- Warga RT 06 RW 022 Muara Angke, Jakarta Utara, menghadapi banjir rob hampir setiap hari akibat pasang air laut.
- Genangan setinggi 30 hingga 60 sentimeter tersebut merendam kawasan permukiman selama tiga sampai empat jam setiap harinya.
- Letak wilayah yang berbatasan langsung dengan laut dan sungai menyebabkan RT 06 menjadi kawasan paling parah terdampak.
Suara.com - Banjir rob masih menjadi persoalan yang dihadapi warga RT 06 RW 022, Muara Angke, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara.
Genangan akibat pasang air laut tersebut bahkan disebut terjadi hampir setiap hari. Ketinggian air di sejumlah titik permukiman mencapai 60 sentimeter.
Ketua RT 06 RW 022 Muara Angke, Warya, mengatakan waktu kedatangan banjir rob berkaitan dengan perubahan musim.
Saat memasuki musim barat seperti sekarang, air laut biasanya mulai pasang pada pagi hingga siang hari. Sementara itu, saat musim timur, pasang air laut berlangsung pada sore hingga malam hari.
"Air rob ini sekarang masuk pada musim barat nih, ya, kalau musim barat itu airnya, air pasang itu datangnya pada pagi hingga siang hari. Lain kalau pada saat musim timur, itu terjadi pada sore sampai malam," kata Warya kepada Suara.com saat ditemui di wilayah RT 06, Jakarta Utara, Jumat (30/10/2026).
Menurut Warya, banjir rob di kawasan tersebut biasanya terjadi pada awal dan pertengahan bulan.
Pada Oktober ini, genangan bahkan telah berlangsung selama empat hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Jumat.
"Nah, di bulan ini biasanya banjir itu terjadi pada awal bulan dan pertengahan bulan nih. Mengingat sekarang sudah pertengahan bulan di bulan apa, Oktober nih. Iya, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, 4 hari ini," ujarnya.
Warya menuturkan, air mulai memasuki kawasan permukiman sekitar pukul 09.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 12.00 WIB.
Setelah melewati waktu tersebut, ketinggian air mulai berangsur turun.
"Tadi air mulai masuk dari jam-jam 9 ya, nanti jam 12 sudah mencapai puncak, setelah itu baru setelah jam 12 baru bergerak turun," tuturnya.
Meski mulai surut setelah mencapai puncak, air tidak langsung menghilang dari jalanan permukiman.
Warya menyebut genangan biasanya bertahan selama tiga hingga empat jam sebelum kondisi kembali berangsur normal.
"Genangan air itu sekitaran 3 atau 4 jam itu menggenang jalanan di situ," katanya.
Ketinggian air yang merendam kawasan tersebut juga tidak seragam. Perbedaan kondisi permukaan tanah membuat sejumlah titik mengalami genangan lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya.
Warya menyebut ketinggian air berkisar 30 hingga 40 sentimeter, bahkan dapat mencapai 50 hingga 60 sentimeter di titik yang lebih rendah.
"Satu dengkul orang dewasa beragam sih kalau di sini 30-40, mungkin kalau di situ bisa nyampe 50 atau bahkan 60 di situ, karena di situ titiknya paling rendah," jelasnya.
Dari seluruh wilayah RW 022, RT 06 menjadi kawasan yang paling terdampak banjir rob.
Warya menjelaskan, letak permukiman yang berbatasan langsung dengan laut di sebelah utara dan sungai di sebelah barat membuat wilayah tersebut kerap mengalami genangan ketika air pasang.
"Kalau khusus untuk di wilayah RW 22 itu yang paling terdampak memang di wilayah RT 06 karena berbatasan langsung dengan sebelah utara dengan laut, sebelah barat dengan sungai itu," ungkapnya.
Warya menyebut banjir rob yang berulang sudah menjadi kondisi yang hampir setiap hari dihadapi warga RT 06. Genangan tersebut terus membasahi jalanan permukiman ketika air laut pasang.
"Ya, kalau yang sudah kita alami di sini ya, itu hampir setiap hari, hampir setiap hari banjir itu terus menggenangi di wilayah RT 06," katanya.
Dia pun menggambarkan kondisi tersebut sebagai keadaan alam yang terus harus dihadapi warga setempat. Pasalnya, air pasang masih kerap menyebabkan jalanan di lingkungan mereka tergenang.
"Jadi ya memang kondisi alam harus seperti ini ya kita mau bagaimana lagi, gitu kan, tetap banjir itu selalu menggenangi jalan-jalan kita di sini," pungkasnya.
Reporter: Agustin Dwi Anggraini