- Bank Dunia menyatakan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2015 menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun.
- Berton Penjaitan dari BNPB menjelaskan asap karhutla memicu gangguan kesehatan jangka panjang serta mengancam permukiman dan transportasi.
- Nisa Novita dari YKAN menilai tantangan utama karhutla adalah kesenjangan antara peringatan dini dan tindakan pencegahan di lapangan.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2015 menyebabkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun, menurut perhitungan Bank Dunia. Kerugian itu mencakup dampak terhadap sejumlah sektor, mulai dari pertanian dan perdagangan hingga kesehatan dan lingkungan.
Namun, nilai kerugian dapat lebih besar jika dampak jangka panjang ikut diperhitungkan, termasuk emisi karbon, gangguan kesehatan, dan kerusakan ekosistem.
Benny Osta Nababan dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan LRI i-MAR IPB mengatakan, perhitungan kerugian karhutla perlu mencakup kerusakan aset, hilangnya produksi dan jasa ekosistem, biaya kesehatan, serta pengeluaran untuk penanganan dan pemulihan.

“Kerugian ekonomi akibat karhutla dapat dihitung. Namun, ketepatan perhitungan bergantung pada kelengkapan data, cakupan dampak, metode valuasi, dan periode waktu yang digunakan,” kata Benny dalam webinar Menakar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan dan Lahan, Kamis (22/10).
Menurut Benny, perhitungan Bank Dunia memperkirakan kerugian akibat karhutla 2015 mencapai 16,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp221 triliun. Sementara itu, laporan yang diterbitkan jurnal Nature Communications mencatat estimasi sebesar 28 miliar dolar AS dengan memasukkan komponen tambahan, seperti dampak emisi karbon, biaya kesehatan jangka panjang, dan kerusakan lingkungan yang lebih luas.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa estimasi kerugian bergantung pada komponen dampak yang dihitung.
Direktur Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Penjaitan, mengatakan dampak karhutla tidak hanya dirasakan di wilayah yang terbakar. Asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, sementara kebakaran juga berisiko mengancam permukiman, menghambat transportasi, dan mengganggu layanan esensial.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan yang dapat memicu iritasi mata, gangguan pernapasan, serta memperburuk penyakit jantung dan paru-paru.
Berton mengatakan, dampak kesehatan tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang dan, dalam kondisi tertentu, meningkatkan risiko kematian dini.
Peringatan Dini Belum Selalu Diikuti Pencegahan
Pakar perubahan iklim dan kehutanan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Nisa Novita, menilai tantangan pengendalian karhutla bukan semata-mata kemampuan memprediksi risiko kebakaran, melainkan memastikan informasi tersebut ditindaklanjuti melalui langkah pencegahan.
Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan pemantauan kondisi iklim dan identifikasi wilayah rawan kebakaran dilakukan lebih akurat, termasuk memperkirakan ancaman El Niño sebelum terjadi.
Namun, menurut Nisa, masih terdapat kesenjangan antara peringatan dini dan tindakan di lapangan.
“Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara peringatan dini dan aksi dini, serta kurangnya koordinasi dan respons yang tepat waktu dari para pemangku kepentingan terkait,” ujarnya.
Dampak jangka panjang juga terlihat pada ekosistem gambut. Drainase, kekeringan, dan kebakaran berulang dapat merusak fungsi gambut sebagai penyimpan karbon. Kerusakan tersebut sulit dipulihkan karena cadangan karbon di dalam tanah terbentuk selama ribuan tahun.