Suara.com - Honda Jazz menjadi salah satu hatchback paling ikonik di Indonesia. Sejak pertama kali hadir pada 2004, mobil ini dikenal lewat desain sporty, kabin lega, serta performa mesin yang seimbang antara tenaga dan efisiensi bahan bakar.
Meski sempat dihentikan produksinya pada 2021 dan digantikan Honda City Hatchback, nama Jazz tetap hidup di pasar mobil bekas.
Bahkan pada 2024, Honda kembali menghadirkan Jazz generasi terbaru dengan pendekatan berbeda.
Berikut ulasan lengkap harga Honda Jazz dari tahun ke tahun, spesifikasi, pajak tahunan, hingga konsumsi BBM-nya.
Harga Honda Jazz dari tahun ke tahun berbeda, tetapi perbedaannya tidak banyak. Dibandingkan harga baru, Honda Jazz second tetap diminati karena sejumlah keunggulan.
Performa mesinnya tangguh namun irit, kabinnya luas dan nyaman, serta desainnya timeless sehingga tidak cepat terlihat ketinggalan zaman.
Selain itu, jaringan bengkel Honda luas dan suku cadangnya mudah ditemukan, membuat biaya perawatan relatif terkendali.
Faktor lain yang membuat Jazz menarik adalah nilai jual kembali yang stabil dibandingkan hatchback sekelasnya.
Di segmen hatchback, Honda Jazz bersaing dengan Toyota Yaris dan Suzuki Swift. Jazz unggul dari sisi kelapangan kabin dan fleksibilitas bagasi.
Baca Juga: Beda dari Valco Hatchback, Ini 4 Fakta Toyota Etios Sedan: Pajak Miring, BBM Lumayan Irit
Handling-nya stabil dan nyaman untuk pemakaian harian maupun perjalanan jauh. Nilai resale juga cenderung lebih baik, menjadikannya pilihan aman bagi pembeli mobil bekas.

Spesifikasi Umum Honda Jazz
Sebagian besar Honda Jazz yang beredar di Indonesia menggunakan mesin 1.500 cc 4 silinder dengan teknologi VTEC atau i-VTEC.
Mesin ini dikenal responsif, halus, dan relatif irit bahan bakar.
Tenaga rata-rata berada di kisaran 120 dk dengan torsi sekitar 145 Nm, dipadukan dengan transmisi manual 5-percepatan atau CVT.
Dimensi bodinya kompak, namun kabin terasa lega berkat konfigurasi bangku dan bagasi yang fleksibel.
Konsumsi BBM Honda Jazz
Dari sisi efisiensi, Honda Jazz termasuk hemat untuk kelas hatchback 1.500 cc. Konsumsi BBM generasi pertama berada di kisaran 12–14 km/liter untuk dalam kota dan hingga 16 km/liter untuk luar kota.
Generasi kedua mencatatkan konsumsi sekitar 13 km/liter dalam kota dan 15 km/liter luar kota.
Sementara generasi ketiga yang sudah memakai CVT Earth Dreams lebih efisien, dengan konsumsi rata-rata 12 km/liter di dalam kota dan hingga 17 km/liter di jalan bebas hambatan.
Perbedaan angka ini sangat dipengaruhi kondisi kendaraan, gaya mengemudi, serta lalu lintas harian.
Harga Honda Jazz dari Tahun ke Tahun
Di pasar mobil bekas, harga Honda Jazz relatif stabil. Untuk model generasi ketiga yang paling banyak diburu, kisaran harganya sebagai berikut:
- Honda Jazz 2017: Rp180–200 jutaan
- Honda Jazz 2018: Rp190–220 jutaan
- Honda Jazz 2019: Rp210–240 jutaan
Stabilnya harga ini dipengaruhi oleh reputasi Jazz sebagai mobil awet, mudah dirawat, dan memiliki nilai jual kembali yang baik. Bagi pencari Honda Jazz bekas di kisaran Rp200 jutaan, model 2017 hingga 2018 masih menjadi pilihan paling rasional.
Pajak Tahunan Honda Jazz
Besaran pajak Honda Jazz berbeda tergantung tahun produksi dan tipe. Untuk Jazz generasi lama, pajak tahunan relatif masih terjangkau. Sebagai gambaran:
- Honda Jazz 2017: sekitar Rp3,1–4 jutaan per tahun
- Honda Jazz 2018: sekitar Rp3,5–4,1 jutaan per tahun
- Honda Jazz 2019: sekitar Rp3,6–4,2 jutaan per tahun
- Honda Jazz 2020–2021: bisa mencapai Rp4,3–4,4 jutaan per tahun
Sementara itu, Honda Jazz terbaru yang hadir kembali pada 2024 memiliki pajak lebih tinggi, mulai dari sekitar Rp5 jutaan hingga mendekati Rp6 jutaan per tahun, seiring harga jual dan statusnya sebagai model baru.
Demikian itu informasi harga mobil Honda Jazz dari tahun ke tahun. Harga di pasaran dapat dikatakan stabil, konsumsi BBM efisien, pajak tahunan yang masih rasional, serta reputasi mesin yang tangguh membuatnya tetap relevan hingga kini.
Baik memilih Jazz lawas maupun versi terbaru, mobil ini masih layak dipertimbangkan bagi mereka yang menginginkan hatchback praktis dengan nilai jangka panjang yang baik.
Kontributor : Mutaya Saroh