- Problematika keuangan Gen Z dipaparkan oleh Andhina Ratri dari Bank Jago.
- Masalah keuangan Gen Z dipicu oleh tabungan yang habis demi kebiasaan konsumtif.
- Pemetaan keuangan Gen Z memisahkan kebutuhan harian dan perencanaan dana masa depan.
Suara.com - Fenomena pengelolaan keuangan di kalangan generasi muda menjadi salah satu topik hangat dalam acara Gen Z Impact Fest 2026. Acara ini diisi dengan beberapa panel diskusi dan Talkshow yang dikemas menarik dan sangat insightful.
Pada sesi panel diskusi bertajuk "In This Economy, Cerdas Mengelola Uang dan Mulai Investasi Sejak Muda", materi yang dibawakan oleh Andhina Ratri, Certified Financial Planner dari Bank Jago menyedot perhatian banyak peserta.
Dalam paparannya, Andhina menyoroti fenomena menarik seputar kebiasaan finansial Gen Z saat ini.
Salah satu poin utamanya adalah kecenderungan Gen Z yang kesulitan memetakan keuangan serta membedakan mana yang merupakan kebutuhan hakiki dan mana yang sebatas keinginan belaka.
Nabung demi Wishlist, Bukan Masa Depan
Menurut Andhina, Gen Z bukannya tidak memiliki kesadaran untuk menabung. Namun, pola dan orientasi menabung mereka kerap kali bergeser dari tujuan jangka panjang.
"Gen Z itu menabung bukan untuk keperluan di masa depan, melainkan untuk memenuhi apa yang mereka inginkan saat ini," ungkap Andhina (12/09/2026).
Ia mencontohkan berbagai bentuk alokasi tabungan Gen Z yang lebih mendominasi gaya hidup (lifestyle), seperti membeli tiket konser musisi favorit, rutin membeli kopi kekinian, hingga membeli gadget impian seperti iPhone terbaru.
Alhasil, tabungan yang terkumpul tidak mengendap sebagai aset masa depan atau dana darurat, melainkan langsung habis untuk memenuhi keinginan jangka pendek.
"Genz hidupnya dikendalikan oleh algoritma, jadi dia tidak bisa mengambil keputusan," ungkap Andhina (12/09/2026).
Peta Sederhana Yang Dapat Dipraktikkan Gen Z
Menanggapi tantangan tersebut, Andhina menawarkan sebuah metode pemetaan keuangan yang sistematis agar generasi muda bisa lebih obyektif dalam mengelola pendapatan mereka.
Cara ini dilakukan dengan membagi alokasi finansial yang memisahkan antara Kebutuhan dan Keinginan, serta membedakan rentang waktunya antara “Sekarang” dan “Nanti”.
Ia mencontohkan berbagai alokasi tabungan yang kini didominasi oleh gaya hidup FOMO (Fear Of Missing Out).
Alhasil, uang yang telah terkumpul tidak terakumulasi menjadi target jangka panjang atau dana darurat, melainkan langsung habis untuk memenuhi hasrat belanja jangka pendek.
Melalui ini, pengeluaran pokok seperti biaya makan harian, sewa tempat tinggal, hingga tagihan bulanan dikategorikan sebagai kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi sekarang.
Sementara itu, dana pensiun, aset investasi, maupun dana pendidikan masa depan masuk ke dalam kategori kebutuhan yang perlu direncanakan untuk nanti.
“Kita tidak fotosintesis,” celetuk Andhina memecah suasana (12/09/2026).
Gen Z diarahkan kepada kegiatan menabung untuk dana pensiun dan mempersiapkan dana darurat yang tidak disangka datangnya.
Hal ini menjadi satu hal yang menohok di tengah label “Generasi Strawberry” yang dilekatkan pada Gen Z dan dengan realita yang ada.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah