- Marsadak mencatat 540 kasus penahanan pekerja media di Yaman, termasuk 235 kasus penghilangan paksa sejak 2015.
- Kelompok Houthi dikaitkan dengan 167 kasus penghilangan paksa, dengan wilayah Sanaa mencatatkan jumlah tertinggi.
- Penangkapan wartawan Shadiq Shali di Al-Mocha memicu desakan Serikat Wartawan Yaman agar kondisinya diungkap.
Suara.com - Konflik di Yaman tidak hanya berlangsung melalui pertempuran bersenjata, tetapi juga melalui perebutan kendali atas informasi.
Kebebasan pers kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mencatat ratusan kasus penahanan dan penghilangan paksa terhadap wartawan serta pekerja media sejak 2015.
Dalam tulisannya yang diterbitkan di Alarabiya, Profesor sosiologi politik dari Kuwait Muhammad Al-Rumaihi menyoroti kondisi wartawan di wilayah Yaman.
Al-Rumaihi menilai penguasaan narasi menjadi bagian penting dalam konflik karena pihak yang mengendalikan informasi dapat menentukan bagaimana sebuah peristiwa dipahami publik.
Laporan Observatorium Kebebasan Media Yaman (Marsadak) yang berada di bawah Center for Studies and Economic Media mencatat 540 kasus penahanan sewenang-wenang terhadap wartawan dan pekerja media sepanjang 26 Maret 2015 hingga 15 Agustus 2026.
![Pejuang Houthi meneriakkan slogan saat berada di Sanaa untuk memerangi pasukan pro-pemerintah several di beberapa kota di Yaman, pada 3 Januari 2017. [APF]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2017/03/26/42686-houthi-yaman.jpg)
Dari jumlah tersebut, sebanyak 235 kasus dikategorikan memiliki unsur penghilangan paksa.
Laporan itu juga mencatat bahwa data tersebut merupakan kasus yang berhasil didokumentasikan dan diverifikasi, bukan keseluruhan kasus yang mungkin terjadi di Yaman.
Houthi Dikaitkan dengan Mayoritas Kasus
Menurut laporan Marsadak, kelompok Houthi dikaitkan dengan 167 dari 235 kasus penghilangan paksa yang terdokumentasi atau sekitar 71,1 persen.
Di bawahnya terdapat pemerintah Yaman dengan 37 kasus dan Dewan Transisi Selatan dengan 17 kasus, sementara empat kasus dikaitkan dengan Al-Qaeda dan 10 kasus lainnya belum diketahui pihak yang bertanggung jawab.
Sanaa menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 99 kasus atau sekitar 42,1 persen dari seluruh kasus yang tercatat. Berikutnya adalah Hodeidah dengan 30 kasus, Taiz 26 kasus, dan Aden 23 kasus.
Data tersebut menggambarkan risiko yang dihadapi pekerja media di Yaman.
Penghilangan paksa bukan hanya berarti seseorang kehilangan kebebasan, tetapi juga dapat membuat keluarga tidak mengetahui lokasi maupun kondisi orang yang ditahan.
Kasus Wartawan Shadiq Shali
Persoalan tersebut kembali mendapat perhatian setelah wartawan Yaman, Shadiq Shali, dilaporkan ditangkap dari rumahnya di Kota Al-Mocha pada September 2026.
Serikat Wartawan Yaman meminta agar keberadaan dan kondisi Shali segera diungkap.
Shali diketahui menjabat sebagai direktur pusat media milik National Resistance, kelompok yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman.
Menurut laporan Serikat Wartawan Yaman yang dikutip sejumlah media, rekan-rekannya melaporkan bahwa ia ditangkap dari rumahnya pada 10 September dan keberadaannya belum diketahui.
Ketakutan Menjadi Bentuk Sensor
Dalam tulisannya, Al-Rumaihi menggambarkan bahwa ancaman terhadap wartawan Yaman dapat menciptakan bentuk sensor yang tidak membutuhkan pengawasan di setiap ruang redaksi.
Ketika seorang wartawan khawatir bahwa sebuah berita dapat berujung pada penangkapan atau penghilangan, tekanan tersebut dapat memengaruhi keputusan sebelum berita ditulis.
"Apakah kalimat ini layak membuat saya menghilang? Apakah berita ini layak membuat kelompok bersenjata mendatangi rumah saya pada malam hari? Apa yang akan terjadi pada keluarga saya?" demikian gambaran yang digunakan Al-Rumaihi untuk menjelaskan kondisi tersebut.
Menurutnya, kondisi seperti itu dapat membuat wartawan melakukan penyensoran terhadap dirinya sendiri.
Akibatnya, kontrol terhadap informasi tidak selalu membutuhkan larangan resmi terhadap setiap pemberitaan.
Laporan Marsadak juga menunjukkan bahwa perempuan yang bekerja sebagai wartawan menghadapi tekanan tersendiri.
Selain pembatasan dalam menjalankan profesi, mereka disebut menghadapi intimidasi dan kekerasan digital yang turut membatasi ruang kerja media.