Kontroversi Impor Mobil India Rp 24 Triliun Saat Pabrik Lokal Sedang Nganggur

Manuel Jeghesta Nainggolan

Senin, 23 Februari 2026 | 16:05 WIB
Kontroversi Impor Mobil India Rp 24 Triliun Saat Pabrik Lokal Sedang Nganggur
Ilustrasi mobil pick up Mahindra Scorpio (Instagram)
baca 10 detik
  • Pemerintah berencana mengimpor 105.000 mobil dari India senilai Rp24,66 triliun untuk operasional Koperasi Merah Putih.
  • Kebijakan ini memicu polemik karena industri otomotif domestik masih memiliki jutaan kapasitas produksi yang menganggur.
  • Impor beralasan ekonomi ini berisiko memunculkan masalah ketersediaan suku cadang serta merugikan industri manufaktur lokal.

Suara.com - Rencana impor mobil dari India dengan kontrak senilai Rp 24,66 Triliun untuk operasional Koperasi Merah Putih menimbulkan polemik di tengah banyaknya kapasitas produksi sektor otomotif yang menganggur.

Pemerintah lebih memilih untuk mengimpor mobil secara utuh (CBU) dengan rincian 35.000 unit Scorpio pick up dipasok oleh Mahindra dan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Gabungan Idustri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat, saat ini ada 61 perusahaan anggota GAIKINDO memiliki total kapasitas produksi hingga 2,5 juta unit per tahun.

Khusus untuk segmen pick up, kapasitas produksi nasional mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun.

Mirisnya, angka besar ini belum terserap sepenuhnya oleh pasar. Bahkan produk lokal tipe 4×2 juga sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen dengan dukungan jaringan servis yang merata.

Keputusan untuk melakukan impor mobil dari India bahkan dinilai hanya melihat faktor ekonomi semata tanpa ada urgensi yang mengharuskan melakukan impor.

"Agrinas atau siapapun yang ada di belakangnya jelas hanya melihat dari sudut ekonomi, karena harga impor 20%-50% lebih murah setelah pajak AIFTA. Sehingga memungkinkan penghematan anggaran perusahaan hingga Rp5-10 triliun," ujar Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung kepada Suara.com, Senin (23/2/2026).

Ilustrasi rencana impor 105.000 unit pick-up India dalam bentuk CBU. (Foto: TATA Motors)
Ilustrasi rencana impor 105.000 unit pick-up India dalam bentuk CBU. (Foto: TATA Motors)

Lebih lanjut, Yannes menilai, kebijakan ini sangat disruptif terhadap industri otomotif domestik yang memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta unit per tahun dan model setara seperti Toyota Hilux, Isuzu Traga, Mitsubishi L300, Daihatsu Gran Max, atau Suzuki Carry yang sudah memenuhi TKDN

Jadi upaya bisnis impor CBU Mahindra dan Tata Motors yang dilakukan Agrinas ini agak membingungkan, karean ada resiko mismatch kebutuhan, sebab tidak semua desa butuh kendaraan angkut 4x4.

baca juga

"Jelas, tanpa pemetaan berbasis data, armada berisiko jadi idle asset. Lalu bakal muncul masalah berikutnya, dengan ketergantungan spare part & aftersales untuk 105rb unit, hampir setara dengan total wholesales pikap domestik 2025 yang berada di kisaran 107.000 unit, kalau jaringan aftersales serive dan spareaprtsnya belum siap dijamin bakal menimbulkan risiko downtime (kendaraan jadi idle) dalam jangka panjangnya," tegas Yannes.

Sementara itu, Marketing Communications Manager PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Puti Annisa Moeloek menyampaikan, Isuzu menghormati setiap kebijakan dan keputusan bisnis yang diambil oleh Agrinas dalam mendukung program strategis nasional.

Hanya saja pihaknya berharap ada pertimbangan keberadaan manufaktur lokal yang memang memiliki manfaat ekonomi dalam negeri.

"Kami tentu berharap setiap pengadaan kendaraan dapat mempertimbangkan keberadaan dan kapasitas manufaktur lokal yang sudah ada di Indonesia agar dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," kata Annisa.

Pick Up Mahindra Pernah Kena Recall

Mahindra tercatat pernah melakukan recall atau penarikan kembali terhadap kendaraan pikapnya dalam beberapa kesempatan. Salah satu kampanye dilakukan terhadap 29.878 unit kendaraan Pik-Up yang diproduksi antara Januari 2020 hingga Februari 2021.

Berdasarkan laporan media otomotif Carandbike, penarikan kembali tersebut dilakukan untuk inspeksi serta penggantian pipa fluida yang diduga mengalami perakitan kurang tepat.

Perusahaan menyebut langkah ini sebagai tindakan proaktif yang dijalankan sesuai kode sukarela vehicle recall serta dilakukan tanpa biaya bagi konsumen.

Selain itu, pada periode berbeda Mahindra juga melakukan penarikan sekitar 600 unit kendaraan yang diproduksi di fasilitas Nashik. Penarikan tersebut berkaitan dengan dugaan keausan dini komponen mesin akibat kemungkinan penggunaan bahan bakar terkontaminasi pada batch produksi tertentu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Impor Pikap India untuk Kopdes Perlu Pertimbangkan Manufaktur Lokal

Impor Pikap India untuk Kopdes Perlu Pertimbangkan Manufaktur Lokal

Otomotif | Senin, 23 Februari 2026 | 15:05 WIB

Impor 105 Ribu Pikap India PT Agrinas Dianggap Berlawanan dengan Program Prabowo

Impor 105 Ribu Pikap India PT Agrinas Dianggap Berlawanan dengan Program Prabowo

Bisnis | Senin, 23 Februari 2026 | 14:20 WIB

Ancaman Impor Mobil India Terhadap Nasib Ribuan Buruh Komponen Otomotif Lokal

Ancaman Impor Mobil India Terhadap Nasib Ribuan Buruh Komponen Otomotif Lokal

Otomotif | Senin, 23 Februari 2026 | 13:34 WIB

Terkini

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Juara Umum Popprov DKI 2026, Atlet Pelajar Jakarta Barat Diguyur Bonus

Sport | Rabu, 16 September 2026 | 05:25 WIB

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

×