-
Motor matik bermesin besar wajib menggunakan Pertamax untuk menjaga performa mesin.
-
Kendaraan di atas 250 cc secara aturan dilarang menggunakan subsidi Pertalite.
-
Rasio kompresi tinggi menuntut bahan bakar oktan 92 agar tidak knocking.
Masuk dalam kasta tertinggi keluarga Maxi Yamaha, TMAX adalah moge berbentuk matic dengan harga yang fantastis tembus Rp 450 juta.
Dengan mesin dua silinder 560cc, sangat tidak masuk akal jika motor seharga rumah ini masih antre Pertalite.
Rasio kompresi 10,9:1 miliknya membutuhkan RON tinggi (minimal 92, disarankan 95/98) agar tenaga 560cc-nya keluar secara maksimal.
Memakai Pertalite di motor ini sama saja dengan menyiksa komponen mesin premium yang harganya selangit.
4. Yamaha SMAX (155 cc)
Meski kapasitas mesinnya hanya 155cc, serupa dengan NMAX atau Aerox.
Yamaha SMAX dirancang sebagai skutik premium dengan spesifikasi mesin yang butuh perhatian lebih.
Meskipun motor di bawah 250cc belum secara resmi dilarang oleh aturan pemerintah saat ini, tetapi para ahli sangat tidak menyarankan SMAX menggunakan Pertalite.
Rasio kompresinya menuntut pembakaran sempurna agar performa lincahnya tetap terjaga dan mesin tidak cepat berkerak.
5. Honda X-ADV (750 cc)
Motor matic petualang yang memiliki mesin 745cc parallel-twin, Honda X-ADV lebih pantas disebut moge daripada sekadar skutik.
Mengingat statusnya sebagai motor mewah dengan teknologi Dual Clutch Transmission (DCT), penggunaan Pertalite sangat dilarang.
Pemilik X-ADV disarankan menggunakan Pertamax Green 95 atau Pertamax Turbo untuk menjaga sistem injeksi PGM-FI tetap bersih dan performa off-road maupun on-road tetap bertenaga.
Bagi motor-motor di atas, penggunaan BBM oktan tinggi bukan sekadar gaya-gayaan.
Bahan bakar oktan 92 ke atas (Pertamax) memiliki zat aditif pembersih yang menjaga ruang bakar dari tumpukan karbon.