- Harga BBM melompat drastis dari Premium Rp150 di Orba hingga Pertamax Rp17.000 era Prabowo.
- Kendaraan modern berkompresi tinggi wajib menggunakan BBM oktan minimal 92 (Pertamax) demi keawetan mesin.
- Memaksa mesin modern meminum BBM subsidi berisiko memicu kerusakan internal dengan biaya perbaikan mahal.
Suara.com - Para pemilik mobil dan motor keluaran terbaru baru saja mendapat "kejutan" di mesin pompa SPBU. Pada Rabu (10/6/2026), PT Pertamina Patra Niaga mendadak mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi lebih dari 30 persen:
- Pertamax (RON 92): Naik dari harga sebelumnya menjadi Rp16.250 per liter
- Pertamax Green 95: Menembus angka psikologis Rp17.000 per liter
Bagi pengguna kendaraan modern, lonjakan harga di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini membawa dilema otomotif sejati.
Tidak seperti di era kakek-nenek kita di mana mobil bisa menenggak bensin apa saja, mesin kendaraan hari ini "disandera" oleh rasio kompresi tinggi yang menuntut oktan tinggi.
Turun kasta ke BBM subsidi bisa berarti malapetaka bagi komponen internal mesin.
Jika kita melihat ke belakang, sejarah pergerakan harga BBM di Indonesia bukan sekadar catatan inflasi dan kebijakan politik, melainkan juga cerminan bagaimana "diet" mesin kendaraan kita berevolusi dari masa ke masa.
1. Era Soekarno & Awal Soeharto
Di masa ini, harga BBM sangat murah karena menyesuaikan nilai mata uang saat itu, meski pada era Soekarno daya beli masyarakat sempat hancur akibat hiperinflasi.
- 1965 (Era Soekarno): Sekitar Rp0,30 per liter
- 1966 (Era Soekarno): Naik ke Rp1 per liter (sebelum akhirnya ada redenominasi rupiah).
- 1980 (Era Soeharto): Premium di angka Rp150 per liter
- 1998 (Krisis Moneter): Melonjak drastis hingga Rp1.200 per liter
Ini adalah masa keemasan mesin-mesin "badak". Mobil-mobil seperti Toyota Kijang Doyok, Holden lawas, atau motor Honda Astrea menggunakan sistem karburator dengan rasio kompresi mesin yang sangat rendah (sekitar 8:1 atau 9:1).
Mesin-mesin ini tidak "rewel". Diberi BBM beroktan rendah (RON 88) pun mesin tetap meraung tanpa keluhan "ngelitik" (engine knocking). BBM murah, perawatan pun sangat mudah.
2. Era Reformasi (Habibie, Gus Dur, Megawati)
Melewati badai krisis 1998, harga BBM mulai fluktuatif menyesuaikan harga minyak dunia dan pemulihan ekonomi:
- 1998-1999 (Era Habibie): Turun menjadi Rp1.000 per liter
- 1999 (Era Gus Dur): Sempat turun ke Rp600 per liter, lalu naik bertahap hingga Rp1.450 per liter di 2001.
- 2003 (Era Megawati): Premium merangkak naik mencapai Rp1.810 per liter
Di periode inilah revolusi di bawah kap mesin mulai terjadi. Pemerintah mulai memperkenalkan BBM non-subsidi bernama Pertamax untuk pertama kalinya.
Di jalanan, teknologi karburator pelan-pelan mulai digantikan oleh injeksi elektronik (EFI) yang lebih presisi.
Mesin mulai membutuhkan pembakaran yang lebih bersih, meski sebagian besar masyarakat masih "memaksa" pakai Premium karena harganya yang sangat murah disubsidi pemerintah.
![Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/10/13632-kenaikan-harga-bbm-ilustrasi-harga-bbm-ilustrasi-spbu.jpg)
3. Era SBY & Jokowi
Ini adalah era di mana harga BBM mengalami lompatan paling dramatis, sekaligus mengubah lanskap teknologi mobil di Indonesia secara permanen.
- 2005-2013 (Era SBY): Akibat harga minyak dunia tembus $140/barel, Premium meroket dari Rp2.400, lalu ke Rp4.500, hingga puncaknya Rp6.500 per liter.
- 2014 (Era Jokowi): Premium sempat menyentuh Rp8.500 per liter.
- 2022 (Era Jokowi): Premium perlahan dihapus. Masyarakat beralih ke Pertalite (RON 90) yang harganya dikunci di Rp10.000 per liter.
Mahalnya harga BBM membuat konsumen menuntut kendaraan yang lebih irit.
Pabrikan otomotif merespons dengan menghadirkan mesin berteknologi katup variabel seperti VVT-i dan VTEC, hingga lahirnya program Low Cost Green Car (LCGC) seperti Brio, Agya, dan Ayla.
Syarat utama agar mesin irit dan bertenaga adalah rasio kompresi mesin dinaikkan drastis (rata-rata di atas 10:1).
Efeknya, mesin ini sebenarnya sudah "diharamkan" minum Premium (RON 88) dan menjadikan Pertalite (RON 90) sebatas BBM kompromi, bukan BBM ideal.
4. Era Prabowo
Hingga pertengahan 2026, ketegangan geopolitik Timur Tengah membuat harga minyak mentah Brent naik ke $92 per barel. Imbasnya langsung terasa di pompa SPBU non-subsidi:
- Pertalite & Solar (Subsidi): Ditahan di Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.
- Pertamax (RON 92): Melonjak 32% menjadi Rp16.250 per liter.
- Pertamax Green 95: Naik mendekati 32% menjadi Rp17.000 per liter.
Di sinilah letak buah simalakama bagi pemilik mobil modern. Buku manual kendaraan keluaran lima hingga sepuluh tahun terakhir mayoritas sudah mewajibkan BBM dengan minimum oktan 92.
Jika Anda nekat "turun kasta" ke Pertalite Rp10.000 demi menyelamatkan dompet bulanan, risikonya sangat nyata.
Pembakaran dini pada mesin berkompresi tinggi akan menimbulkan bunyi ngelitik, penumpukan kerak karbon di ruang bakar yang parah, dan keausan piston.
Pada akhirnya, biaya turun mesin dan perbaikan di bengkel jelas akan jauh melampaui uang receh yang Anda hemat dari selisih beli bensin.
Menelusuri sejarah BBM dari Rp150 hingga Rp17.000 membuktikan bahwa kenaikan bensin bukan sekadar urusan negara mengatur APBN.
Ini adalah cerita tentang kendaraan di garasi kita yang semakin canggih, semakin efisien, namun semakin "borjuis" urusan makanan.
Pada akhirnya, kita semua harus rela merogoh kocek lebih dalam, karena dompet kita kini dijepit oleh dua hal: harga minyak global dan buku manual pabrikan.