Kredibilitas Fiskal Bertumpu pada Kebijakan, Bukan Bongkar-Pasang Figur Menkeu

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 17 September 2026 | 08:56 WIB
Kredibilitas Fiskal Bertumpu pada Kebijakan, Bukan Bongkar-Pasang Figur Menkeu
Sertijab Menkeu dari Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) ke Suahasil Nazara (kiri) di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (15/9/2026). [Dok. Kemenkeu]
baca 10 detik
  • Ekonom UGM Akhmad Akbar Susamto menyatakan pergantian Menkeu Suahasil Nazara pada Rabu (16/9/2026) bukan solusi masalah struktural APBN di era Prabowo Subianto.
  • Tekanan APBN dipicu utang Rp10.294 triliun, beban bunga Rp599 triliun, pelemahan Rupiah di atas Rp16.500 per dolar AS, serta stagnasi penerimaan negara.
  • Pemerintah dituntut menyusun asumsi makro realistis, memperluas basis pajak, dan mengevaluasi transparansi program belanja besar dalam penyusunan RAPBN 2027.

Suara.com - Bongkar-pasang jabatan Menteri Keuangan (Menkeu) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan solusi mendasar atas tekanan APBN saat ini.

Ekonom Universitas Gadjah Muda, Akhmad Akbar Susamto, menegaskan bahwa persoalan fiskal Indonesia saat ini bersifat struktural dan tidak otomatis selesai hanya dengan pergantian figur menduduki kursi menteri.

"Perhatian seharusnya tidak terlalu tertuju pada siapa menteri keuangannya, tetapi pada arah kebijakan fiskal yang akan ditempuh," kata Akbar, Rabu (16/9/2026).

Diakui Akbar, Menkeu baru Suahasil Nazara memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan APBN serta pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal yang menjadi modal institusional kuat dalam masa transisi. 

Namun persoalan fundamental ekonomi tidak bisa diselesaikan sebatas pergantian posisi kepemimpinan.

Menurutnya, ujian mendesak Menkeu Suahasil adalah mengembalikan kredibilitas asumsi makro yang kian melenceng dari realita pasar dan menggerus ruang gerak anggaran. 

Pergerakan Rupiah yang menembus di atas asumsi Rp16.500 per dolar AS serta tingginya harga minyak dunia mendesak pembengkakan beban subsidi energi, kompensasi, hingga bunga utang valas.

"Dengan utang pemerintah yang telah menembus Rp10.294 triliun dan beban bunga sekitar Rp599 triliun per tahun, batas defisit 3 persen memang masih terjaga, tetapi ruang fiskalnya semakin sempit," paparnya.

Kondisi tersebut diperparah oleh stagnasi penerimaan negara yang bertahan di kisaran 12 persen terhadap PDB akibat sempitnya basis pajak dan besarnya sektor informal. 

baca juga

Jika tidak ada terobosan penerimaan, ruang membiayai program baru makin terbatas dan memaksa pemerintah menambah utang atau memotong belanja penting lainnya.

"Karena itu, peningkatan rasio pajak sebaiknya ditempuh melalui perluasan basis, bukan sekadar meningkatkan beban kelompok yang sudah patuh," ujarnya.

Akbar turut memperingatkan bahaya mengukur kesehatan fiskal secara sempit hanya dari angka defisit di APBN. 

Pasalnya saat ini, banyak kegiatan berpengaruh fiskal justru dijalankan di luar postur anggaran resmi. Mulai dari penempatan dana pemerintah di Himbara, pembiayaan Koperasi Desa Merah Putih, hingga skema kompensasi energi dan beban kewajiban proyek Whoosh serta Danantara.

"Persoalannya bukan semata-mata apakah pengeluaran tersebut tercatat sebagai defisit saat ini, melainkan apakah pada kemudian hari kewajibannya dapat kembali menjadi beban APBN," ungkapnya.

Selain risiko utang terselubung, ia menyoroti penurunan Transfer ke Daerah (TKD) pada 2026 dibandingkan dengan alokasi APBN 2025. Sementara lebih dari separuh provinsi masih bergantung pada transfer pemerintah pusat.

Padahal, daerah diwajibkan memenuhi enam layanan dasar yang berpotensi memicu lonjakan pajak/retribusi daerah dan membebankan dunia usaha serta masyarakat.

Dari sisi pengeluaran, kenaikan anggaran belanja belum mencerminkan efisiensi maupun peningkatan kualitas hasil. Program prioritas skala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mendesak transparansi biaya satuan (unit cost), validitas data penerima, dan kejelasan evaluasi dampak.

"Seharusnya setiap rupiah yang dibelanjakan harus menghasilkan manfaat yang dapat diukur," tegasnya.

Penyusunan RAPBN 2027 diproyeksikan menjadi indikator awal ketegasan Menkeu baru. Pemerintah dituntut berani menetapkan asumsi makro yang realistis, memetakan kewajiban kontinjensi secara menyeluruh, serta memulihkan efektivitas transfer daerah. 

Pada aspek penerimaan, instrumen progresif seperti pajak kekayaan (wealth tax), capital gain, pajak karbon, hingga evaluasi menyeluruh atas tax holiday dan tax allowance harus mulai direalisasikan.

"Menteri Keuangan memang memegang kendali penting atas anggaran, tetapi kredibilitas fiskal dibangun melalui konsistensi kebijakan dan realisasinya. Siapa pun yang menjabat akan berhadapan dengan persoalan struktural yang sama. Menunda penyelesaiannya hanya akan meningkatkan biaya ekonomi dan fiskal pada masa mendatang," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:21 WIB

Ada 'Perang Dingin' di Balik Reshuffle Menteri Keuangan?

Ada 'Perang Dingin' di Balik Reshuffle Menteri Keuangan?

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 07:31 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Terkini

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:21 WIB

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:15 WIB

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:13 WIB

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:12 WIB

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:05 WIB

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Health | Minggu, 01 November 2026 | 15:57 WIB

Lautan Manusia Padati Monas, Dubes Palestina Terharu: Dukungan Rakyat Indonesia Sangat Luar Biasa!

Lautan Manusia Padati Monas, Dubes Palestina Terharu: Dukungan Rakyat Indonesia Sangat Luar Biasa!

News | Minggu, 01 November 2026 | 15:55 WIB

Liabilitas PANI Susut Rp2 Triliun di Kuartal III-2026, Laba Bersih Naik 145 Persen

Liabilitas PANI Susut Rp2 Triliun di Kuartal III-2026, Laba Bersih Naik 145 Persen

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 15:45 WIB

×