- Indonesia dan Malaysia resmi berkolaborasi lewat proyek Baterai Nusantara untuk mengembangkan ekosistem energi hijau regional.
- Indonesia menyediakan material baterai dan katoda, sedangkan Malaysia menyiapkan infrastruktur untuk memproduksi sel baterai siap pakai.
- Kerja sama ini bertujuan melepaskan ASEAN dari ketergantungan terhadap produsen baterai luar kawasan pada masa depan.
Suara.com - Indonesia dan Malaysia resmi menjalin kolaborasi strategis dalam mengembangkan baterai kendaraan listrik melalui proyek bertajuk Baterai Nusantara. Langkah besar ini diambil guna membangun ekosistem energi hijau yang lebih mandiri di kawasan Asia Tenggara.
Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN yang juga Founder National Battery Research Institute atau NBRI, Evvy Kartini menjelaskan bahwa kedua negara berbagi peran penting dalam proyek tersebut. Indonesia berfokus pada penyediaan bahan baku sementara Malaysia menyiapkan infrastruktur pengolahan.
“Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai,” ujarnya dikutip dari Antara Jumat, 28 Agustus 2026.
Dalam prosesnya material yang dikembangkan di Indonesia akan dikirim ke Malaysia untuk diolah menjadi baterai siap pakai. Produk inovatif ini bahkan sudah diperkenalkan kepada kementerian terkait di Malaysia sebagai wujud nyata keseriusan kedua negara.
Evvy menegaskan bahwa visi utama dari kerja sama ini adalah menciptakan rantai pasok yang solid di level regional. Hal ini bertujuan agar negara-negara di Asia Tenggara tidak lagi memiliki ketergantungan tinggi pada produsen baterai dari luar kawasan.
“Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri,” katanya.
Meski tengah bersinergi secara internasional Evvy mengingatkan bahwa Indonesia tetap perlu memperkuat kemampuan produksi di dalam negeri. Salah satu langkah yang dinilai krusial adalah ketersediaan fasilitas pilot plant atau pabrik percontohan.
Ia berpendapat Indonesia tidak harus langsung membangun fasilitas berskala raksasa. Kehadiran pabrik percontohan sudah cukup untuk menjembatani hasil riset material menuju tahap industrialisasi yang lebih besar.
“Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana,” ujarnya.
Upaya ini dipandang sangat penting agar Indonesia mampu bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen sel baterai mandiri. Dengan potensi pasar kendaraan listrik yang terus meningkat di ASEAN kolaborasi ini diharapkan mampu membawa kawasan tersebut menjadi pemain kunci dalam industri otomotif global.