundurkan diri dari Google DeepMind, tempat saya bekerja pada penelitian keselamatan dan keselarasan AGI," tulis Bilal Chughtai melalui akun X miliknya, dikutip dari CNA.
"Saya sungguh percaya bahwa AI berpotensi membunuh kita semua, dan bahwa kita mungkin kehabisan waktu untuk menghindari hasil ini."
Chughtai tercatat pernah menjabat sebagai insinyur penelitian dan aktif menulis berbagai karya ilmiah sebelum resmi meninggalkan raksasa teknologi tersebut pada Juli 2026. Hingga saat ini, pihak Google belum memberikan tanggapan resmi mengenai pernyataan yang disampaikan oleh mantan karyawannya itu.
Desakan untuk menekan laju inovasi kecerdasan buatan kini mulai mendapatkan dukungan dari para petinggi industri papan atas. Langkah antisipasi ini dinilai menjadi harga mati untuk mencegah terjadinya bahaya ekstrem yang belum pernah dihadapi manusia sebelumnya.
Perdebatan mengenai ancaman kiamat akibat teknologi kecerdasan buatan pun meruncing di kalangan pengembang global. Sebagian besar tokoh kunci menyetujui perlunya regulasi yang lebih ketat demi menahan laju persaingan bisnis yang tidak terkendali.
Langkah pengamanan ini dianggap hanya bisa berhasil jika seluruh perusahaan teknologi bersedia menghentikan kompetisi yang saling menjatuhkan. Tanpa adanya koordinasi bersama, risiko fatal dari kecerdasan buatan tingkat tinggi dipastikan sulit terhindarkan.
"Kita perlu menyesuaikan kecepatan pengembangan AI dengan kecepatan yang dapat ditangani oleh masyarakat, di mana risiko-risiko yang muncul dapat diatasi sebelum bahaya ekstrem terjadi," tambah Chughtai.
Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan peringatan bahaya yang disampaikan oleh para peneliti independen tersebut. Presiden Donald Trump justru menilai desakan regulasi industri kecerdasan buatan ini hanya sekadar isu yang dibesar-besarkan atau hoaks belaka.
Krisis kepercayaan terhadap keselamatan kecerdasan buatan meningkat pesat setelah peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memutuskan keluar dari pekerjaannya pekan lalu. Pengunduran diri tersebut diikuti oleh ilmuwan Anthropic lainnya, Evan Hubinger, yang menguatkan klaim Coxon bahwa kecerdasan buatan berisiko tinggi memusnahkan manusia dalam sepuluh tahun ke depan.
Sikap skeptis publik semakin memuncak hingga memicu CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan penghentian sementara atau penundaan pengembangan AI tingkat lanjut akhir pekan lalu. Seruan langka ini secara mengejutkan didukung oleh CEO SpaceXAI Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman, yang menandai titik balik penting dalam perdebatan regulasi teknologi dunia.