- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam situasi Gaza di Sidang Umum PBB, New York, pada 22 September 2026.
- Erdogan mendesak masyarakat internasional segera merekonstruksi Gaza, meningkatkan tekanan kepada Israel, dan mendorong pengakuan kemerdekaan Palestina.
- Erdogan mengkritik kegagalan PBB dalam menjaga perdamaian serta menuntut reformasi total pada struktur Dewan Keamanan PBB.
Suara.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik keras terhadap situasi di Jalur Gaza saat berpidato dalam Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Selasa (22/9/2026).
Erdogan mendesak masyarakat internasional segera memulai pembangunan kembali Gaza sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Israel.
Ia juga menyerukan agar negara-negara di dunia terus mendorong pengakuan terhadap Palestina.
Dalam pidatonya, Erdogan menggambarkan Gaza dengan istilah yang sangat keras. Ia menyebut wilayah tersebut sebagai kamp konsentrasi paling tidak manusiawi dan paling memalukan di zaman kita.
“Gaza adalah kuburan terbesar bagi anak-anak di dunia,” kata Erdogan, sebagaimana diberitakan Anadolu.
Erdogan juga menyebut lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas di Gaza dalam hampir tiga tahun terakhir.
Angka tersebut disampaikannya sebagai bagian dari kritik terhadap tindakan Israel yang ia sebut sebagai terorisme negara.

Erdogan Desak Rekonstruksi Gaza Segera
Erdogan menilai waktu tidak boleh kembali terbuang untuk memulai proses rekonstruksi Gaza.
Menurutnya, masyarakat internasional perlu memberikan tekanan lebih besar kepada Israel agar proses tersebut dapat berjalan.
“Kita perlu memulai pembangunan kembali Gaza tanpa membuang waktu. Dalam hal ini, saya menyerukan tekanan yang lebih besar terhadap Israel,” ujar Erdogan.
Seruan tersebut muncul di tengah perhatian besar dunia internasional terhadap kondisi kemanusiaan dan kerusakan infrastruktur di Gaza.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pembukaan debat umum juga menyerukan penghentian pertempuran dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat mengalir.
Sejumlah negara juga sebelumnya menyerukan pemulihan infrastruktur penting serta pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Dalam pertemuan di New York, menteri luar negeri Qatar, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi menyerukan pemenuhan komitmen terkait fase pertama rencana komprehensif untuk Gaza.
Erdoaan Tegaskan Dukungan untuk Negara Palestina
Erdoaan turut menyinggung absennya Presiden Palestina Mahmoud Abbas secara langsung dalam sidang tahun ini.
PBB sebelumnya mengadopsi resolusi yang memungkinkan delegasi Palestina mengikuti debat tingkat tinggi secara virtual dan memutar pernyataan Abbas yang telah direkam sebelumnya.
Menurut Erdoaan, ketidakhadiran Abbas secara langsung tidak akan membuat Turki berhenti menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Ia kembali mendukung pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Erdoaan juga mengatakan upaya untuk menghalangi berdirinya negara Palestina pada akhirnya akan gagal.
Kritik Keras terhadap PBB
Selain Gaza, Erdogan menggunakan pidatonya untuk mengkritik kinerja PBB.
Erdogan menilai organisasi yang didirikan 81 tahun lalu untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional telah gagal menjalankan mandatnya.
Erdogan kembali mengangkat seruannya agar Dewan Keamanan PBB direformasi.
Erdogan menegaskan pandangannya bahwa masa depan lebih dari 190 negara tidak semestinya bergantung pada keputusan lima anggota tetap Dewan Keamanan.
“Dunia lebih besar dari lima,” menjadi salah satu pesan utama Erdogan ketika membahas struktur kekuasaan di PBB.