Terjebak Perang Dagang, Harley-Davidson Bakal Hengkang ke Eropa?

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Terjebak Perang Dagang, Harley-Davidson Bakal Hengkang ke Eropa?
Harley-Davidson Iron 1200 dibekali tenaga mesin Evolution 1200 V-Twin yang menghasilkan torsi 34 persen lebih besar dibandingkan mesin 883 Evolution. Sebagai ilustrasi produk Harley-Davidson [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].

Terkenal sebagai produsen The American Irons, Harley-Davidson bakal hengkang ke benua lain.

Suara.com - CEO Harley-Davidson Matt Levatich mengatakan tengah mempertimbangkan rencana untuk membangun pabrik di Benua Eropa jika perang dagang tidak juga membaik.

Harley-Davidson FXDR 114, power cruiser yang menggabungkan kekuatan dari mesin Milwaukee-Eight 114 dengan penggunaan aluminium ringan dan komponen komposit  [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].
Harley-Davidson FXDR 114, power cruiser yang menggabungkan kekuatan dari mesin Milwaukee-Eight 114 dengan penggunaan aluminium ringan dan komponen komposit. Sebagai ilustrasi produk Harley-Davidson [Suara.com/Manuel Jeghesta Nainggolan].

Berbicara di Squawk Alley CNBC, Matt Levatich mengakui tarif yang mahal membuat perusahaan sulit untuk mempertahankan harga jual.

"Sekitar 100 juta dolar Amerika Serikat (AS) per tahun adalah angka yang harus kami keluarkan untuk melindungi bisnis di Eropa," kata Matt Levatich, seperti dikutip dari MCN.

Ia menambahkan, biaya tinggi yang dikeluarkan sulit untuk membuat perusahaan bertahan. Terlebih saat ini Harley-Davidson siap memasarkan sepeda motor listrik LiveWire.

Posisi Harley-Davidson saat ini memang terjebak dalam perang dagang antara Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan kenaikan tarif impor hingga 31 persen. Bahkan perubahan politik dagang ini membuat tarif melonjak menjadi 56 persen dalam waktu dua tahun.

"Perusahaan di Amerika Serikat tidak ada pilihan selain mempertimbangkan pendekatan alternatif," tegas Matt Levatich.

Belakangan, beberapa merek besar otomotif bahkan telah berjanji untuk melakukan investasi di Amerika Serikat sejak Donald Trump mulai menjabat pada Januari 2017. Perang dagang memberikan tekanan terhadap para produsen dalam membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi warganya.

Bahkan raksasa otomotif asal Jepang, Toyota telah berjanji untuk berinvestasi hampir 13 miliar dolar AS antara 2017 dan 2021, agar bisa meningkatkan kapasitas produksi dan lapangan kerja. Jumlah ini termasuk investasi sebesar 1,6 miliar dolar AS bersama Mazda Motor Corporation dalam membangun pabrik perakitan di Alabama, Amerika Serikat.

Namun di sisi lain, hal ini juga berdampak terhadap perusahaan asal Negeri Paman Sam yang harus membayar pajak tinggi saat akan mengekspor produknya ke negara lain.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS