alexametrics

Transisi Menuju Kendaraan Listrik Kurangi Banyak Tenaga Kerja

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Transisi Menuju Kendaraan Listrik Kurangi Banyak Tenaga Kerja
Ilustrasi seperti suku cadang dan komponen otomotif [Shutterstock]

Adanya industri mobil listrik dan sepeda motor elektrifikasi menyebabkan terjadinya pengangguran.

Suara.com - Pengurangan jumlah pekerja dalam jumlah besar menjadi salah satu isu sensitif di tengah transisi menuju kendaraan listrik (EV). Termasuk untuk pabrik pendukungnya seperti suku cadang dan komponen otomotif.

Baru-baru ini karyawan perusahaan suku cadang Bosch, menggelar aksi protes di tengah kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mengancam sebanyak 1.000 pekerja.

Menurut serikat pekerja IG Metall, sekitar 3.000 pekerja untuk produsen suku cadang mobil terbesar di Eropa ini melancarkan protes atas rencana Bosch di Buehl. Dalam aksi itu, serikat pekerja bergabung dengan pekerja lain di pabrik Munich dan Arnstadt.

Kabarnya pabrik Buehl akan menghentikan 1.000 pekerja pada 2025 sebagai akibat dari relokasi. Sedangkan pabrik Arnstadt akan memangkas 100 pekerja dan pabrik Munich mengurangi 250 pekerja.

Baca Juga: Sean Gelael dan Bamsoet Kecelakaan Saat Balapan Rally, Ini Spesifikasi dan Harga Mobilnya

Stasiun pengisian ulang baterai mobil (Shutterstock).
Mobil listrik tengah mengisi ulang baterai di stasiun pengisian ulang baterai (Shutterstock).

Seorang juru bicara Bosch mengatakan, pergeseran global menuju kendaraan listrik membuat perusahaan perlu beradaptasi dengan perubahan permintaan.

"Tujuan kami adalah selalu merancang langkah-langkah dalam dialog bersama pekerja dengan tujuan melihat peluang pekerjaan baru di luar perusahaan," kata juru bicara Bosch, dikutip dari Carscoops.

Namun Frank Sell, kepala dewan kerja untuk divisi solusi mobilitas Bosch, menyatakan, "Tidak ada yang menyangkal bahwa perubahan struktural di Bosch membutuhkan upaya besar. Tetapi transformasi harus adil dan fokus pada pekerja."

Sebelumnya, CEO Bosch, Volkmar Denner, mengkritik keras rencana Uni Eropa untuk menghapus mesin pembakaran internal. Rencana ini dinilai mengabaikan kemungkinan akan banyaknya pengangguran.

Baca Juga: Transisi Menuju Mobil Listrik, Mitsubishi Buka Peluang Mengisi Segmen Komersial

Komentar