-
Teknik pengereman ideal butuh proporsi 60 persen rem depan dan 40 persen rem belakang.
-
Latihan slalom tingkatkan koordinasi tubuh dan kemudi untuk manuver sigap hindari rintangan mendadak.
-
Balancing sangat ampuh jaga keseimbangan motor saat macet tanpa perlu sering menurunkan kaki.
2. Slalom (Manuver Menghindar Cepat)
Teknik slalom seringkali dianggap sekadar atraksi kelincahan, padahal ini adalah simulasi nyata untuk menghindari rintangan mendadak (seperti jalan berlubang atau hewan menyeberang) tanpa harus berhenti total.
Teknik ini dilakukan dengan melintasi rute zig-zag berbelok-belok tanpa menyentuh garis pembatas dan tanpa menurunkan kaki ke aspal.
Penguasaan slalom menuntut koordinasi akurat antara pergerakan kemudi, kelenturan tubuh (leaning), bukaan gas, dan ritme pengereman yang halus. Pada kecepatan rendah, posisi tubuh umumnya berlawanan arah dengan kemiringan motor (lean out) untuk menjaga agar stabilitas bodi kendaraan tetap seimbang.
3. Balancing (Keseimbangan di Kecepatan Super Rendah)
Bagi pengendara yang sering melewati jalur macet parah, teknik ini adalah penyelamat dari rasa pegal karena harus terus-menerus menurunkan kaki menapak ke aspal.
Balancing melatih kemampuan pengendara menjaga kestabilan sepeda motor di kecepatan jalan merayap.
Metode yang umum digunakan untuk melatihnya adalah melewati lintasan papan sempit (Narrow Plank) atau jalan bergelombang selama mungkin tanpa ban keluar dari jalur.
Rahasianya terletak pada kombinasi permainan kopling (atau tahanan gas tipis pada motor matic), penggunaan rem belakang untuk menahan laju, serta pergerakan stang (counter balancing).
Semuanya harus dieksekusi dalam posisi lutut yang menjepit rapat bodi motor.
Tiga teknik dasar yang sangat krusial ini juga terus dikampanyekan secara profesional ke berbagai lapisan masyarakat.

Salah satunya diwujudkan oleh Astra Motor Safety Riding Center Yogyakarta yang memberikan edukasi keselamatan berkendara kepada 45 mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Rabu, 26 Agustus 2026 lalu.
Para mahasiswa diajak untuk tidak sekadar memahami teori keselamatan, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik braking, slalom, dan balancing di lapangan.
"Melalui edukasi ini, sebagai langkah sinergi bagi negeri kami berharap para mahasiswa calon pendidik ini dapat menjadi duta keselamatan yang aktif membagikan ilmu serta menanamkan kesadaran berkendara yang aman kepada generasi berikutnya," ujar Marketing Manager Astra Motor Yogyakarta Julius Armando.
Edukasi sejak dini merupakan pondasi penting untuk membangun budaya keselamatan berlalu lintas yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan program safety riding, diharapkan semakin banyak generasi muda yang menyadari bahwa keselamatan bukan sekadar tentang keterampilan mengemudi, melainkan tanggung jawab bersama dalam menciptakan kondisi lalu lintas yang lebih aman.
Astra Motor Yogyakarta berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan edukasi keselamatan berkendara kepada berbagai kalangan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya nyata perusahaan dalam mengampanyekan #Cari_Aman dan mewujudkan budaya berkendara yang positif bagi seluruh lapisan masyarakat.