Suara.com - Tesla, sang pelopor mobil listrik ternama, tengah dihadapkan pada kenyataan pahit. Penjualan mereka di kuartal kedua 2024 mengalami penurunan, meski sudah memberikan diskon besar-besaran ke konsumen.
Berdasarkan data Carscoops, Tesla hanya mampu mengirimkan 443.956 unit mobil listrik kepada pelanggan globalnya selama periode April hingga Juni 2024. Angka ini lebih rendah 4,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2023.
Penurunan ini semakin diperparah dengan perbandingan year on year. Dibandingkan dengan kuartal kedua 2023, penjualan Tesla di kuartal kedua 2024 anjlok. Hal ini menjadi penurunan kuartal pertama secara year on year sejak tahun 2020.
![Mobil listrik Tesla Model 3 diresmikan saat acara peluncuran resmi Tesla di Bangkok, Thailand, Rabu (7/12/2022). [Lillian SUWANRUMPHA/AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/12/08/59725-mobil-listrik-tesla-tesla-model-3.jpg)
Menyadari kondisi ini, Tesla memberikan potongan harga besar-besaran untuk beberapa model mereka di berbagai negara. Di Australia, misalnya, Model Y didiskon senilai Rp155 juta, sedangkan Model 3 didiskon Rp114,3 juta.
Meskipun strategi diskon ini berhasil meningkatkan harga saham Tesla, sayangnya tak cukup mendongkrak penjualan. Penurunan penjualan Tesla ini disinyalir akibat persaingan ketat dengan produsen mobil listrik asal China, seperti BYD, yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Penurunan penjualan dan kegagalan strategi diskon ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan Tesla. Apakah Tesla mampu bangkit dari keterpurukan ini dan kembali menjadi pemimpin di industri mobil listrik? Hanya waktu yang bisa menjawab.