Eks Google DeepMind Memperingatkan AI Bikin Manusia Punah

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 15 September 2026 | 12:42 WIB
Eks Google DeepMind Memperingatkan AI Bikin Manusia Punah
Ilustrasi kecerdasan buatan. [Freepik]
baca 10 detik
  • Mantan peneliti Google DeepMind memperingatkan potensi kecerdasan buatan yang dapat memusnahkan umat manusia.

  • Pemimpin industri teknologi sepakat memperlambat pengembangan AI guna mencegah bahaya bahaya yang ekstrem.

  • Donald Trump membantah kekhawatiran tersebut dan menyebut desakan regulasi AI sebagai hoaks semata.

Suara.com - Mantan peneliti Google DeepMind memperingatkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi nyata untuk memusnahkan seluruh umat manusia jika pengembangannya tidak segera dikendalikan. Waktu bagi para ahli untuk mencegah dampak fatal dari ledakan teknologi ini dinilai sudah semakin sempit.

Pernyataan keras ini menambah deretan kekhawatiran global yang sebelumnya disuarakan oleh para ilmuwan dari laboratorium kecerdasan buatan terkemuka lainnya. Kegelisahan publik pun meningkat seiring makin banyaknya pakar keselamatan teknologi yang memilih mengundurkan diri dari industri tersebut.

Pengunduran diri secara massal ini dipicu oleh keyakinan internal para ilmuwan bahwa pengembang kecerdasan buatan sendiri menyadari bahaya mematikan tersebut. Sejumlah peneliti bahkan memperkirakan ada peluang lebih dari sepuluh persen bagi teknologi ini untuk mengakhiri peradaban sebelum akhir dekade ini.

Ilustrasi kecerdasan buatan (Shutterstock).
Ilustrasi kecerdasan buatan (Shutterstock).

"Saya baru-baru ini mengundurkan diri dari Google DeepMind, tempat saya bekerja pada penelitian keselamatan dan keselarasan AGI," tulis Bilal Chughtai melalui akun X miliknya, dikutip dari CNA.

"Saya sungguh percaya bahwa AI berpotensi membunuh kita semua, dan bahwa kita mungkin kehabisan waktu untuk menghindari hasil ini."

Chughtai tercatat pernah menjabat sebagai insinyur penelitian dan aktif menulis berbagai karya ilmiah sebelum resmi meninggalkan raksasa teknologi tersebut pada Juli 2026. Hingga saat ini, pihak Google belum memberikan tanggapan resmi mengenai pernyataan yang disampaikan oleh mantan karyawannya itu.

Desakan untuk menekan laju inovasi kecerdasan buatan kini mulai mendapatkan dukungan dari para petinggi industri papan atas. Langkah antisipasi ini dinilai menjadi harga mati untuk mencegah terjadinya bahaya ekstrem yang belum pernah dihadapi manusia sebelumnya.

Perdebatan mengenai ancaman kiamat akibat teknologi kecerdasan buatan pun meruncing di kalangan pengembang global. Sebagian besar tokoh kunci menyetujui perlunya regulasi yang lebih ketat demi menahan laju persaingan bisnis yang tidak terkendali.

Langkah pengamanan ini dianggap hanya bisa berhasil jika seluruh perusahaan teknologi bersedia menghentikan kompetisi yang saling menjatuhkan. Tanpa adanya koordinasi bersama, risiko fatal dari kecerdasan buatan tingkat tinggi dipastikan sulit terhindarkan.

baca juga

"Kita perlu menyesuaikan kecepatan pengembangan AI dengan kecepatan yang dapat ditangani oleh masyarakat, di mana risiko-risiko yang muncul dapat diatasi sebelum bahaya ekstrem terjadi," tambah Chughtai.

Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan peringatan bahaya yang disampaikan oleh para peneliti independen tersebut. Presiden Donald Trump justru menilai desakan regulasi industri kecerdasan buatan ini hanya sekadar isu yang dibesar-besarkan atau hoaks belaka.

