- KPK melakukan OTT terhadap Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, di wilayah Pekalongan pada Selasa, 3 Februari 2026.
- Harta kekayaan Fadia Arafiq melonjak signifikan dari Rp45,33 miliar (2020) menjadi Rp85,62 miliar (2024).
- Peningkatan signifikan aset Fadia meliputi penambahan koleksi properti dan penggantian kendaraan sederhana menjadi mobil mewah.
Suara.com - Hari Selasa (3/2/2026) menjadi momen yang mengejutkan bagi publik di Jawa Tengah. Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Pekalongan dan berhasil mengamankan Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq.
Penangkapan ini dilakukan secara senyap oleh lembaga antirasuah tersebut sebelum akhirnya sang Bupati langsung diboyong menuju Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di gedung merah putih.
Alasan Penangkapan Fadia Arafiq oleh KPK
Hingga saat ini, pihak KPK memang belum membeberkan secara detail mengenai kasus korupsi spesifik yang melatarbelakangi penangkapan tersebut.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, hanya mengonfirmasi bahwa Fadia ditangkap bersama sejumlah pihak lainnya di wilayah Pekalongan.
Operasi di Pekalongan ini tercatat sebagai OTT KPK ketujuh yang dilakukan sepanjang tahun 2026.
Sebelum kasus ini mencuat, KPK juga sudah melakukan serangkaian operasi senyap lainnya, mulai dari kasus pemeriksaan pajak di Ditjen Pajak, pemerasan oleh Wali Kota Madiun, hingga kasus suap sengketa lahan di PN Depok.
Lonjakan Harta yang Bikin Geleng Kepala
Seiring dengan kabar penangkapan ini, publik pun mulai menyoroti isi dompet sang bupati melalui data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
Baca Juga: Kontroversi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Kakak Fairuz A Rafiq yang Terjerat OTT KPK
Jika melihat ke belakang saat baru mencalonkan diri sebagai bupati pada periode 2020, total harta kekayaan Fadia tercatat sebesar Rp45,33 miliar.
Namun, setelah menjabat beberapa tahun, angka tersebut melesat tajam.
Berdasarkan laporan periodik tahun 2024, total kekayaan Fadia Arafiq kini menyentuh angka Rp85,62 miliar.
Kenaikan yang hampir mencapai dua kali lipat ini didominasi oleh aset tanah dan bangunan yang jumlahnya bertambah secara signifikan.
Jika pada 2020 ia hanya melaporkan 7 aset properti senilai Rp15,71 miliar, di tahun 2024 jumlah asetnya membengkak menjadi 26 properti yang tersebar di Pekalongan, Bogor, Jakarta, hingga Bali dengan nilai total fantastis mencapai Rp74,29 miliar.
Isi Garasi yang Berubah Drastis dari 2020 ke 2024