Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kota Makassar dan sekitarnya memicu lonjakan harga di tingkat pengecer hingga menyentuh Rp35.000 per botol besar. Warga terpaksa mengantre hingga dua jam di SPBU, sementara pedagang eceran harus berburu pasokan sejak dini hari demi menyambung mata pencarian.
Lonjakan Harga Pertalite Eceran dan Antrean Mengular di SPBU
Suara.com - Kondisi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) melanda wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menyebabkan gangguan pada mobilitas harian warga.
Di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU, yaitu tempat pengisian bahan bakar resmi dari Pertamina), seperti di Jalan Andi Pangeran Pettarani, deretan kendaraan pribadi hingga truk besar mengantre sejak subuh.
Waktu tunggu di SPBU tersebut mencapai 1,5 hingga 2 jam karena panjangnya barisan kendaraan yang bahkan sampai menutupi sebagian badan jalan.
Imbas dari terbatasnya pasokan BBM di SPBU membuat harga jual di tingkat pengecer meroket tajam.
Pertalite eceran yang biasanya dijual seharga Rp15.000 untuk ukuran botol besar air mineral, kini melonjak hingga Rp35.000 per botol.
Sementara itu, untuk botol ukuran sedang, harganya dipatok sekitar Rp25.000. Fenomena kenaikan harga ini juga terjadi pada mesin pengisi ulang BBM mandiri (atau dikenal sebagai pertamini), di mana harga Pertalite dijual antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter.
Di kawasan Jalan Minasa Upa, antrean kendaraan yang ingin membeli BBM di mesin mandiri ini meluber ke jalan dan memicu kemacetan lalu lintas dari sore hingga malam.
Dampak Bagi Aktivitas Warga dan Perjuangan Pedagang Eceran
![Mulai 19 April 2026 SPBU Pertamina mulai mencantumkan besaran subsidi pemerintah di setiap struk pembelian Pertalite. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/21/66478-harga-pertalite.jpg)
Kenaikan harga yang sangat drastis ini terpaksa diterima oleh sebagian masyarakat demi menghemat waktu.
Sejumlah media mengabarkan bahwa warga sekitar sampai lebih memilih membeli BBM eceran yang mahal dibandingkan harus membuang waktu mengantre berjam-jam di SPBU.
Menurutnya, kelangkaan ini sangat mengganggu berbagai aktivitas harian seperti mengantar anak ke sekolah, bekerja di luar kantor, hingga bersilaturahmi.
Di sisi lain, para pedagang eceran menaikkan harga jual karena kesulitan dan besarnya usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan pasokan BBM.
Pengorbanan waktu ini ia lakukan demi menjaga kelangsungan mata pencarian sebagai pedagang kecil.
Faktor Penyebab Kelangkaan dan Langkah Penegakan Hukum
Terjadinya lonjakan permintaan terhadap Pertalite ini dipengaruhi oleh beberapa faktor di lapangan.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas, yaitu lembaga pemerintah yang mengawasi penyediaan dan distribusi BBM nasional) mencatat adanya peningkatan konsumsi Pertalite dari masyarakat setelah terjadinya kenaikan harga pada BBM non-subsidi.
Selain tingginya tingkat konsumsi, aparat kepolisian setempat juga menemukan adanya indikasi tindak pidana penyalahgunaan BBM.
Pihak kepolisian di Sulawesi Selatan bergerak cepat dengan menangkap 17 tersangka kasus penimbunan BBM bersubsidi dan menyita barang bukti hampir mencapai 19.000 liter bahan bakar.
Penindakan hukum ini diharapkan dapat mengurai simpul kelangkaan agar pasokan BBM dapat kembali tersalurkan secara lancar kepada masyarakat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Berapa harga Pertalite eceran tertinggi yang dijual di Makassar saat kelangkaan?
A: Harga Pertalite eceran di Makassar untuk kemasan botol besar air mineral melonjak hingga Rp35.000, sedangkan kemasan botol sedang dijual sekitar Rp25.000.
Q: Mengapa masyarakat rela membeli Pertalite eceran dengan harga mahal?
A: Sebagian warga memilih membeli BBM eceran yang lebih mahal untuk menghindari antrean panjang di SPBU yang bisa memakan waktu hingga dua jam.
Q: Langkah apa yang dilakukan pihak kepolisian mengatasi kelangkaan BBM di Sulsel?
A: Kepolisian membekuk 17 tersangka kasus penimbunan BBM bersubsidi di Sulawesi Selatan serta menyita barang bukti hampir 19.000 liter bahan bakar.