- Kepala CATL Robin Zeng memperingatkan potensi masalah kualitas baterai di Yibin pada delapan September 2026.
- Peluncuran enam ratus lebih model kendaraan baru di China memangkas waktu pengujian dan pengembangan komponen.
- Persaingan harga ketat dan singkatnya waktu pengembangan memicu kegagalan baterai serta sengketa antarprodusen kendaraan.
Suara.com - Produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia asal China yaitu Contemporary Amperex Technology atau CATL memberikan peringatan serius kepada industri otomotif. Hal ini berkaitan dengan potensi masalah kualitas baterai yang muncul akibat sangat pesatnya peluncuran model kendaraan baru di pasar China.
Kepala CATL Robin Zeng menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam ajang World Power Battery Conference 2026 di Yibin, Provinsi Sichuan. Melansir Carnewschina, terdapat lebih dari 600 model kendaraan baru yang meluncur di China sepanjang tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan rata-rata ada sekitar tiga model baru yang diperkenalkan setiap harinya.
"Percepatan peluncuran kendaraan membuat waktu pengembangan serta pengujian baterai menjadi semakin singkat. Kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah masalah pada baterai tidak terdeteksi sebelum kendaraan diproduksi secara massal," katanya, Selasa (8/9/2026).
Zeng menyebut beberapa produk baterai bahkan telah mengalami kegagalan secara bersamaan. Namun, ia tidak merinci merek mobil maupun produsen baterai spesifik yang mengalami kendala tersebut. Kekhawatiran ini semakin menguat ketika industri kendaraan listrik China menghadapi persaingan harga yang sangat ketat. Produsen dituntut menghadirkan model baru dengan cepat sekaligus menekan biaya produksi termasuk komponen baterai.
Sejumlah kasus terkait kendala baterai sebelumnya memang telah terjadi. Pada Juli 2026, sekitar 213.000 kendaraan GAC Aion dilaporkan terdampak masalah baterai yang dipasok CALB. Saat itu muncul keluhan mengenai baterai yang menggembung serta kehilangan daya secara tiba-tiba.
Selain itu, terdapat sengketa antara anak perusahaan Geely yakni Viridi E-Mobility Technology dengan produsen baterai Sunwoda. Permasalahan tersebut berkaitan dengan dugaan cacat kualitas sel baterai yang dipasok pada periode 2021 hingga 2023.
Melihat perkembangan tersebut, Zeng menilai produsen perlu memastikan proses pengembangan dan pengujian baterai tetap memadai meski tuntutan pasar semakin tinggi. Pasalnya, semakin pendek waktu pengembangan kendaraan, maka semakin besar tantangan bagi produsen untuk menemukan potensi cacat baterai sebelum masuk ke jalur produksi massal.