Krisis kepercayaan terhadap keselamatan kecerdasan buatan meningkat pesat setelah peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memutuskan keluar dari pekerjaannya pekan lalu. Pengunduran diri tersebut diikuti oleh ilmuwan Anthropic lainnya, Evan Hubinger, yang menguatkan klaim Coxon bahwa kecerdasan buatan berisiko tinggi memusnahkan manusia dalam sepuluh tahun ke depan.

Sikap skeptis publik semakin memuncak hingga memicu CEO Anthropic, Dario Amodei, menyerukan penghentian sementara atau penundaan pengembangan AI tingkat lanjut akhir pekan lalu. Seruan langka ini secara mengejutkan didukung oleh CEO SpaceXAI Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman, yang menandai titik balik penting dalam perdebatan regulasi teknologi dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Donald Trump: AI Menguasai Dunia dan Memusnahkan Kemanusiaan itu Hoaks!

Donald Trump: AI Menguasai Dunia dan Memusnahkan Kemanusiaan itu Hoaks!

News | Selasa, 15 September 2026 | 11:10 WIB

Tak Perlu Jago Prompt, Teman AI Bantu UMKM Ubah Masalah Jadi Aksi

Tak Perlu Jago Prompt, Teman AI Bantu UMKM Ubah Masalah Jadi Aksi

Tekno | Rabu, 02 September 2026 | 14:57 WIB

Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI

Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI

Video | Senin, 31 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Terkini

Kementan Diminta Ungkap Merek Beras Fortifikasi yang Tipu Publik

Kementan Diminta Ungkap Merek Beras Fortifikasi yang Tipu Publik

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 12:40 WIB

45 Kuda Raih Podium di IHR Merdeka Cup 2026, Disaksikan 18.000 Pengunjung

45 Kuda Raih Podium di IHR Merdeka Cup 2026, Disaksikan 18.000 Pengunjung

Sumbar | Selasa, 15 September 2026 | 12:39 WIB

7 Cara Mengakhiri Hubungan Kerja yang Benar dan Tetap Profesional, Bukan Asal Pecat

7 Cara Mengakhiri Hubungan Kerja yang Benar dan Tetap Profesional, Bukan Asal Pecat

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 12:39 WIB

4 Rekomendasi Webcam Murah di Bawah Rp500 Ribu Terbaik untuk Streaming dan Ngonten

4 Rekomendasi Webcam Murah di Bawah Rp500 Ribu Terbaik untuk Streaming dan Ngonten

Tekno | Selasa, 15 September 2026 | 12:38 WIB

Hendak Bantu Tangani Karhutla, 3 Chinook Jepang Justru Terkendala Kabut Asap

Hendak Bantu Tangani Karhutla, 3 Chinook Jepang Justru Terkendala Kabut Asap

News | Selasa, 15 September 2026 | 12:37 WIB

Skandal HGB Bogor: 17 Orang Terjaring OTT KPK, Apakah Menteri Nusron Wahid Terlibat?

Skandal HGB Bogor: 17 Orang Terjaring OTT KPK, Apakah Menteri Nusron Wahid Terlibat?

News | Selasa, 15 September 2026 | 12:32 WIB

Utang Luar Negeri Membengkak, Sudah Capai Rp8.045 Triliun

Utang Luar Negeri Membengkak, Sudah Capai Rp8.045 Triliun

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 12:32 WIB

5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum

5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 12:32 WIB

6 Smart TV Coocaa 32 Inch Terbaru, Ini Pilihan Model dan Harganya

6 Smart TV Coocaa 32 Inch Terbaru, Ini Pilihan Model dan Harganya

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 12:30 WIB

5 Jurnalis Hilang saat Liputan Anak Krakatau Belum Ditemukan, Basarnas Perluas Pencarian

5 Jurnalis Hilang saat Liputan Anak Krakatau Belum Ditemukan, Basarnas Perluas Pencarian

News | Selasa, 15 September 2026 | 12:30 WIB

×