-
Rilis 1 Juli 2026, B50 jadi Biosolar subsidi dengan harga Rp 6.800 per liter.
-
Kandungan B50 terdiri dari komposisi seimbang, yakni 50% minyak sawit dan 50% solar murni.
-
B50 aman dan teruji kinerjanya untuk kendaraan bermesin diesel dengan kebutuhan torsi besar.
Suara.com - Pilihan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan segera bertambah. Mulai 1 Juli 2026 mendatang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersiap mengumumkan implementasi penggunaan bahan bakar Biodiesel 50 persen atau yang lebih dikenal dengan sebutan B50.
Rencananya, bahan bakar jenis ini akan didistribusikan secara massal dan tersedia di seluruh SPBU di Indonesia. Kehadiran B50 ini seolah menjadi oase bagi masyarakat, khususnya para pengguna kendaraan bermesin diesel, di tengah dinamika kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green pada awal Juni lalu.
Di SPBU, produk biodiesel ini akan tetap dipasarkan dengan nama Biosolar dan berstatus sebagai BBM subsidi dengan banderol harga Rp 6.800 per liter.
Namun, apa sebenarnya BBM B50 itu dan apa bedanya dengan biosolar yang sudah ada saat ini?
Kandungan Minyak Nabati Lebih Tinggi
![Kementerian ESDM mengatakan pengujian BBM diesel B50 di alat berat berjalan sukses. [Dok Kementerian ESDM]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/80607-b50.jpg)
Sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, pemerintah terus meningkatkan bauran energi terbarukan.
Jika sebelumnya masyarakat sudah akrab dengan B35 (campuran 35 persen minyak sawit dan 65 persen solar murni) atau B40 (40 persen minyak sawit dan 60 persen solar murni), B50 merupakan tingkatan selanjutnya.
Sesuai namanya, bahan bakar B50 memiliki komposisi yang seimbang, yakni terdiri dari 50 persen minyak sawit yang dipadukan dengan 50 persen solar murni. Artinya, kandungan minyak nabatinya jauh lebih padat dibandingkan generasi sebelumnya.
Andalan untuk Kendaraan Bertorsi Besar
Dari sisi otomotif dan transportasi, penggunaan BBM jenis biodiesel ini secara khusus ditujukan untuk kendaraan bermesin diesel.
Karakteristik bahan bakar ini sangat cocok untuk kendaraan yang membutuhkan torsi (tenaga tarikan) besar serta diperuntukkan bagi operasional mobilitas jarak jauh.
Oleh karena itu, B50 akan menjadi andalan utama tidak hanya untuk mobil diesel harian, tetapi juga untuk kendaraan niaga, alat berat pertambangan, traktor pertanian, hingga kendaraan taktis.
Telah Teruji di Berbagai Sektor Mesin
Bagi pemilik kendaraan diesel yang mungkin khawatir dengan peningkatan kadar minyak sawit ini, pemerintah memastikan bahwa B50 aman digunakan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa B50 telah melalui serangkaian uji coba komprehensif pada berbagai sektor permesinan.
Uji coba ini mencakup alat pertanian, genset, alat berat pertambangan, perkapalan, hingga sektor otomotif secara umum.
Hasil pengujian pada mesin diesel menunjukkan kinerja yang sangat baik, baik dari sisi operasional maupun teknis.
Bahkan, B50 juga sedang difokuskan untuk diuji pada sektor perkeretaapian yang dikenal sebagai moda transportasi massal dengan konsumsi energi diesel sangat besar dan karakteristik operasional yang berat. Dengan hasil uji yang positif ini, pemerintah optimistis implementasi B50 siap dieksekusi secara nasional bulan depan.